Adakah Engkau, Tuhan?!


Foto: media.tumblr.com

Foto: media.tumblr.com

Tak Kukira, hempasan angin di sini begitu kencang. Tampaknya kecepatannya mampu menghempaskan kertas yang beratnya 100 gram, hingga terbang di antara langit dan bumi. Di kejauhan sana, kerlap-kerlip lampu yang terpancar dari gedung-gedung di Kota Kembang, tampak indah. Meskipun acak, tetapi tak kalah indahnya dengan bintang yang berkerlap-kerlip di langit nan jauh di sana. Di tempat yang katanya Tuhan berada.

Aku coba memberanikan diri melihat ke bawah. Tepat ke tempat yang jaraknya 20 lantai di bawahku. Takut akan ketinggian, membuat diri ini mendadak pusing. Tangan ini sebisa mungkin berpegangan pada pinggiran gedung, agar tak terpeleset tentunya.

Sebisa mungkin, diri ini tetap tenang, meskipun rasa takut akan ketinggian membuat diri ini terus bergetar tak kuasa diri. Perlahan aku mulai mendekati tepian gedung, kemudian perlahan pula aku melepaskan pegangan dan mencoba berdiri, berdiri, hingga tubuhku mampu berdiri tegak.

Aku mulai mengambil ancang-ancang perlahan dan bersiap melompat. Sejenak kembali aku menarik nafas dan kembali mencoba menenangkan diri, memejamkan mata seraya dalam hati berkata, “Tuhan, bila Kau memang benar ada, tubuh ini pasti selamat.”

“Apa yang akan kamu lakukan, wahai anak muda?!” sebuah suara tiba-tiba berteriak di sampingku. Ketika ku tengok, seorang tua yang entah dari mana datangnya, duduk 10 meter di samping kananku. Bercelana hitam yang panjangnya satu depa melebihi lututnya dengan variasi tambalan di beberapa titik. Kaosnya berwarna krem dan penuh noda debu, dengan variasi tambalan yang tak kalah banyaknya dengan celananya. Bila dilihat sekilas, kakek ini mirip pengemis.

Namun, bila diamati lebih detail, wajahnya tampak bersih. Janggut putih sepanjang 10 sentimeter, tergantung-gantung di bawah bibirnya yang merah dan tampak segar. Matanya tajam, dan wajahnya cerah yang dilatari oleh rambut putihnya yang panjangnya hingga di pundak.

“Aku hendak loncat, Pak Tua,” jawabku.

“Mengakhiri hidupmu?” tanyanya lagi.

“Bukan. Aku mencari Tuhan.”

Foto: writetojoncook.wordpress.com

“Mencari Tuhan?” tanyanya penuh keheranan. “Mengapa harus dengan loncat dari gedung berlantai 20 ini?” sambungnya.

“Bila Dia ada, aku pasti tak akan mati setibanya di bawah. Aku ingin lihat, apakah Tuhan mampu menyelamatkan aku dari ketinggian,” timpalku.

“Bila kau ternyata mati dengan tubuh berceceran di bawah?”

“Berarti Tuhan tidak ada,” simpulku.

Mendengar jawabanku, orang tua itu kemudian tertawa terbahak-bahak puas. Seperti telah selesai mendengarkan humor terlucu yang pernah ada.

“Dasar anak muda. Tidak pernah mau bersabar,” komentarnya.

“Bersabar? Bersabar seperti apa?” tanyaku balik bertanya dengan penuh keheranan.

“Pencarian Tuhan itu proses, tidak sebentar, dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan seseorang baru bisa mengetahui siapa Tuhan setelah melalui waktu setengah abad,” jawabnya panjang.

“Ibrahim saja bisa menemukan Tuhan dengan cepat, kenapa aku tidak?!” argumenku tak mau kalah yang dikomentari dengan tawa kembali.

“Mengapa kau tertawa seperti aku ini sebuah lelucon bagimu,” sambarku yang mulai jengkel dengan sikapnya.

“Anak muda, kamu terlalu banyak berpikir dengan logika. Logikamu itu hanya menipumu, dan semakin menjauhkanmu dari Tuhan,” jawabnya.

“Lantas, buat apa manusia dianugerahi pikiran dan logika bila itu hanya menjauhkan manusia dari Tuhan?” kembali aku bertanya yang disambut dengan cekikikan halus orang tua itu.

“Anak muda, Tuhan ingin menguji dan menempa manusia. Lihatlah dirimu sendiri, pahamilah dirimu sendiri. Kau tidak hanya dilengkapi dengan logika, tetapi juga perasaan.”

“Perasaan? Maksudnya?” tanyaku singkat.

“Logika hanya memikirkan apa yang ada dan mampu dia terjemahkan dari panca indera. Sedangkan yang tidak ada dan tak terjangkau, tidak akan pernah mampu logika petakan.”

“Pernah dengar cerita 3 orang buta memegang gajah?” orang tua itu balik bertanya kepadaku.

“Belum,” jawabku singkat.

Foto: johnlund.com

“Tiga orang buta memegang gajah di 3 tempat berbeda. Satu orang buta memegang di ekornya, satu orang buta memegang kakinya, dan satu orang lainnya memegang telinganya.”

“Orang buta yang memegang ekornya mengira bahwa gajah itu panjang seperti ular. Sedangkan yang memegang kakinya mengira gajah itu panjang dan besar seperti pohon kelapa. Dan yang memegang telinganya mengira bahwa gajah itu tipis seperti tutup panci,” orang tua itu menjelaskan panjang lebar.

“Itulah logika,” lanjut bapak tua itu. “Dia hanya mampu memikirkan dan mengira apa yang terjangkau oleh indera manusia. Dan yang tidak terjangkau, memang tidak akan pernah ada dalam logika.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menemukan Tuhan?” potongku yang kembali disambut tawanya.

“Dasar anak muda, tidak pernah mau bersabar,” komentarnya. “Manusia dilengkapi dengan hati nurani yang merasa. Gunakanlah itu untuk mencari Tuhanmu. Dekatilah Dia dengan cinta,” nasihatnya.

“Bagaimana caranya?” tanyaku yang kali ini dihinggapi kebingungan.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya,” nasihatnya mengambil cuilan Al Baqarah.

“Yakinilah bahwa kamu akan menemui Tuhanmu, dan yakinilah bahwa kamu akan kembali kepada Tuhanmu,” tegasnya.

Aku termenung diam. Memperhatikan kerlip lampu yang mulai berkurang karena malam semakin larut, dan manusia mulai beristirahat dan memadamkan penerangannya. Yah, kini aku sadari, bahwa aku kurang bersabar untuk menemukan Tuhan. Menemukan sosok yang selalu dipertanyakan manusia dari masa ke masa.

Foto: blogspot.com

“Bukankah Tuhan ada?” tanyanya balik. Kutengok kembali wajahnya, dan dia tersenyum bijak padaku.

“Bukankah Tuhan itu ada? Karena Dia menyelamatkanmu dari usahamu untuk menerjunkan diri,” ucapnya yang membuatku terhenyak sadar.

“Lihatlah gunung di utara itu,” perintahnya kembali yang dibarengi tengokan kepalaku ke arah yang ditujunya. “Berjalanlah ke sana, ikuti langkah kakimu pergi, dan kau akan menemukan jawaban lainnya tentang Tuhan,” usulnya.

“Jawaban apa?” tanyaku. Kini, orang tua itu tak terdengar jawabannya, bahkan tak terdengar suaranya. Ketika ku tengok, tidak ada seorang pun di sampingku, di tempat orang tua tadi duduk dan berbincang-bincang padaku. Orang tua itu telah menghilang entah kemana.

Kini tinggal diriku seorang. Aku dan Tuhanku. Dalam hati ini, aku berbisik, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang sabar dan khusyuk, yang meyakini keberadaan-Mu dan meyakini akan kembali kepada-Mu. Pertemukan aku dengan-Mu dan ajari aku tentang-Mu.”

5 thoughts on “Adakah Engkau, Tuhan?!

  1. pasadhi berkata:

    Hati atau heart berada di otak kita, bukan di sisi kanan pada bahasa biologisnya umumnya. ngga eksis hati atau lever itu mah.

    ‘Hati’ adalah sebutan sederhana dari “weltanschauung” atau semesta berpikir dalam otak. titik!

    Dan luas semesta berpikir kita tergantung dari seberapa banyak kita berikan muatan-muatan pengetahuan berharga tentang kehidupan dan alam semesta ke dalam otak kita.

    Kalau yang kita masukan dalam otak kita hanya pemikiran idealis manusia-manusia arab abad 7-10 M yang menyukai warna HIJAU, maka demikianlah kita memandang semesta selalu nampak kehijauan.

    Semua warna yang ada harus jadi hijau. Kalau tidak maka harus diambil tindakan untuk menghijaukannya.

    Kalau yang kita masukan dalam otak kita hanya pemikiran idealis manusia-manusia Yahudi abad 1 M dalam semesta pemikiran Greko-romano yang menyukai merah darah , maka demikianlah kita memandang semesta itu kemerah-merahan. Merah darah penebusan anak domba kurban penebusan dosa.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      wuihihihi. terima kasih atas masukanny, mas Ayick. sedap ini🙂
      saya mau masukin warna pelangi, ah. supaya hidup ini beragam. ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. pokokny gado2, deh. hehehe ^_^

    • Yudha P Sunandar berkata:

      it not real, just fiction.
      yups, stuju. akal tidak mampu mengindera Dia Yang Maha Besar. tapi bukan berarti manusia tidak mampu mengenal-Nya.
      mungkin hadits qudsi berikut ini bisa sedikit menggambarkan tentang hubungan Dia dan hamba-Nya:

      “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku.
      Aku bersamanya ketika berdzikir. Jika dia berdzikir di dalam hatinya, maka Aku mengingatnya di dalam hati-Ku.
      Jika dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah, maka Aku akan mengingatnya di dalam jamaah yang lebih baik dari jamaahnya.
      Jika dia mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta.
      Jika dia mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya selengan.
      Jika dia mendekat pada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.”

      salah satu kesimpulan yang bisa aku ambil, bahwa bila kita ingin mengenal dan mendekat kepada-Nya, Dia pun akan memperkenalkan diri-Nya dan mendekati hamba-Nya. CMIIW. atau mungkin Tiwi punya pendapat lain?

      mungkin Tiwi juga bisa baca postinganku yang lain di sini: https://myudhaps.wordpress.com/2010/10/19/pikirkan-dan-pahamilah-bahwa-tuhan-itu-ada/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s