Dan Dialah Khidhr


Gambar: upload.wikimedia.org

Gambar: upload.wikimedia.org

Ustadz, bisa ceritakan tentang Khidhr?

Apa yang ingin kau tahu tentang dia?

Segala yang bisa Anda ceritakan.

Khidhr adalah seorang hamba Allah. Suatu ketika, Allah menceritakan perihal surat Al Fatihah kepada Khidhr. Khidhr meminta agar Tuhannya itu menceritakan perihal surat yang akan diwahyukan hanya kepada nabi terakhir itu. Namun, Sang Maha Berkehendak tidak mengizinkan. Akhirnya, Khidhr memohon untuk dipanjangkan umurnya hingga bertemu dengan rasul penutup itu, dan Allah pun mengabulkan.

Memang apa keistimewaan surat Al Fatihah, Ustadz?

Al Fatihah merupakan Pembuka surat-surat dalam Alquran. Perlu digarisbawahi bahwa Alfatihah bukanlah Pembukaan, tetapi Pembuka. Artinya, dia membuka surat-surat lainnya dalam Alquran. Al Fatihah juga merupakan intisari dari isi Alquran. Sedangkan intisari Al Fatihah termaktub dalam ucapan Bismillahirahmannirahim.

Saya tak mengerti letak keistimewaannya, Ustadz. Ketika saya baca pun, saya tak ubahnya seperti membaca tulisan biasa.

Yah, itu memang pada batas kata. Ketahuilah, ketika mempelajari Alquran, terdapat 7 lapisan ilmu yang harus ditembus. Ketika membahas tentang kata, istilah, dan penafsiran, itu masih pada lapisan teratas. Ada 6 lapisan lagi yang harus ditembus untuk mampu mengenal Alquran. Dan lapisan ini umumnya dipelajari dalam tasawuf. Itu pun tidak bisa sebentar. Guru dari guru saya, mengajarkan Al Fatihah hingga 7 tahun lamanya. Ada yang lebih dahsyat lagi. Teman saya belajar Al Fatihah hingga 13 tahun lamanya. Itu pun tidak tamat dan belum mengerti seluruhnya.

Lalu, apakah Khidhr akhirnya bertemu dengan Rasulullah Muhammad, Ustadz?

Diriwayatkan akhirnya Khidhr memang belajar Al Fatihah kepada Rasulullah SAW.

Setelah itu, apakah dia meninggal?

Muhammad akhirnya menitipkan umatnya kepada Khidhr. Ketika itu, rasul memohon agar Khidhr dipanjangkan umurnya hingga akhir zaman kelak, dan Allah pun mengabulkan permohonan Muhammad.

Foto: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Foto: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Memang bentuk “penitipan umat” itu seperti apa, Ustadz?

Khidhr mengajarkan Islam kepada pemikir-pemikir Islam. Bagaimana pun, setiap seratus tahun, akan ada seorang pembaharu di dunia Islam, dan umumnya Khidhr yang mengajarkan keIslaman kepada sang pembaru tersebut. Salah satunya adalah Iman At Tirmizi. Diriwayatkan bahwa Iman At Tirmizi suatu ketika berniat untuk menimba ilmu dan meninggalkan ibunya seorang diri. “Apakah kamu tega meninggalkan ibumu yang sudah tua ini seorang diri?” tanya ibu At Tirmizi. Akhirnya, At Timirzi mengurungkan niatnya dan menjaga ibunya hingga akhir hayat sang bunda. Di pusaran ibunya, At Timirzi menangis. Dia menyesal karena telah melewatkan banyak waktu untuk belajar agama. Teman-teman sepengajaran dengannya, telah memiliki ilmu jauh di atasnya.

“Mengapa kau menangis, nak?” tanya seorang bapak tua datang tiba-tiba. “Aku telah melewatkan kesempatanku untuk belajar agama demi menjaga ibuku hingga beliau wafat,” jawab At Tirmizi. “Bagaimana bila kamu belajar agama pada saya?” tawar sang bapak tua. At Tirmizi menerima tawaran tersebut.

Singkat cerita, At Tirmizi belajar giat kepada bapak tua tersebut. Bahkan, ilmu At Tirmizi melampaui rekan-rekannya yang belajar terlebih dahulu. Setelah bapak tua itu menurunkan ilmunya kepada At Tirmizi, dia memberitahukan identitas sebenarnya. “Akulah Khidhr,” ungkap bapak tua tersebut.

Pada riwayat lainnya, beberapa kitab-kitab yang ditulis At Tirmizi pun diminta oleh Khidhr. Suatu ketika, At Tirmizi meminta seorang muridnya untuk melemparkan beberapa kitab ke sungai. Sang murid kaget dan merasa sayang dengan kitab-kitab tersebut. Bagaimana pun, kitab-kitab yang hendak dilemparkan ke sungai itu adalah kitab-kitab yang sangat bagus isinya. Mempertimbangkan hal ini, akhirnya sang murid mengurungkan niatnya untuk memenuhi perintah gurunya, At Tirmizi.

Ketika kembali menghadap At Tirmizi, sang murid ditanya, “Sudah kah kamu melemparkan kitab-kitab itu ke sungai?”
“Sudah, guru.”
“Apa yang terjadi?”
“Kitab-kitab itu tenggelam ke dasar sungai.”
“Kamu bohong,” tandas At Tirmizi dan menyuruh sang murid melakukan perintahnya.

Dengan wajah kesal, akhirnya sang murid melemparkan kitab-kitab gurunya ke sungai. Bukannya tenggelam, kitab-kitab yang ditulis At Tirmizi kemudian ditarik oleh sekelompok ikan ke dasar sungai. Sang murid terpengarah dan cepat-cepat melaporkan hal ini ke gurunya. “Itulah kitab-kitab yang diminta Khidhr kembali,” jawab At Tirmizi.

Foto: flickr.com/photos/vlad_123

Foto: flickr.com/photos/vlad_123

Bagaimana saat ini, Ustadz? Apakah ada orang-orang yang pernah bertemu Khidhr?

Memang banyak orang-orang yang ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu dengan Khidhr. Pernah diriwayatkan seorang kyai di Arab sedang berceramah di hadapan murid-muridnya. Kemudian, seorang bapaktua datang kepadanya di tengah-tengah majelis. Dengan sigap kyai itu menyambut kedatangan bapak tua berpakaian lusuh itu bagai menyambut kedatangan seorang raja. Kemudian sang kyai meninggalkan majelisnya dan mengobrol-ngobrol dengan bapak tua itu di ruangan pribadinya.

Selang beberapa lama kemudian, setelah bapak tua itu pergi, sang kyai kembali ke majelis dan duduk di tempat yang sempat ditinggalkannya tadi. “Kalian tahu siapa tadi?” tanya kyai. Semua murid-muridnya saling memandang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itulah Khidhr,” lanjut sang kyai.

Keren, Ustadz. Saya juga ingin bertemu Khidhr.

Tak usah.

Kenapa, Ustadz? Kok tidak usah?

Bertemu Khidhr itu bukan tujuan utama kita dalam berkehidupan. Tujuan kita harus satu, yaitu Allah semata. Bertemu Khidhr hanyalah pernah-pernik kehidupan saja. Bila memang dikehendaki oleh Allah bertemu, yah itu salah satu nikmat Allah. Bila tidak, juga bukan sebuah musibah bagi kita. Sekali lagi, tujuan kita adalah Allah. Camkan itu.

4 thoughts on “Dan Dialah Khidhr

    • Yudha P Sunandar berkata:

      yups, yg umum dketahui orang2 memang tentang cerita Khidhr di Alquran yang berjumpa dengan Musa. tapi, banyak hal yang lainnya yang bisa digali dari kitab2 lainnya.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      saya belum mengecek kedalaman perihal cerita di atas. saya hanya menyarikan dari apa yang ustadz saya sampaikan.
      Salam Ukhuwah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s