Membangun Masyarakat Madani Melalui Jurnalisme Warga Berbasis Masjid


Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Selain sebagai tempat ibadah, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, masjid juga berguna sebagai tempat aktivitas masyarakat, seperti berbisnis, kegiatan belajar-mengajar, tempat musyawarah, bahkan hingga menyusun strategi perang. Masjid merupakan tempat berinteraksinya orang-orang. Tak heran, pada akhirnya masjid menjadi pusat peradaban masyarakat Islam, karena semua hal berawal dari masjid.

Sejalan dengan waktu, peran masjid dalam memajukan peradaban masyarakat, lambat laun memudar. Semua urusan keduniawian berangsur-angsur bergeser ke istana, dan masjid hanya diperuntukan untuk ibadah semata.

Hal ini juga terjadi di Indonesia, khususnya di kerajaan Islam Jawa. Masjid terpisah dari bangunan istana. Istana dilambangkan sebagai pusat peradaban manusia, dan masjid adalah bagian dari unsur Ketuhanan. Sehingga masjid hanya memiliki fungsi sekunder, yaitu alat untuk melegitimasi kekuasaan (cmmi.or.id).

Dengan bergesernya fungsi masjid ini, menyebabkan degradasi kemampuan pengelola masjid. Pengelola masjid akhirnya hanya memiliki kemampuan seputar cara beribadah dan urusan agama semata. Sehingga, masjid seringkali tidak memiliki kontribusi dalam bidang sosial secara nyata pada masyarakat.

Survei yang pernah dilakukan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) sebuah koran nasional pada 2009, menyebutkan 81,4 persen responden menilai aktivitas di masjid kurang menarik dan 18,6 persen menilai sebaliknya. Mengenai kemampuan pengelola masjid, sebanyak 53,2 persen responden menilai pengelola masjid memiliki kecakapan dan kreativitas untuk mengelola masjid, dan 46,8 persen menilai sebaliknya.

Meskipun pengelola masjid memiliki kemampuan pengelolaan yang memadai, tetapi jumlah ini tidak berbanding lurus dengan penilaian responden mengenai aktivitas yang menarik di masjid (53,2 persen : 18,6 persen).

Kesimpulan survei tersebut, responden mengharapkan masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga dikembalikan fungsinya sebagai pusat peradaban manusia.

Di sisi lain, masalah ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat masyarakat bawah, semakin kompleks. Tingkat kesejahteraan masyarakat menurun yang menyebabkan runtutan penyakit sosial yang semakin meluas. Pemerintah tampaknya terlalu sibuk dengan urusan-urusan politiknya. Media massa pun memiliki jangkauan terbatas, sehingga tidak mampu mengangkat banyak kasus ketidakadilan sosial di masyarakat.

Masyarakat sudah harus menghilangkan ketergantungan terhadap pemerintah dan pihak lainnya jika ingin maju. Mereka harus mampu memberdayakan diri untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dalam hal ini, masjid harus mampu berperan untuk mengelola isu di masyarakat dan bersama-sama mencari solusinya. Aktivis, ulama, dan pengelola masjid harus mampu mengisi peran negara pada tingkat akar rumput (grass root).

Solusi ini bukan dalam bentuk lisan melalui ajakan-ajakan dalam ceramah keagamaan yang hanya sebatas wacana semata. Bagaimana pun, ceramah-ceramah di masjid mengenai masyarakat madani, sedalam dan sedetil apa pun, tanpa tindakan nyata, tidak akan pernah berarti. Masjid harus bergerak secara nyata untuk membuahkan solusi, tidak hanya wacana.  Masyarakat butuh langkah konkret dari aktivis, ulama, dan pengelola masjid.

Literacy 4 Concept

Literacy 4 Concept

Budhiana, ketua Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) Yayasan Pembinaan Masjid (YPM) Salman ITB memaparkan bahwa ulama, aktivis, dan pengelola masjid, idealnya memiliki 4 literasi, yaitu: budaya (culture literacy), media (media literacy), teknologi informasi (information technology literacy), dan jejaring (network literacy).

Literasi budaya mengharuskan masjid paham terhadap isu-isu lokal yang terjadi di lingkungannya. Masjid harus mampu mengenal masyarakat, termasuk budaya, keadaan sosial, dan karakteristik masyarakatnya.

Literasi media merujuk pada pemahaman dan kemampuan pengelola masjid  terhadap media. Hal ini mencakup membuat tulisan, membuat dan mengelola media sendiri, dan menumbuhkan budaya berbagi.

Sedangkan literasi teknologi informasi merujuk pada pemahaman pengelola masjid untuk mampu menggunakan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi yang baik, akan membawa dampak positif terhadap penggunanya. Misalnya saja, pesan-pesan kebaikan yang disampaikan memiliki jangkauan yang luas dengan biaya yang minim. Salah satu contoh bentuk pemahaman terhadap teknologi informasi adalah kemampuan mengelola situs web dan sosial media seperti Facebook dan Twitter.

Terakhir, literasi jejaring yang mensyaratkan masjid memiliki komunitas yang luas, baik sesama masjid maupun komunitas lain yang ada di masyarakat. Akan lebih baik lagi, bila masjid-masjid ini memiliki komunitas untuk berbagi berbagai informasi yang dimilikinya.

Lalu, bagaimana masjid mengimplementasikan keempat literasi ini? Secara berkala, masjid mengangkat masalah-masalah di lingkungannya ke media miliknya. Masalah ini tidak hanya diangkat dalam situs web yang dimiliki masjid, tetapi juga disebarkan melalui sosial media seperti Facebook dan Twitter.

Melalui jejaring komunitas masjid yang telah terbentuk, masalah ini kemudian dicari solusi pemecahannya. Solusi semaksimal mungkin memberdayakan masyarakat sekitar masjid-masjid yang berjejaring ini.

Foto: fachrylatief.blogspot.com

Foto: fachrylatief.blogspot.com

Misalnya saja, sebuah kampung di Bandung mengalami angka putus sekolah yang tinggi. Anak-anak di kampung tersebut paling tinggi hanya sekolah hingga bangku SMP. Hal ini ditenggarai oleh biaya pendidikan yang tinggi dan rendahnya penghasilan masyarakat di kampung tersebut.

Menggunakan konsep 4 literasi tersebut, masjid mengangkat masalah ini ke situs web yang dimilikinya serta menyebarkannya ke sosial media dan komunitas masjid. Masjid-masjid lainnya yang masyarakat sekitarnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dengan latar belakang ekonomi yang lebih mapan, menggalang solusi pemecahan masalah. Misalnya, dengan mengirimkan aktivis masjidnya untuk membuka Home Schooling di kampung tersebut.

Contoh solusi lainnya adalah masjid yang mapan secara ekonomi mengirimkan entrepreneur guna memberdayakan potensi ekonomi lokal di kampung tersebut. Sehingga hasilnya bisa digunakan untuk pengembangan ekonomi lokal kampung yang bermasalah.

Konsep ini merupakan cerminan dari aktivis, ulama, dan pengelola masjid yang bertanggung jawab terhadap perbaikan sosial masyarakat secara nyata. Dalam jangka panjang, konsep ini bisa membentuk masyarakat madani di Indonesia. Selain itu, fungsi masjid sebagai pusat peradaban, bisa tercapai.

Dimuat di rubrik Opini kolom Jejaring Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung pada Senin, 16 Mei 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s