Berkarya dengan Hati


Foto: reflectionsofheart.wordpress.com

Foto: reflectionsofheart.wordpress.com

“Start from heart,” tutur kang Budhiana ketika sedang membahas pengembangan Salman Media. Menurutnya, metode Memulai dari Hati ini dilakoni ketika Mark Zuckerberg mendirikan Facebook. Hal yang sama dilakukan juga oleh Larry Page dan Sergey Brin saat mendirikan Google di awal milenium ketiga ini. Lalu, apakah yang dimaksud dengan “Memulai dari Hati”?

Ketika membangun sesuatu, kang Budhi menandaskan bahwa kita harus memulainya dari hati. Jadikan apa yang akan kita bangun tujuannya untuk membantu orang banyak. Di masa yang akan datang, biasanya hal-hal seperti inilah yang akan menjadi besar.

Contohnya saja dengan Mark Zuckerberg. Dia awalnya membuat Facebook untuk membantu teman-teman di kampusnya agar saling terkoneksi satu sama lain. Sehingga pengguna Facebook bisa meningkatkan pengalaman sosialnya melalui jalinan pertemanan di ranah online. Lebih lanjut, di halaman Facebooknya, Zuckerberg menandaskan bahwa dia ingin membantu orang terhubung dan berbagi apa yang penting bagi mereka.

Ketika Facebook dilirik konglomerat yang berminat membelinya, Zuckerberg pun menilai bahwa ini bukan soal uang, tetapi tentang bagaimana menciptakan aliran informasi yang terbuka untuk orang-orang. Untuk mengatasi pembiayaan pun, Zuckerberg menandaskan bahwa Facebook menghasilkan cukup uang, tidak lebih. “Kami menjaga hal-hal berjalan, kami tumbuh pada tingkat yang kami inginkan,” ungkap Zuckerberg yang dikutip dari Wired.com.

Kami menyebutnya tujuan yang datang dari hati. Sehingga tak heran akhirnya Facebook tumbuh besar, besar, dan semakin besar. Hingga akhirnya Zuckerberg memiliki kekayaan bersih hingga 6,9 Milyar Dollar Amerika pada 2010.

Hal yang sama datang dari kedua pendiri Google, yaitu Larry Page dan Sergey Brin. Mereka berdua awalnya memiliki ketertarikan terhadap mesin pencari ketika menjadi mahasiswa Ph.D di jurusan Ilmu Komputer Stanford University. Hingga akhirnya ketertarikan tersebut mereka wujudkan dengan mengembangkan mesin pencari menggunakan metode PageRank. Dengan menyewa sebuah garasi di California, pada 1998 mereka mulai menjalankan sebuah perusahaan mesin pencari bernama Google.

Larry Page dan Sergey Brin Foto: Blogspot.com

Sergey Brin dan Larry Page (Foto: Blogspot.com)

Google hadir sebagai mesin pencari yang handal dibandingkan mesin pencari pendahulunya, seperti Yahoo.com dan Altavista.com. Dinilai handal karena mampu menyuguhkan hasil yang cepat dan akurat. Ditambah lagi mesin pencari ini benar-benar memiliki tampilan minimalis serta tanpa iklan. Sehingga benar-benar membuat nyaman pengguna.

Bahkan, karena lebih mengedepankan aspek teknologi dan kenyamanan konsumen, Google hampir mengalami kesulitan keuangan. Google tidak memiliki model bisnis dan tidak berani menaruh iklan di situsnya khawatir memberatkan pengguna.

Untunglah masalah ini akhirnya terpecahkan dengan hadirnya konsep Google Ads di sebelah kanan mesin pencari. Google juga akhirnya banyak mengembangkan berbagai macam perangkat lunak yang ditujukan membantu banyak orang  ketika berselancar di dunia maya. Kembali lagi, kuncinya adalah berkarya menggunakan hati.

Kang Alfahtri Adlin, alumni Salman ITB yang kini menjadi penulis dan editor, menanggapi bahwa metode yang kang Budhi sampaikan telah dilakukan sejak lama oleh para seniman dan sastrawan. Hasilnya dari tujuan berkarya dengan hati disertai konsistensi membangun karya, membuat mereka menjadi besar seiring berjalannya waktu.

Secara istilah, lanjut Kang Al, memang belum ada yang mengistilahkannya. Mungkin istilah “Start from Heart” bisa digunakan untuk merujuk pada hal ini.

Akhirnya saya juga mengerti kenapa saya tidak pernah mampu membuat tulisan yang baik lagi, seperti yang pernah saya lakukan beberapa tahun silam. Tujuan-tujuan saya berkarya tidak lagi berasal dari hati, tetapi sudah terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat praktis dan pragmatis. Saya akhirnya banyak mengandalkan logika untung-rugi dan mengadalkan hati. Wajar saja akhirnya progress saya dalam berkarya malah semakin menurun, bukan naik. Setidaknya, itu yang saya rasakan.

4 thoughts on “Berkarya dengan Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s