Capaian Tertinggi Seorang Jurnalis…


Foto: bwm.org.au

Foto: bwm.org.au

Pernah saya sempat ragu berada di ranah jurnalisme. Pasalnya, seorang ibu yang memiliki anak seorang jurnalis di sebuah media besar nasional di Jakarta, menyampaikan bahwa si anak akan segera berhenti dari media tempat dia bekerja. Alasannya, si anak melihat jenjang karir di bidang jurnalisme sangat pendek dan lama. Sehingga dinilai tidak menjanjikan dan si anak memutuskan untuk mengambil master di bidang media di Eropa.

Saya yang pada waktu itu sempat terguncang “idealisme kejurnalismean”-nya, memilih untuk diam. Jujur saya bingung harus merespon apa selain tersenyum. Di satu sisi saya setuju dengan pendapat si ibu. Namun, di sisi lain, saya merasa bahwa pendapat itu salah besar. Tapi, saya benar-benar belum tahu jawabannya.

Beberapa bulan kemudian, tibalah saya menghadap kembali Sang Pakar. Secara tak sengaja, Sang Pakar waktu itu menerangkan mengenai ranah kerja di bidang jurnalisme. Menurutnya, ranah jurnalisme terbagi dua, yaitu jabatan fungsional dan jabatan struktural.

Jabatan fungsional menghadapkan jurnalis sebagai sosok yang harus terus berkarya, berkarya, dan berkarya. Sehingga orang-orang yang memiliki passion di jabatan fungsional, lebih banyak berada di lapangan dibandingkan di belakang meja. Alasannya, mereka lebih senang meliput dan membuat karya jurnalistik.

Ada juga jabatan struktural. Kalau yang ini, lebih banyak pekerjaan di belakang meja, seperti positioning jurnalis, pengelolaan isu, dan kebijakan. Jabatan struktural inilah yang paling sering orang lihat ketika berada di sebuah media massa. Contoh jabatan struktural adalah redaktur, redaktur pelaksana, dan pemimpin redaksi.

Jabatan tertinggi dalam jabatan struktural kejurnalismean adalah pemimpin redaksi. Sedangkan jabatan paling bawah adalah reporter atau pewarta. Runtutan selanjutnya setelah reporter adalah asisten redaktur, kemudian redaktur, melangkah ke redaktur pelaksana, dan berakhir di pemimpin redaksi.

Karena jenjang karir yang hanya 4 lompatan ini, membuat jenjang karir di bidang jurnalisme memang sangat lama. Sama lamanya seperti yang disampaikan oleh ibu dan anak yang keduanya sama-sama teman saya.

Meskipun begitu, Sang Pakar menegaskan bahwa capaian tertinggi seorang jurnalis bukanlah sebagai pemimpin redaksi. Namun, capaian tertinggi seorang jurnalis adalah seberapa besar karyanya berdampak positif bagi masyarakat.

Salah satu contoh karya jurnalisme yang pernah mengguncang dunia adalah foto bertajuk A vulture Watches a Starving Child. Foto ini diabadikan oleh Kevin Carter pada 1 Maret 1993 di Sudan. Ketika itu, Sudan sedang dilanda krisis pangan lantaran perang yang tak berkesudahan. Hal ini akhirnya membuat sebagian penduduknya mati kelaparan.

A Vulture Watches a Starving Child (Foto: Flickr.com)

A Vulture Watches a Starving Child (Foto: Flickr.com)

Foto ini membuat masyarakat dunia marah dan bergerak untuk mengumpulkan obat-obatan dan makanan guna dikirimkan ke Sudan. Foto ini juga yang akhirnya membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan banyak bantuan kemanusiaannya ke Sudan dan mengintervensi agar konflik segera selesai.

Anak di dalam foto ini akhirnya tewas beberapa menit setelah Carter mencoba mengabadikan momen ini. Carter sendiri sempat mencoba memberikan anak tersebut makanan usai menjepret dan sebelum si anak meninggal. Namun karena kondisinya yang sudah kritis, usaha Carter tidak mampu menolongnya.

Karya ini mendapatkan The prize-Winning Image, sebuah penghargaan tertinggi untuk karya foto jurnalisme. Namun, Carter memilih bunuh diri pada 27 Juli 1994.  Dia depresi berat lantaran merasa bersalah karena tidak mampu menolong anak tersebut.

Terlepas dari Carter bunuh diri atau tidak, tetapi karyanya telah merubah kondisi di Sudan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Karya jurnalisme tertinggi lainnya mengenai WaterGate Scandal yang digawangi oleh 2 orang jurnalis The Washington Post, Bob Woodward dan Carl bernstein. Karena investigasi yang mendalam inilah, presiden Amerika kala itu, Richard Nixon, mundur dari jabatannya pada 8 Agustus 1974. Nixon akhirnya mengakui bahwa dirinya terlibat dalam kasus tersebut.

Itu karya mereka. Bagaimana dengan karya kita? Jawabannya, mari kita berkarya.🙂

2 thoughts on “Capaian Tertinggi Seorang Jurnalis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s