Bangun Masyarakat Madani Melalui Citizen Journalism Berbasis Masjid


Salman Media

Salman Media

Bila ditanya, ke manakah arah gerak Salman Media ke depannya? Kang Budhiana Kartawijaya, ketua Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) YPM Salman ITB yang membawahi langsung Salman Media, memaparkan bahwa media di Salman harus mampu membangun masyarakat. Dalam hal ini, visi utama Salman Media adalah Community Development (pemberdayaan masyarakat).

Bagaimana pun, saat ini sangat sulit mengharapkan pemerintah untuk berbuat banyak untuk rakyatnya. Sedangkan bila menunggu media mainstream besar meliput kesengsaraan rakyat, rasanya mereka sudah tak mampu lagi. Masalah rakyat semakin banyak saja, dan media massa punya keterbatasan jangkauan. Sehingga, sudah saatnya rakyat bergerak dan berbuat untuk kepentingannya sendiri. Mulai mengorganisir dirinya sendiri untuk kesejahteraan dirinya sendiri. Dalam hal ini, citizen journalism-lah motor penggeraknya.

Lalu, bagaimana caranya? Yaitu melalui pembangunan citizen journalism berbasis masjid melalui konsep “Literacy 4. Lebih lanjut, kang Budhi menyatakan bahwa pengurus dan aktivis masjid harus memiliki 4 literasi utama. Keempat literasi itu adalah budaya (culture literacy), media (media literacy), teknologi informasi (Information Technology literacy), dan jaringan (network literacy).

Literasi budaya menekankan pada pengenalan kondisi sosial-budaya di sekitar masjid, termasuk keadaan masyarakatnya. Aktivis dan pengurus masjid dituntut untuk dekat dan berkontribusi terhadap masyarakat. Mengerti apa masalah yang ada dan kenal dekat dengan masyarakat.

Sedangkan literasi media menekankan terhadap kesadaran pengurus dan aktivis masjid untuk mengenal dan mempergunakan media massa. Media massa ini tidak hanya yang bersifat konvensional seperti koran dan buletin serta majalah, tetapi juga media-media sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, dan situs web.

Literacy 4 Concept for Agent of Change by Budhiana Kartawijaya

Literacy 4 Concept for Agent of Change by Budhiana Kartawijaya

Seorang pengurus dan aktivis masjid juga harus memiliki kesadaran tentang teknologi informasi. Bagaimana pun, masyarakat sudah banyak menggunakan teknologi informasi untuk berinteraksi. Bila masih menggunakan cara-cara konvensional, bisa dipastikan pengurus dan aktivis masjid tidak mampu mengikuti laju kebudayaan masyarakat. Pada akhirnya, pesan-pesan kebaikan tidak akan tercapai dengan baik.

Terakhir adalah literasi jaringan. Seorang pengurus dan aktivis masjid harus memiliki jaringan yang luas dan menyebar di mana-mana. Jaringan ini bisa sesama pengurus dan aktivis masjid, aktivis dari sektor lain, maupun orang-orang yang tidak bersinggungan secara langsung dengan masjid.

Untuk mampu membangun masyarakat, seorang aktivis dan pengurus masjid idealnya memiliki keempat literasi tersebut.

Lalu, bagaimana cara mengkombinasikannya? Menurut kang Budhi, seorang aktivis dan pengurus masjid harus memiliki kedekatan budaya dan memahami permasalahan masyarakat sekitarnya. Semua permasalahan masyarakat, sebisa mungkin disampaikan ke media massa menggunakan teknologi informasi, seperti blog, twitter, facebook, maupun situs web. Melalui jaringan masjidlah, permasalahan ini diselesaikan.

Misalnya saja, ada sebuah kampung yang mengalami wabah demam berdarah. Masyarakat di kampung ini misalnya memiliki latar belakang pendidikan dan ekonomi yang kurang baik. Sehingga anggota masyarakat mereka yang terkena demam berdarah, hanya bisa dirawat di rumah seadanya.

Menggunakan konsep “Literacy 4” ini, aktivis dan pengurus masjid menceritakan dan menuliskan kepada publik secara luas tentang peristiwa yang sedang terjadi di kampungnya. Kemudian, jaringan masjid dan masyarakat yang membaca dan memiliki kemampuan lebih, diharapkan mampu dan mau membantu. Misalnya, bila ada masjid yang memiliki relawan di bidang medis, bisa memberikan klinik dan pengobatan gratis ke kampung tersebut. Sehingga masyarakat mampu diberdayakan secara optimal.

Gerakan Air Bersih Lautze.or.id

Gerakan Air Bersih Lautze.or.id

Hal ini pernah saya alami ketika saya menjadi konseptor untuk situs web Lautze.or.id, situs Masjid Lautze II Bandung beberapa waktu silam. Ketika itu, Masjid Lautze II Bandung berencana membuat sumur karena mengalami kesulitan air untuk wudhu dan kebersihan. Di situs Lautze.or.id, kami paparkan mengenai rencana ini juga sejarah panjang usaha Masjid Lautze II Bandung untuk mengadakan air. Kami juga menyebarkan hal ini melalui situs jejaring sosial Facebook.

Hasilnya, dukungan bantuan mulai berdatangan. Dukungan bantuan tidak hanya datang dari wartawan dan masyarakat, tetapi juga dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan lembaga keagamaan lainnya. Dana yang terkumpul pun jauh melampaui dari yang direncanakan semula. Awalnya, estimasi dana hanya 5 juta Rupiah. Namun, yang terkumpul mencapai lebih dari 20 juta Rupiah. Menurut saya, hal ini salah satu contoh dari pengimplementasian konsep “Literacy 4” tadi.

Lalu, bagaimana dengan posisi Salman ITB, khususnya Salman Media? Salman ITB sendiri saya rasa sudah mulai sebagai pionir dalam membuat model media Islam dengan mengembangkan konsep “Literacy 4” ini. Melalui SalmanITB.com sejak 2009, kami mulai mengumpulkan konten-konten bertajuk hyperlocal yang terjadi di sekitar Salman ITB dan Bandung. Kemudian, sejak 2011, kami juga mulai dengan SalmanRadio.com. Juga dengan mengusung hyperlocal, kami mencoba menghadirkan konten-konten yang inspiratif, meaningful, dan touching melalui audio.

Hal yang sedang kami kembangkan saat ini adalah Salman Network. Rencananya Salman Media akan mulai meluncurkan Jaring.SalmanITB.com, sebuah situs yang bertindak sebagai agregator situs dan blog yang memiliki visi yang sama dengan Salman ITB, yaitu mengembangkan masyarakat madani.

SalmanRadio.com

SalmanRadio.com

Melalui Jaring.SalmanITB.com ini, SalmanITB.com dan SalmanRadio.com akan menangkap isu-isu yang dibutuhkan masyarakat melalui tulisan-tulisan yang masuk dari anggota aggreator. Kemudian, SalmanITB.com dan SalmanRadio.com akan meramu isu-isu tersebut beserta solusinya dengan mewawancarai serta menghadirkan pakar di bidangnya.

Contohnya saja dengan isu ulat bulu yang merebak di berbagai daerah di tanah air belakangan ini. SalmanITB.com akan  memperdalam isu ini dengan mewawancarai pakar-pakar di bidang ekologi. Dari hasil pendalaman ini, SalmanRadio.com akan mendatangkan pakar-pakar ini ke studio dan membuat talkshow interaktif tentang isu terkait. Sehingga pendengar dapat berinteraksi dan bertanya langsung melalui layanan Instant Messenger atau Voice Over Internet Protocol (VOIP).

Lebih lanjut, Salman Media juga akan membina hubungan dengan media-media mainstream konvensional seperti media massa cetak dan televisi. Sehingga isu-isu ini mampu diangkat ke ranah publik dan menginspirasi banyak orang untuk berbuat. Jaring.SalmanITB.com ini mudah-mudahan sudah akan digunakan pada akhir April 2011. Mohon doanya.

2 thoughts on “Bangun Masyarakat Madani Melalui Citizen Journalism Berbasis Masjid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s