Akhirnya Salman Radio Menetas


Logo sementara Salman Radio

Logo sementara Salman Radio

Alhamdulillah, setelah digodok dan dipersiapkan sekian lama, Salman Radio muncul juga. Radio ini mulai siaran pada 31 Maret 2011 dengan memanfaatkan jaringan internet sebagai saluran untuk menyiarkan “cuap-cuap” kami. Yups, radio ini berbasiskan online audio streaming.

Ketika kami menggelontorkan bahwa Salman Radio sudah mengudara, banyak orang bertanya frekuensi yang digunakan radio ini. Saya terkadang dengan “seenak udel” menjawab frekuensinya 200 FM. Mendengar jawaban ini, kebanyakan orang bingung. Wajar, wong frekuensi radio cuman ada sampai 108 Mhz. Namun, ke depannya, kami berharap Salman Radio bisa punya frekuensi juga seperti radio pada umumnya.

Membangun dan memelihara sebuah radio ternyata tidak mudah, meskipun hanya radio streaming. Banyak peralatan yang harus disiapkan. Terlebih lagi, untuk membangun radio ini, kami tidak dibekali uang sepeser pun. Kalau pun ada keperluan untuk membeli sesuatu, itu pun kami rogoh dari kantong sendiri.

Beruntung ada beberapa alumni Salman ITB yang berkenan berdonasi di Salman Media. Salah satunya adalah mas Yan Harlan. Beliau mendonasikan 3 unit komputer dan renovasi ruangan untuk ruang redaksi Salman Media. Sebenarnya donasi ini tidak sengaja. Setahun yang lalu, mas Yan berencana mendirikan pusat pengolahan ceramah Salman ITB. Setelah proses pembangunan ruangan selesai, ternyata rencana ini tidak berjalan. Akhirnya ruangan dan komputernya kami minta untuk digunakan oleh Salman Media, dan beliau mengizinkannya.

Aktivitas siaran di Salman Radio

Aktivitas siaran di Salman Radio (Foto: Fery AP)

Donasi lainnya datang dari kang Nanang Abdul Manaf. Beliau beraktivitas di Libya sebelum pecahnya protes terhadap Muamar Khadafi. Ketika tiba di Indonesia, beliau diminta menulis tentang proses evakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) dari Libya. Tulisannya ini dimuat di Pikiran Rakyat Bandung. Honor dari menulis ini, kemudian didonasikan untuk Salman Media. Lumayan, dari honor ini kami bisa membeli mixer dan beberapa perangkat siaran lainnya.

Dalam hal bersiaran, Salman Radio dibantu oleh eBroadcasting Institute dan Zamrud Technology. Melalui pak Hemat Dwi Nuryanto, secara cuma-cuma mereka memberi dukungan berupa situs SalmanRadio.com dan server untuk siaran streaming.

Untuk memulai siaran Salman Radio, sebenarnya saya agak was-was. Pertama, radio bukanlah bidang saya, meskipun bapak dan adik saya adalah penyiar. Kedua, saya khawatir tidak ada orang yang mau membantu. Syukurlah ada Sundari Eko Wati yang mengerti tentang radio dan rela meluangkan waktu dalam hidupnya untuk membangun Salman Radio. Karena belum ada kucuran penghasilan untuk dia, guna mendukung aktivitasnya di Salman Radio, saya membagi dua gaji saya dengan dia. Yah, hitung-hitung diet dan menguruskan badan lagi.

Selain Sundari, teman-teman Salman ITB yang tertarik dengan dunia penyiaran juga mau membantu. Mereka umumnya membantu untuk menjadi penyiar di program-program siaran yang telah kami susun bersama.

Meskipun hanya membantu, tetap saja saya harus memutar otak untuk mencari penghasilan untuk mereka. Bagaimana pun, Salman Radio dan SalmanITB.com inginnya diarahkan menuju media yang profesional. Saya pikir, sebuah media profesional idealnya mampu memberikan penghasilan yang layak untuk orang-orang yang berkarya di dalamnya, dan inilah yang juga harus dilakukan Salman Media.

Karena masih di bawah lembaga yang berbentuk yayasan, model bisnis yang diberlakukan masih hanya sebatas donasi, seperti yang dilakukan wikipedia.org. Namun, ada rencana untuk menjadikan Salman Media sebagai perusahaan. Sehingga kami bisa lebih profesional dan meraup keuntungan untuk pengembangan media ini menjadi lebih baik lagi.

Dari sisi pengelolaan, Salman Radio ternyata sangat berbeda jauh dengan SalmanITB.com. Bila SalmanITB.com cukup dengan tulisan dan tidak menuntut stand by setiap saat di Salman ITB, tetapi tidak dengan Salman Radio.

Situs Salman Radio yang beralamatkan di SalmanRadio.com

Situs Salman Radio yang beralamatkan di SalmanRadio.com

Di Salman Radio, saya dan beberapa teman harus menongkrongi studio dari awal siaran hingga akhir siaran. Kami mulai siaran dari pukul 9 pagi dan berakhir pukul 17 sore. Berarti selama 8 jam kami harus berada di studio.

Meskipun kami bisa melakukan penjadwalan siaran dan menyiarkan rekaman penyiar, tetap saja untuk banyak hal membutuhkan siaran langsung. Terlebih lagi karena radio ini baru, sehingga kami harus banyak menarik pendengar dengan meningkatkan pola interaksi.

Belum lagi, banyak hal yang harus kami produksi. Mulai dari jingle, insert, kumpulan lagu, hingga kumpulan ceramah, menunggu untuk kami buat dan sunting satu per satu. Pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan banyak waktu, tetapi juga Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup banyak.

Pekerjaan yang menantang memang, tetapi mengasyikan. Mohon dukungannya agar Salman Media mampu mengembangkan berbagai media di Salman ITB dan Jawa Barat, terlebih lagi media berbasis masyarakat Islam (media based Islamic citizen).

4 thoughts on “Akhirnya Salman Radio Menetas

  1. Nanang Abdul Manaf berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb,
    Saya mendoakan semoga Salman Radio menjadi media dakwah Islam yang efektif dan menjadi referensi bagi para pendengarnya.

    Insya Allah saya pengen berkunjung, pas sedang ke Bandung. Salam saya untuk para pengelola dan Kang Budhiana, sahabat saya.
    Wassalam

    • Yudha P Sunandar berkata:

      sekarang masih rapat manajemen inti. nanti dirimu juga diundang klo udah rapat yang lebih luas lagi. harap bersabar, yah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s