Bencana, Korban, dan Kurban


Foto: static.onemansblog.com

Foto: static.onemansblog.com

Gempa mengguncang Jepang dengan kekuatan 9 Skala Richter (SR) pada Jumat (11/3) lalu. Gempa ini berpusat di 130 Km sebelah timur Sendai, pulau utama Honshu dengan kedalaman 24,3 Km. Kejadian ini menghasilkan gelombang Tsunami setinggi 10 meter dan menghantam pesisir timur pulau Honshu.

Air laut bercampur lumpur berwarna hitam pekat, menghanyutkan segala yang ada di darat. Mobil, kapal laut, pesawat, dan rumah, berserakan dihempas gelombang bak mainan. Melihat kekuatannya, bencana ini setara dengan gempa di Aceh pada 2004 silam yang mencapai 9,1 Skala Richter.

Meskipun sama, tetapi ada banyak perbedaan signifikan dari segi dampak yang dihasilkan. Salah satunya adalah jumlah korban meninggal. Pada gempa Aceh, lebih dari 250 ribu jiwa tewas akibat tsunami dan gempa. Namun, pada gempa Jepang, korbannya diperkirakan hanya sekitar 18 ribu orang tewas.

Hal lainnya adalah kerusakan fisik yang disebabkan gempa. Pada gempa Aceh, sesaat setelah gempa, banyak bangunan berlantai ambruk seketika. Bahkan, dalam tayangan sebuah televisi berita swasta kala itu, sesaat setelah gempa dan sebelum tsunami datang, orang-orang sibuk mengevakuasi korban yang tertimpa bangunan runtuh akibat gempa.

Namun, hal ini tidak terjadi di Jepang. Meskipun banyak gedung puluhan lantai berdiri, tetapi tak ada satu pun yang roboh secara signifikan. Hal ini karena konstruksi bangunan tahan gempa merupakan keharusan di Jepang.

Foto: us.acidcow.com

Foto: us.acidcow.com

Padahal, secara kebencanaan, gempa di Jepang seharusnya lebih berdampak masif dibandingkan gempa Aceh. Salah satunya adalah jarak ke titik pusat gempa. Titik pusat gempa Aceh berjarak 160 Km dari bibir pantai. Sedangkan gempa Jepang, titik pusatnya hanya berjarak 130 Km dari bibir pantai. Selain itu, kedalaman gempa Jepang hanya 24 Km, sedangkan gempa Aceh sedalam 30 Km.

Fakta lainnya, Tsunami di Jepang mampu menjangkau hingga 24 Km dari bibir pantai. Bandingkan dengan gempa Aceh yang hanya mampu menjangkau 9  Km dari bibir pantai.

Jika  ditelusuri lebih lanjut, ada perbedaan yang sangat mendasar dan penting antara bencana Indonesia dan Jepang, yaitu cara manusianya memperlakukan alam.

Teori Kebudayaan Van Perusen

Dalam teori kebudayaan Van Peursen, perkembangan budaya manusia dibagi menjadi 3 tahap, yaitu mitis, ontologis, dan fungsionalis.

Pada tahapan mitis, manusia menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Manusia merasa bahwa dirinya berada di dalam dan dipengaruhi oleh alam. Hal ini dapat dilihat pada budaya suku Indian di Amerika. Mereka sering menganggap bahwa dirinya adalah penjelmaan dari hewan di sekitarnya.

Foto: hdimages.in

Foto: hdimages.in

Pada tahap ini, manusia kerap memberikan kurban atau sesaji sebagai bentuk penghormatannya kepada alam. Manusia juga membuat norma-norma perlakuan terhadap alam. Sehingga hidupnya selalu selaras dengan alam dan dilindungi oleh alam itu sendiri.

Pada tahap ontologis, manusia mulai mengenal agama dan tidak lagi memberikan kurban. Mereka sudah memandang bahwa  alam merupakan sama-sama makhluk Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Meskipun begitu, manusia sudah mulai menjadikan alam sebagai objek yang bisa dipergunakan untuk mempertahankan hidupnya.

Sedangkan tahapan fungsionalis, manusia sudah jauh dari alam. Bahkan, alam tidak hanya sekedar dijadikan objek, tetapi telah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan manusia agar hidupnya nyaman. Tahap ini ditandai dengan revolusi industri di dunia. Manusia mulai memperlakukan alam dengan mengeksplorasinya secara berlebihan.

Dari teori kebudayaan Van Peursen, memperlihatkan tahapan kemajuan peradaban manusia mengarah kepada kehancuran manusia itu sendiri. Ada hal yang hilang di sini, yaitu kesadaran manusia untuk belajar dari alam dan memperlakukannya dengan baik.

Kurban dan Korban

“Korban” dan “Kurban” sendiri merupakan dua kata yang hampir sama, tetapi sangat berbeda dalam hal makna.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Korban, yang dalam bahasa Inggris berarti victim, bermakna orang atau binatang yang menjadi menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Dengan kata lain, korban adalah pihak yang dirugikan dengan ciri mengalami penderitaan atau bahkan kematian.

mysanantonio.com

mysanantonio.com

Korban juga dalam KBBI bisa bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya. Makna ini didefinisikan dengan kurban. Sehingga makna “Korban” dalam konteks tulisan ini adalah makna yang didefinisikan di paragraf di atas, yaitu pihak yang menderita.

Sedangkan Kurban, yang dalam bahasa Inggris berarti sacrifice, bermakna persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yg disembelih pada hari Lebaran Haji) atau pujaan atau persembahan kepada dewa-dewa.

Makna kurban pun bisa sangat luas. Tidak hanya menyangkut persembahan kepada Tuhan atau dewa-dewa, tetapi juga bersedia mempersembahkan harta, waktu, dan tenaga untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Prof. Dr. Miftah Faridl, seorang ulama besar di Kota Bandung, dalam wawancaranya kepada Salmanitb.com, menuturkan untuk mendapatkan hasil yang baik, manusia harus berkurban. Misalnya saja ketika ujian. Untuk mendapatkan nilai akhir yang baik, seorang mahasiswa harus mengurbankan waktu dan tenaganya untuk belajar. Bagaimana pun, lanjut dosen ITB ini, tidak ada hasil yang baik tanpa pengurbanan.

Ketika manusia telah menjadi korban, besar kemungkinan dia telah meninggalkan semangat berkurban. Bagaimana pun, “Kurban” dan “Korban” adalah hukum sebab-akibat dalam interaksi manusia, baik dengan sesama manusia maupun dengan makhluk lainnya. Ketiadaan pengurbanan, secara otomatis akan menghasilkan korban. Sebaliknya, melalui pengurbanan, manusia bisa menghindari korban.

Kurban Masyarakat Jepang

Gempa bumi lazim mengguncang Jepang. Sekitar 20 persen gempa yang terjadi di dunia, terjadi di negeri Matahari Terbit ini.

Menyadari wilayahnya kerap dilanda gempa, Jepang secara bertahap mulai membangun sistem mitigasi bencana gempa dan tsunami. Inilah bentuk pengurbanan masyarakat Jepang agar tidak menjadi korban. Bahkan sistem ini adalah sistem terbaik yang pernah ada di dunia (Pikiran Rakyat 12/3).

Foto: media.cnbc.com

Foto: media.cnbc.com

Jepang memulainya dengan membangun budaya menghadapi gempa. Pendidikan kebencanaan sudah masuk dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Masyarakat sedini mungkin diberi penyadaran bahwa bencana besar akan datang kapan saja.

Di dekat pintu keluar, masyarakat sudah meyiapkan ransel berisi botol berisi air, makanan kering atau makanan kaleng, obat-obatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, dan beberapa baterai pengganti. Alat-alat penyelamatan gempa pun banyak dijual di toko swalayan.

Secara berkala, segala lapisan masyarakat, termasuk Perdana Menteri Jepang, mengikuti pelatihan simulasi gempa dan tsunami. Setiap 2 kali dalam sebulan, masing-masing kelurahan di Jepang memperingatkan masyarakat tentang bencana besar yang akan datang.

Tindakan yang paling populer adalah pembangunan gedung, rumah, dan jembatan tahan gempa. Bahan yang dipilih adalah material yang bisa bergerak menyesuaikan dengan guncangan gempa seperti kayu, papan, dan alumunium.

Begitu pun dari sisi teknologi, Jepang benar-benar menyiapkan dengan baik. Tidak hanya sistem deteksi dini tsunami yang Jepang kembangkan, tetapi juga sistem peringatan dini gempa (early earthquake warning) sejak 2007.

Takeshi Tonoike, Deputi Direktur Pusat Pemberitaan Bencana dan Keselamatan Nippon Hoso Kyokai (NHK), ketika mengunjungi redaksi Kompas di Jakarta beberapa waktu lalu, menuturkan bahwa stasiun televisinya memiliki 14 helikopter yang siap diterbangkan ketika gempa mengguncang. Bahkan, pihaknya juga memiliki 73 alat pengukur seismik yang dipasang di seluruh wilayah Jepang.

Hasilnya, ketika gempa terjadi, masyarakat Jepang benar-benar siap menghadapi gempa. Mereka melakukan prosedur yang telah dilatih secara berkala sebelumnya. Dengan rapih dan tertib, masyarakat Jepang menuju lapangan terbuka. Mereka menggunakan helm putih yang telah disediakan sebelumnya, guna melindungi kepala dari reruntuhan karena gempa. Ketika proses evakuasi pun, ketertiban ini masih tampak. Masyarakat Jepang tidak panik dan secara teratur masuk ke dalam bis evakuasi satu per satu (detik.com).

Melihat kondisi ini, wajar saja bila Jepang mampu menekan jumlah korban akibat gempa dan tsunami. Mereka berkurban dengan maksimal guna menghadapi bencana gempa dan tsunami yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.

Foto: hanofharmony.com

Foto: hanofharmony.com

Bentuk pengurbanannya pun bervariasi. Mulai dari kesadaran untuk mengikuti simulasi evakuasi gempa, tertib ketika proses evakuasi, hingga upaya pemerintah guna membangun bangunan tahan gempa dan mengembangkan sistem peringatan gempa dan tsunami. Pejabat Jepang juga menahan diri untuk tidak korupsi. Bila terbukti korupsi, para pejabat Jepang akan mengundurkan diri karena merasa malu atas perbuatannya.

Bila kita tengok Indonesia, semangat berkurban ini hampir tidak tampak. Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam keterangannya kepada Pikiran Rakyat Bandung yang dimuat Sabtu (12/3), menuturkan bahwa sistem deteksi tsunami yang digunakan di Indonesia sama dengan yang digunakan di Jepang. Perbedaannya, sistem deteksi tsunami di Jepang jauh lebih efektif dibandingkan dengan sistem yang digunakan di Indonesia.

Di Indonesia, lebih dari 60 persen dari 23 alat pelampung pendeteksi gelombang tsunami, tidak berfungsi. Hal ini diperparah dengan banyaknya alat yang rusak diterjang ombak dan hilangnya suku cadang karena tangan-tangan jahil.

Lebih lanjut, Surono juga menuturkan bahwa sistem mitigasi bencana di Indonesia telah dibuat dalam bentuk panduan dan sudah disebarkan ke seluruh Indonesia. Namun, panduan ini tidak pernah disosialisasikan dan disimulasikan dengan baik. Padahal, sama dengan Jepang, Indonesia sangat berpotensi mengalami bencana alam.

Surono menandaskan bahwa kita harus bersahabat dengan bencana alam, antara lain lewat pengenalan tanda-tanda sekaligus cara penanggulangannya. Dalam hal ini, Jepang sudah membuktikan dengan serius dan bertanggung jawab. Pertanyaannya, kapankah Indonesia mau melakukannya?

Iklan

2 thoughts on “Bencana, Korban, dan Kurban

  1. maya berkata:

    tak pernah berhenti bermimpi, tak pernah berhenti berharap, masih berusaha melakukan untuk menjadi orang yang baik, masyarakat yang baik, penduduk yang baik, di negeri tercinta Indonesia ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s