Jurnalisme = Bercerita


Foto: kstoolkit.org

Foto: kstoolkit.org

Berbicara Jurnalisme, biasanya orang langsung terbayang tentang surat kabar, majalah, buletin, tabloid, dan berbagai media cetak lainnya. Tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya tepat. Karena berbicara jurnalisme cakupannya luas, tidak hanya berkaitan dengan media cetak semata.

Jurnalisme sendiri, secara etimologi berasal dari kata “Diurna” dalam bahasa latin yang berarti “Harian”. Acta Diurna, begitu lengkapnya, memiliki arti “Catatan Harian” dan merupakan sistem yang dikembangkan Romawi sebagai bentuk pertanggungjawaban harian Senat Romawi kepada publik pada 60 tahun sebelum kelahiran Yesus.

Acta Diurna sendiri ditulis di atas papirus dan dipasang di tempat-tempat publik di Romawi. Hal ini merupakan kebijakan resmi Julius Caesar saat itu dan disponsori oleh pemerintah (Stephen – History of News).

Pada perkembangan selanjutnya, dikenal juga kata “Jour” dalam bahasa Perancis yang berarti “Hari”. Kemudian kata ini juga lekat dengan kata “Journal” dalam bahasa yang sama, yang berarti “Catatan Harian”.

Dalam bahasa Belanda, istilah tersebut kemudian berkembang menjadi “Journalistiek” yang berarti “Penyiaran Catatan Harian”. Sedangkan di Amerika, berkembang pula istilah Journalism, yang bermakna sama, yaitu “Penyiaran Catatan Harian”.

Secara etimologi, Jurnalisme bermakna seni menulis catatan harian dan mempublikasikannya kepada publik.

Sedangkan secara proses, Kustadi Suhandang (2004) mendefinisikan jurnalisme sebagai kemampuan untuk mengumpulkan, memilih, mengkoleksikan kegiatan, kemudian menuliskannya dan menginformasikannya kepada publik.

Hampir sama dengan Kustadi, Farlex Dictionary mendefinisikan jurnalisme sebagai  mengumpulkan, menulis, menyunting, dan mempresentasikan berita atau artikel berita di surat kabar dan majalah dan di siaran radio dan televisi.

Onong Uchjana (1981) mendefinisikan jurnalisme lebih luas lagi sebagai mengelola (mengumpulkan hingga mempublikasikan) informasi harian yang menarik untuk publik.

Dari definisi secara proses, dapat disimpulkan bahwa kegiatan jurnalisme mencakup mengumpulkan informasi, mengolah, kemudian mempublikasikannya di media massa.

Islaminur Pempasa (Foto: Yudha PS)

Islaminur Pempasa (Foto: Yudha PS)

Bila melihat dari definisi, sebagian besar kegiatan jurnalisme memang berhubungan dengan menulis. Terlebih lagi makna ini berkembang ketika media massa masih berupa kertas. Namun, paparan Islaminur Pempasa, wartawan senior Pikiran Rakyat Bandung, berikut ini patut dipertimbangkan untuk melihat apa itu Jurnalisme.

Dalam sebuah pelatihan jurnalistik, Islaminur menceritakan pengalamannya ketika magang di sebuah media massa di Inggris. Ketika itu, saat seorang jurnalis tiba di kantor redaksi, redaktur selalu bertanya, “What’s your story today (Apa cerita Anda hari ini)?”

Bandingkan dengan pertanyaan redaktur di Indonesia kepada jurnalisnya, “Apa berita Anda hari ini (What’s your news today)?”

Lebih lanjut, Islaminur menyampaikan bahwa pekerjaan intelektual seorang jurnalis bukan menulis, melainkan bercerita. Menulis adalah salah satu bentuk pesan untuk menyampaikan cerita yang didapatkan jurnalis.

Dari sini, jurnalisme dapat disimpulkan sebagai seni bercerita yang ditujukan kepada publik. Sedangkan menulis, hanyalah salah satu bentuk untuk menyampaikan cerita ke publik. Adapun fakta yang diceritakan berkaitan dengan fakta yang terjadi.

Selain melalui tulisan, bercerita juga bisa menggunakan gambar (jurnalisme foto), audio (jurnalisme radio), serta gabungan antara audio dan gambar bergerak (jurnalisme televisi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s