Inspiring Journalism: Mengangkat Kekuatan di Balik Kelemahan


Foto: blog.designisaboutyou.com

Foto: blog.designisaboutyou.com

Dalam menjalankan kegiatan keberjurnalistikannya, Salmanitb.com merujuk pada Epiphany Journalism atau Inspiring Journalism. Sang Pakar menyebutnya demikian. Sesuai namanya, Inspiring Journalism, jurnalis Salmanitb.com dituntut untuk menyajikan cerita-cerita yang menarik, menyentuh, mendalam, dan memberikan inspirasi bagi pembacanya.

Lebih lanjut, Sang Pakar menuturkan bahwa Inspiring Journalism mengangkat kekuatan di balik kelemahan. Beliau mencontohkan dengan kasus Nasi Aking di sejumlah daerah di Indonesia beberapa waktu silam. Ketika itu, banyak masyarakat miskin yang tidak mampu membeli beras, sehingga mereka memakan nasi bekas yang kerap disebut Nasi Aking.

Nasi bekas ini mereka dapatkan dari restoran atau rumah makan di sekitar tempat tinggalnya. Biasanya, restoran dan rumah makan mengumpulkan nasi yang tidak dimakan oleh pengunjung restoran, kemudian menjualnya kepada masyarakat miskin di sekitarnya. Harganya pun jauh lebih murah dibandingkan beras. Bila harga beras ketika itu bisa mencapai 7 hingga 10 ribu Rupiah per Kilogram, nasi bekas ini bisa dibeli seharga 2 hingga 3 ribu Rupiah per Kilogramnya.

Oleh masyarakat miskin, nasi bekas ini direndam selama satu malam untuk menghilangkan kaldu dan bumbu-bumbu lainnya yang menempel pada nasi.  Kemudian, nasi ini dijemur selama 2 hingga 4 hari hingga kering. Nasi yang telah kering ini ditanak kembali untuk dimakan. Nasi yang sudah ditanak inilah yang disebut dengan Nasi Aking.

Banyak media di Indonesia mengambil sudut bahwa masyarakat miskin yang mengkonsumsi Nasi Aking patut dikasihani. Pemberitaan ini justru semakin menyudutkan masyarakat miskin. Tidak hanya dalam hal akses sosial, tetapi juga dari aspek psikologis.

Foto: sculpturegallery.com

Foto: sculpturegallery.com

Menggunakan inspiring journalism, Sang Pakar justru mengangkat bahwa meskipun mereka miskin, tetapi family value mereka sangat kuat dan terjaga. Ketika Sang Pakar mencoba meliput langsung ke lapangan, beliau melihat bahwa ketika waktu makan tiba, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan bersama.

Sembari makan, sang bapak sebagai kepala keluarga, menanyakan aktivitas anak-anaknya. Tak jarang, sang bapak juga memberikan wejangan kepada anak-anaknya agar belajar yang rajin dan taat beribadah. Meskipun hanya berhidang nasi aking dan lauk seadanya–seperti ikan asin, tempe, dan lalap, tetapi mereka memiliki harta yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu keluarga. Harta yang sangat jarang–bahkan langka–dimiliki oleh orang-orang berekonomi mapan di perkotaan.

Lebih jauh tentang Inspiring Journalism ini, Sang Pakar menganalogikan dengan gelas yang berisi air setengah penuh. Sang Pakar berpesan untuk selalu melihat gelas tersebut dari perspektif gelas setengah isi, bukan gelas setengah kosong. Dengan kata lain, dalam menggali cerita, selalu sampaikan hal-hal positif dan inspiratif, bukan hal-hal negatif.

3 thoughts on “Inspiring Journalism: Mengangkat Kekuatan di Balik Kelemahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s