Ketika Lulus Kuliah …


Foto: adamblueproductions.com

Foto: adamblueproductions.com

Ketika mendengar orang berbincang-bincang perihal kelulusan dan pekerjaan, saya seringkali teringat ketika hari saya lulus kuliah. Ketika itu, 16 Juli 2007, saya baru saja menjalani proses sidang kelulusan di Universitas Padjadjaran (UNPAD). Hal yang pertama saya ucapkan adalah rencana saya selama setahun ke depan.

“Pokoknya saya mau mengerjakan apa pun yang saya senangi selama setahun ke depan. Apabila saya bisa hidup dengan apa yang saya senangi, saya lanjutkan,” papar saya dihadapan teman-teman yang saya traktir untuk merayakan kelulusan saya ketika itu.

Ucapan itu bukan tanpa pertimbangan. Saya benar-benar jenuh dengan lingkungan akademik dan pekerjaan. Saya jenuh dengan rutinitas yang saya jalani ketika itu. Saya benar-benar ingin bebas beraktivitas tanpa dibatasi hegemoni yang berlaku di masyarakat, seperti bekerja atau kuliah lagi.

Ternyata, saya benar-benar melakukan hal itu. Ketika itu, saya memutuskan untuk aktif di Klub Linux Bandung, sebuah komunitas yang mewadahi orang-orang yang menyenangi open source dan Linux. Waktu yang saya punya, semaksimal mungkin saya curahkan untuk aktif di komunitas Linux regional pertama di Indonesia tersebut.

Guna memenuhi kebutuhan finansial, saya memilih menjadi staf keuangan paruh waktu di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pekerjaan bisa saya bawa ke rumah dan hasilnya dikirimkan melalui email. Saya juga mulai menulis di surat kabar lokal. Biasanya saya menulis artikel bertajuk Teknologi Informasi. Hasilnya, lumayan untuk membayar kostan dan memenuhi kebutuhan hidup saya selama sebulan.

Akhir 2007, saya diminta membantu IGOS Center Bandung. IGOS sendiri kependekan dari “Indonesia, Goes Open Source!”, sebuah gerakan untuk mensosialisasikan open source di Indonesia. Sedangkan IGOS Center Bandung sendiri merupakan salah satu lembaga yang dibentuk untuk mensosialisasikan dan mewadahi kegiatan open source di Bandung. Meskipun ketika membuatnya (start up) didanai oleh pemerintah, tetapi lembaga ini dikelola secara swadaya oleh tokoh-tokoh open source Bandung. Saya sendiri di IGOS Center Bandung sebagai Hubungan Masyarakat (Humas).

Saya masih ingat betul, gaji saya waktu itu hanya 250 ribu Rupiah sebulan. Sedangkan biaya kostan saya 225 ribu Rupiah per bulan. Beruntung saya masih menulis di surat kabar lokal, sehingga saya masih punya uang untuk makan selama sebulan.

Saya dan teman-teman dari Klub Linux Bandung.

Saya dan teman-teman dari Klub Linux Bandung.

Layaknya seorang humas, saya harus mampu mempromosikan IGOS Center Bandung dan open source. Meskipun berjuluk humas, tetapi saya benar-benar kikuk ketika harus berhadapan dengan orang-orang. Kemampuan saya benar-benar sangat amat terbatas sebagai humas ketika itu.

Namun, saya banyak belajar di sini, khususnya tentang bagaimana berhadapan dengan orang. Saya juga mendapatkan banyak jaringan melalui IGOS Center Bandung. Beruntung, menjelang seperempat tahun 2008, gaji saya bertambah menjadi 500 ribu Rupiah sebulan. Lumayan, bisa sedikit bernafas lega.

Melalui IGOS Center Bandung, saya juga diminta membantu Crayonpedia.org. Kebetulan, salah satu pendiri Crayonpedia adalah IGOS Center Bandung. Di Crayonpedia sendiri saya diminta membantu Community Development. Lantaran ditujukan sebagai lembaga sosial, tidak ada yang digaji di sini, termasuk saya.

Pada pertengahan 2008, saya berkenalan dengan komunitas Bandung Kota Blogger alias Batagor. Komunitas ini merupakan wadah bagi blogger Bandung untuk berkumpul dan mensosialisasikan dunia sosial media, khususnya blog.

Akhir tahun 2008, saya mengundurkan diri dari IGOS Center Bandung. Alasan utamanya, saya ingin belajar dan berkecimpung di dunia menulis, khususnya kejurnalistikan.

Sejujurnya, usai saya mengundurkan diri, saya agak kebingungan menemukan tempat berekspresi. Beruntung, awal tahun 2009, saya ditawari beraktivitas di Masjid Salman ITB, tepatnya di Salman Media. Di sini saya ditawari membantu pengembangan CyberMosque.com. CyberMosque sendiri merupakan program sosialisasi pemanfaatan internet ke masjid dan pesantren di Jawa Barat. Meskipun begitu, karena terkendala banyak hal, program ini dihentikan pada Juli 2009.

Selain membantu CyberMosque.com, saya juga membantu buletin Salman News sebagai fotografer. Hal yang membuat agak shock ketika itu, foto saya di Salman News dihargai hanya 35 ribu Rupiah per foto. Salman News sendiri terbit setiap 2 bulan sekali. Biasanya foto saya hanya muncul sekali dalam satu edisi. Sehingga, penghasilan saya ketika itu adalah 35 ribu Rupiah per 2 bulan.

Untungnya, saya masih punya banyak tabungan untuk bisa hidup tanpa bekerja selama 2 bulan. Tabungan ini hasil dari mengajar blog pada 2008. Menjelang pengunduran diri dari IGOS Center Bandung ketika itu, saya lumayan banyak dapat undangan untuk menjadi pembicara dalam pelatihan dan talkshow tentang blog dan citizen journalism. Bahkan, saya pernah dibayar 1 juta Rupiah untuk mengisi pelatihan blog di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung selama sehari penuh.

Kepanitiaan acara kejurnalistikan pertama saya di Salman ITB.

Kepanitiaan acara kejurnalistikan pertama saya di Salman ITB.

Usai 2 bulan pertama beraktivitas di Salman ITB sebagai jurnalis, penghasilan saya berangsur-angsur naik. Awalnya 150 ribu Rupiah, kemudian bertahan di angka 350 ribu Rupiah. Karena Salman Media ketika itu merupakan base camp Salman Films, saya juga diminta membantu proses pembuatan beberapa film. Meskipun besarannya tidak tetap, tetapi jumlahnya cukup untuk saya bisa makan dan membayar kostan. Biaya kostan saya ketika itu sudah bertengger di angka 250 ribu Rupiah sebulan.

Pada Juli 2009, program CyberMosque.com dihentikan. Ketika itu saya diminta membangun situs SalmanITB.com. Selain mengurusi perihal teknis dan pembangunan situs, saya juga tetap menjadi jurnalis.

Karena semakin banyak proyek pembuatan film, akhirnya waktu saya banyak tersita membantu proses pembuatan film. Sedangkan situs SalmanITB.com agak terbengkalai. Padahal niat saya ingin belajar menulis, bukan membuat film.

Akhirnya, pada Februari 2010, saya mengundurkan diri dari proses pembuatan film di Salman Films dan fokus mengembangkan SalmanITB.com beserta program yang mengekor di belakangnya.

Sekitar Maret 2010, kepengurusan Masjid Salman ITB berubah. Hal ini membuat banyak perubahan di tataran manajemen Masjid Salman ITB, termasuk Salman Media.

Saya sendiri sempat hidup terkatung-katung tanpa penghasilan selama beberapa bulan. Beruntung, Tuhan mempertemukan saya dengan Masjid Lautze 2 Bandung. Di masjid Tionghoa pertama di Bandung ini, saya diminta membantu mengembangkan situs lautze.or.id. Alhamdulillah, kerjaan di Masjid Lautze 2 Bandung membuat saya bisa makan dan bayar kostan dalam beberapa bulan.

Akhirnya, Salman Media ditempatkan di bawah Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) YPM Salman ITB. Karena satu-satunya orang yang tersisa dari Salman Media masa lampau, saya pun ujug-ujug menjadi penanggung jawab pengembangan media di lingkungan Salman ITB. Karena saya berencana kuliah lagi, saya disarankan menjadi staf paruh waktu di Masjid Salman ITB.

Beberapa bulan usai Ramadhan, karena struktur redaksi SalmanITB.com belum jelas, saya ujug-ujug juga dinyatakan sebagai Pemimpin Redaksi SalmanITB.com. Sebenarnya saya tidak pede dengan posisi ini lantaran merasa belum cukup ilmu dan pengalaman. Namun, karena tidak ada orang lagi, akhirnya saya lakoni. Meskipun begitu, karena posisi ini pula lah akhirnya saya jadi belajar lebih banyak hal tentang dunia kejurnalistikan.

Empat tahun kurang telah berlalu sejak saya melantunkan keinginan untuk melakukan hal yang saya senangi, dan saya melakoninya. Karena saya bisa hidup selama satu tahun pertama dengan apa yang saya senangi, sehingga saya memutuskan untuk meneruskannya hingga saat ini.

Foto: lifecompassblog.com

Foto: lifecompassblog.com

Hal ini membuat saya berkesimpulan, ketika lulus kuliah, tentukan tujuan hidup selama setahun ke depan terlebih dahulu. Kemudian, sampaikan tujuan hidup tersebut dengan mantap, minimal ke diri sendiri.

Pun dengan segala hambatan dan permasalahan yang akan dihadapi. Jangan langsung mundur ketika melihat bahwa pilihan kita akan menuai banyak masalah, tantangan, dan hambatan. Percayalah, Tuhan pasti akan membantu dan memudahkan guna mewujudkan pilihan kita, bila itu adalah yang terbaik untuk kita.

Saya sendiri merasa ketika telah menentukan tujuan hidup dan menyampaikannya dengan mantap, seperti ada yang membimbing jalan saya. Bukan itu saja, segala urusan juga akan dimudahkan. Contohnya dengan masalah penghasilan. Seringkali saya merasa bingung ketika berhenti mendapatkan penghasilan. Namun, selalu saja ada jalan untuk saya punya penghasilan.

Contoh lainnya, ketika hendak berkuliah lagi pada 2010 silam. Saya awalnya merasa putus asa karena honor proyek saya tidak juga turun. Honor tersebut jumlahnya lumayan banyak dan cukup untuk membayar biaya kuliah saya.

Waktu itu, pendaftaran kuliah hanya 2 hari lagi. Saya sudah bersiap-siap untuk pasrah karena sudah pasti tidak akan kuliah lagi lantaran tidak ada biaya. Namun, tiba-tiba Tuhan seperti memberikan lampu hijau untuk saya bisa kuliah, dan akhirnya saya bisa kuliah lagi.

Saya sendiri tidak pernah membayangkan apa yang terjadi jika saya tidak menentukan apa yang ingin saya lakukan usai lulus kuliah. Mungkin saya melamar kerja dan mungkin juga mengerjakan hal yang tidak saya senangi. Lebih baik atau tidak, saya tidak tahu. Namun, saya bersyukur ada di posisi saya sekarang ini.

11 thoughts on “Ketika Lulus Kuliah …

    • Yudha P Sunandar berkata:

      antara saya dan rolly itu mas Diki Andeas, yang punya chickenstrip.wordpress.com. si Ayam, begitu julukannya,mas.
      kalo sebelah saya yg ndut itu namany Zahris.

  1. 37degree berkata:

    “Hal ini membuat saya berkesimpulan, ketika lulus kuliah, tentukan tujuan hidup selama setahun ke depan terlebih dahulu. Kemudian, sampaikan tujuan hidup tersebut dengan mantap, minimal ke diri sendiri.”

    nice tip, from nice man ^^d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s