Keihlasan Hati dari Tuhan untuk Seniman


Foto: waratteruzutto.wordpress.com

Foto: waratteruzutto.wordpress.com

Kunjungan terakhir saya ke rumah orang tua di Jatiwangi, Majalengka, pada Selasa (15/02) lalu, benar-benar sangat berkesan. Keinginan saya untuk belajar biola sejak lama, tampaknya mulai dibukakan jalannya oleh Yang Maha Pengatur Kehidupan.

Setibanya di rumah orang tua saya, bapak dan ibu kebetulan sedang keluar rumah. Ibu saya sedang menghadiri kegiatan PKK di desa, sedangkan bapak saya sedang berkunjung ke temannya di desa tetangga. Karena pintu tidak dikunci dan memang jarang sekali dikunci, saya dan adik langsung masuk ke rumah.

Saya langsung masuk ke kamar belakang untuk berkaca melihat mata yang merah diterpa angin usai naik motor dari Bandung ke Majalengka. Sedangkan adik saya, langsung masuk ke kamar depan, tempat televisi di simpan.

Ketika masuk kamar, mata saya tertuju pada benda yang dibungkus kain berwarna hitam. Dari bentuknya itu adalah kecapi. Setelah saya buka, ternyata itu adalah kecapi. Saya benar-benar heran, dari mana orang tua saya memiliki kecapi? Hampir bersamaan dengan keheranan saya, adik saya berteriak, “Mas, ada biola di sini!”

Saya semakin heran, dari mana orang tua saya memiliki 2 alat musik ini? Untuk kecapi, bapak saya memang tertarik dengan musik Sunda, dan berkemungkinan menabung untuk memilikinya. Namun untuk biola? Jangankan memainkannya, tertarik pun tampaknya beliau tidak.

Setibanya bapak saya di rumah, kami langsung menanyakannya ke beliau. Ternyata, bapak saya tengah merangkul seniman musik tradisional. Profesi bapak saya memang penyiar, tetapi bukan sekedar penyiar. Beliau juga kerap membangun hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat di Jatiwangi, termasuk komunitas seniman musik tradisional.

Beliau mendapatkan kedua alat musik tersebut dari seorang seniman musik tradisional itu. Beliau meminjamkannya ke bapak saya agar warga di sekitar rumah yang tertarik dengan musik tradisional Sunda, dapat mempelajarinya.

Abah Memet ketika melantunkan lagu-lagu bahasa Sunda di rumah orang tua saya. (Foto: Yudha PS)

Abah Memet ketika melantunkan lagu-lagu bahasa Sunda di rumah orang tua saya. (Foto: Yudha PS)

Abah Memet, Sang Maestro Jatiwangi

Rumah orang tua saya memang kerap dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah di Jatiwangi. Umumnya, mereka datang ke rumah untuk sekedar ngopi dan berbincang-bincang dengan bapak saya.

Tak terkecuali Rabu (16/02), sekitar pukul 10 pagi itu, hari kedua saya berada di Jatiwangi, Majalengka. Seorang bapak tua baru saja memarkirkan sepeda ontelnya di halaman rumah orang tua saya. Ibu saya yang kebetulan ada di luar rumah, langsung mempersilahkan sang bapak masuk. Sedangkan bapak saya, kebetulan sedang pergi ke kecamatan. Sehingga praktis sedang tidak ada di rumah.

Ibu saya langsung memanggil saya dan adik. “Ini Abah Memet, yang ngasih biola dengan kecapi. Ayo, sini. Katanya mau belajar biola?” ujar ibu saya.

Dengan lincahnya, Abah Memet langsung memainkan beberapa lagu sunda menggunakan biola. Saya pribadi tidak hafal judul lagu-lagu yang dimainkannya. Meskipun begitu, saya cukup familiar dengan lagu-lagunya. Uniknya, dia juga memainkan biola dengan cara mengepitnya di kaki. Seniman autodidak memang selalu tidak terduga. Mereka mampu melakukan berbagai atraksi di luar kewajaran.

Usia Abah Memet sendiri sudah lebih dari 80 tahun. Beliau masih ingat betul ketika bandara S. Sukani di Jatiwangi dibuat oleh Jepang pada era tahun 1940-an. Beliau pun masih hafal betul lagu-lagu yang sering dinyanyikan tentara Jepang ketika itu.

Hal yang patut diapresiasi dari beliau adalah semangatnya untuk berbagi ilmu kepada siapa pun yang ingin belajar. Abah Memet tidak pernah meminta imbalan apapun dari orang yang ingin menjadi muridnya. Proses belajarnya pun tidak harus dilakukan di rumah Abah. Beliau dengan senang hati akan datang bila sang murid ingin belajar private di rumah. “Asal saya di jemput, dan pulangnya di antar,” syarat Abah Memet singkat.

Dalam berkesenian, lanjut Abah Memet, Yang Maha Kuasa mengkaruniai seniman sebuah keikhlasan perasaan untuk menerima nada. Seniman mampu menangkap segala apa yang ada di sekitarnya, untuk kemudian dipaparkan dalam bentuk bunyi-bunyian berirama. Hal inilah yang membedakan seniman dengan manusia lainnya, papar Abah Memet.

Sebenarnya banyak yang dipaparkan oleh Abah Memet. Namun, karena beliau menggunakan bahasa Sunda yang cukup halus, membuat saya agak kesulitan untuk menyimak dan memahaminya.

Menjelang tengah hari, Abah Memet pamit untuk berkunjung ke tempat lain. Meskipun hanya menunjukan sedikit permainannya dan memberikan sedikit wejangan tentang bermusik, tetapi hal ini sudah lebih dari cukup untuk saya dan adik belajar bermain biola.

Saya pribadi cukup termotivasi untuk lebih giat belajar biola. Setelah melihat permainan Abah Memet, pada sore hari sebelum pulang ke Bandung, saya dan adik saya sudah mampu memainkan lagu-lagu nasional berirama lambat, seperti Ibu Kita Kartini, Mengheningkan Cipta, dan Tanah Airku.

Tampaknya tinggal mulai membiasakan menggesek dan memainkan nada-nada di atas dawai biola. Semoga akhir tahun ini saya bisa bermain biola dalam band akustik. Amin.

Iklan

9 thoughts on “Keihlasan Hati dari Tuhan untuk Seniman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s