Kurban Vs. Korban


Foto: optiscopes.com

Foto: optiscopes.com

Dalam beberapa tahun belakangan ini, dunia—khususnya Indonesia—kerap dilanda bencana alam. Mulai dari banjir, angin puting beliung, gempa, gunung meletus, hingga tsunami setinggi pohon kelapa, pernah mampir di tanah air.

Dampak dari bencana alam ini, memang tidak sedikit. Tidak hanya kerugian materi, tetapi juga hingga menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Bila ditelusuri, ada yang salah dengan perilaku manusia. Alam berubah karena perilaku manusia yang tidak mengindahkan nilai-nilai kelestarian ekologi. Hutan digunduli, perubahan fungsi lahan di pantai, dan aktivitas yang menghasilkan polusi, adalah beberapa kegiatan manusia yang mampu memperbesar potensi bencana dan dampaknya.

Dalam teori kebudayaan Van Peursen, perkembangan budaya manusia dibagi menjadi 3 tahap, yaitu mitis, ontologis, dan fungsionalis.

Pada tahapan mitis, manusia menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Manusia merasa bahwa dirinya berada di dalam dan dipengaruhi oleh alam. Hal ini dapat dilihat budaya Indian. Mereka sering menganggap bahwa diri mereka adalah penjelmaan dari hewan di sekitarnya.

Pada tahap ini, manusia kerap memberikan kurban atau sesaji sebagai bentuk penghormatannya kepada alam. Manusia juga membuat norma-norma perlakuan terhadap alam. Sehingga hidupnya selalu selaras dengan alam dan dilindungi oleh alam itu sendiri.

Pada tahap ontologis, manusia mulai mengenal agama. Manusia tidak lagi memberikan kurban dan memandang bahwa  alam merupakan sama-sama makhluk Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Meskipun begitu, manusia sudah mulai menjadikan alam sebagai objek yang bisa dipergunakan untuk mempertahankan hidupnya.

Foto: wunderkabinett.co.uk

Foto: wunderkabinett.co.uk

Sedangkan tahapan fungsionalis, manusia sudah jauh dari alam. Bahkan, alam tidak hanya sekedar dijadikan objek, tetapi telah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan manusia agar hidupnya nyaman. Tahap ini ditandai dengan revolusi industri di dunia dan manusia memperlakukan alam dengan mengeksplorasinya secara berlebihan.

Dari teori kebudayaan Van Peursen, memperlihatkan tahapan kemajuan peradaban manusia mengarah kepada kehancuran manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan manusia sudah tidak mau ber-“Kurban”, sehingga terjadilah “Korban”.

“Korban” dan “Kurban” sendiri merupakan dua kata yang hampir sama, tetapi sangat berbeda dalam hal makna. Kata “Korban” sendiri lebih bermakna negatif, sedangkan “Kurban” lebih bermakna positif.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Korban, yang dalam bahasa Inggris berarti victim, bermakna orang atau binatang yg menjadi menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Denga kata lain, korban adalah pihak yang dirugikan dengan ciri mengalami penderitaan atau bahkan kematian.

Korban juga dalam KBBI bisa bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya. Makna ini didefinisikan dengan kurban. Sehingga makna “Korban” dalam konteks tulisan ini adalah makna yang didefinisikan di paragraf di atas, yaitu pihak yang menderita.

Sedangkan Kurban, yang dalam bahasa Inggris berarti sacrifice, bermakna persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yg disembelih pada hari Lebaran Haji) atau pujaan atau persembahan kepada dewa-dewa.

Makna kurban pun bisa sangat luas. Tidak hanya menyangkut persembahan kepada Tuhan atau dewa-dewa, tetapi juga bersedia mempersembahkan harta, waktu, dan tenaga untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Prof. Dr. Miftah Faridl, guru besar ITB, dalam wawancaranya kepada saya, menuturkan untuk mendapatkan hasil yang baik, manusia harus berkurban. Misalnya saja ketika ujian. Untuk mendapatkan nilai akhir yang baik, seorang mahasiswa harus mengurbankan waktu dan tenaganya untuk belajar. Bagaimana pun, lanjut ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung ini, tidak ada hasil yang baik tanpa pengurbanan.

Ketika manusia telah menjadi korban, besar kemungkinan dia telah meninggalkan semangat berkurban. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bencana yang melanda tanah air saat ini.

Foto: redskynews.com

Foto: redskynews.com

Contohnya saja dengan bencana banjir. Banjir adalah bentuk ketidakmampuan sungai dan lingkungan sekitarnya menampung air hujan. Hal ini disebabkan hilangnya daerah resapan air di daerah hulu dan daerah sepanjang aliran sungai karena aktivitas manusia, seperti perubahan fungsi lahan yang awalnya hutan menjadi pertanian dan perumahan.

Andai saja manusia mau melakukan pengurbanan berupa pelestarian daerah resapan air, tentunya bencana banjir dan korban yang dihasilkannya, tidak akan terjadi.

“Kurban” dan “Korban” juga terjadi dalam interaksi manusia dengan manusia lainnya. Kesenjangan ekonomi dan sosial saat ini, terjadi juga karena tidak adanya pengurbanan. Dampaknya adalah timbulnya korban berupa kemiskinan di tingkat masyarakat menengah ke bawah.

Bila saja manusia mau melakukan pengurbanan, korban kesenjangan ekonomi dan sosial ini kemungkinan besar bisa diatasi. Dalam Islam, zakat merupakan bentuk pengurbanan umatnya yang memiliki kelebihan harta. Diharapkan korban ekonomi dan sosial, bisa dihindari.

“Kurban” dan “Korban” adalah hukum sebab-akibat dalam interaksi manusia, baik dengan sesama manusia maupun dengan makhluk lainnya. Ketiadaan pengurbanan, secara otomatis akan menghasilkan korban. Sebaliknya, melalui pengurbanan, manusia bisa menghindari korban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s