Bung Hatta dan Mimpi Tak Terbeli


Foto: mysoo.wordpress.com

Foto: mysoo.wordpress.com

Bally, sebuah merk sepatu yang terkenal pada era tahun 1950-an, siapa sangka pernah membuat Bung Hatta, proklamator kemerdekaan Indonesia, menaruh hati padanya. Bung Hatta pernah mendambakan memiliki sepatu tersebut.

Namun, hingga wafatnya, sepatu Bally tidak pernah bisa dimiliki oleh Wakil Presiden pertama Indonesia ini. Alasannya, uang tabungan Bung Hatta tidak pernah cukup untuk membeli sepatu. Uang tabungannya selalu terambil untuk urusan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan kepadanya.

Keinginan untuk membeli sepatu Bally ini, baru diketahui anaknya setelah jauh hari Bung Hatta wafat. Anak Bung Hatta menemukan kliping iklan koran sepatu Bally di buku harian ayahnya. Padahal, untuk memiliki sepatu dengan harga yang cukup mahal ketika itu, Bung Hatta bisa saja meminta ke duta besar atau pengusaha yang berasal dari negara tempat perusahaan sepatu Bally berdiri. Bagaimana pun, posisi Bung Hatta ketika itu sangat dihargai oleh banyak orang di dunia. Namun, hal ini tidak pernah dilakukan oleh Bung Hatta, padahal dia mampu untuk melakukannya. Dia tidak pernah mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang atau negara lain.

Pemilik nama lengkap Muhammad Athar ini, memang terkenal akan kesederhanaan dan pengabdiannya terhadap negara dan bangsanya. Bahkan, Bung Hatta pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Janji ini benar-benar dia tepati, dan baru menikah pada 18 Nopember 1945. Bung Hatta telah menginjak umur 43 tahun ketika menikahi Rahmi Rachim.

Kesederhanaan dan pengabdiannya terhadap negara tercermin juga pada kisah tentang mesin jahit. Suatu ketika, nyonya Rahmi, istri Bung Hatta, tengah menabung untuk membeli mesin jahit baru. Ketika uang tabungannya hampir menggapai jumlah yang dibutuhkan, pemerintah Indonesia kala itu, memberlakukan kebijakan sanering, yaitu pemotongan nilai mata uang dari 100 Rupiah menjadi 1 Rupiah. Hal ini membuat Nyonya Rahmi kecewa lantaran nilai uang tabungannya menurun dan semakin tidak cukup untuk membeli mesin jahit baru.

Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Ketika pulang ke rumah, Bung Hatta ditanyai istrinya, mengapa suaminya tidak pernah menceritakan perihal kebijakannya tersebut. Dengan kalem, Bung Hatta menjawab bahwa rahasia negara tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun, termasuk kepada keluarganya sendiri. “Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, yah,” hibur Bung Hatta kepada istrinya.

Bung Hatta adalah sosok yang jujur, tidak terkorupsi, sederhana, dan mandiri. Sikap ini tidak hanya tercermin ketika masih menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia, tetapi juga ketika telah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden pada 1 Desember 1956.

Ketika itu, keuangan Bung Hatta dan keluarga sangat kritis. Beliau kerap kali tercengang melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang mencekik leher. Wajar saja, karena uang pensiun yang diterimanya juga sangat kecil, bahkan setara dengan gaji supirnya yang ketika itu digaji oleh negara. Menghadapi keadaan ini, Bung Hatta tidak pernah mau berpangku tangan kepada siapa pun. Dia memilih untuk menulis guna menambah penghasilan dirinya dan keluarga.

Tak salah bila Iwan Fals dalam lagunya berjudul Bung Hatta menggambarkan bahwa Indonesia sangat berkabung ketika proklamator Indonesia itu meninggal dunia. Lebih dari itu, Indonesia merindukan orang yang sederhana, bersahaja, dan mengabdi untuk negara, seperti Bung Hatta.

Kehidupan Bung Hatta memang sangat kontras bila dibandingkan dengan pejabat negara saat ini. Wisnu Nugroho, dalam bukunya berjudul Pak Beye dan Istananya, menulis bahwa Istana Negara kerap kali disinggahi banyak mobil mewah milik pejabat negara dan keluarganya.

Mobil yang kerap terlihat adalah milik Edhie Baskoro, putra sulung presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain bermerk Audi dan Chevrolet, Edhie juga memiliki mobil lainnya bermerk Mercedes-Benz dan BMW. Jajaran mobil bermerk mewah untuk saat ini.

Saat rapat kabinet pun, halaman Istana Negara berjejer mobil Toyota Camry hitam yang merupakan mobil dinas menteri ketika itu. Dari sekian banyak mobil dinas menteri, salah satunya bermerk Lexus yang merupakan kepunyaan Aburizal Bakrie, Menko Kesra kala itu.

Kehidupan presiden pun tidak kalah mewahnya. Meskipun dirinya mengeluhkan gajinya yang belum naik selama 7 tahun lamanya, tetapi penghasilannya sebagai presiden termasuk besar untuk saat ini, yaitu 62 juta Rupiah per bulan. Gaji sebesar itu pun tampaknya tidak akan terpakai. Sebab semua keperluan presiden sudah ditanggung biaya taktis yang besarnyamencapai 2 milyar Rupiah setiap bulannya.

(Klik untuk Memperbesar) Foto: media.economist.com

(Klik untuk Memperbesar) Foto: media.economist.com

Majalah The Economist pada Juli 2010 dalam jurnalnya berjudul Leaders of The Fee World, menyatakan bahwa presiden Indonesia mengantongi gaji per tahun sebesar US$124.171 atau setara dengan 1,12 milyar Rupiah. Jumlah ini sama dengan 28 kali pendapatan per kapita Indonesia.

Padahal, gaji presiden dan pemimpin dunia negara maju lainnya di dunia, tidak lebih dari 10 kali pendapatan per kapita negaranya. Contohnya saja Perancis (9 kali pendapatan per kapita), Amerika (8 kali pendapatan per kapita), Jepang (7 kali pendapatan per kapita), dan Inggris (6 kali pendapatan per kapita).

Bahkan, negara yang digadang-gadang bakal menjadi negara terdepan dalam bidang ekonomi di masa yang akan datang, pemimpin negaranya hanya digaji kurang dari 5 kali pendapatan per kapita negaranya. Contohnya China. Pemimpin negaranya hanya bergaji 96,3 juta Rupiah per tahun yang setara dengan 3 kali pendapatan per kapita China. Contoh lainnya adalah India yang pemimpin negaranya hanya bergaji 37 juta Rupiah per tahun atau 2 kali pendapatan per kapita India.

Meskipun pemimpin negara China dan India memiliki penghasilan yang relatif kecil dibandingkan pemimpin negara lainnya di dunia, tetapi negaranya mampu menunjukan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang sangat pesat.

Tampaknya pemimpin di Indonesia harus banyak bercermin. Bercermin dari keteladanan Bung Hatta dan pemimpin negara di dunia lainnya yang memiliki jiwa sederhana, bersahaja dalam bersikap, dekat dengan masyarakat, dan bekerja keras untuk rakyat.

2 thoughts on “Bung Hatta dan Mimpi Tak Terbeli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s