Pemberdayaan Masyarakat Ala Urban Poor Consortium (UPC)


Foto: flickr.com/photos/urbanpoor

Foto: flickr.com/photos/urbanpoor

Berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, saya jadi ingat pekerjaan saya di Kuncup Padang Ilalang (KAIL), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendampingan dan peningkatan kapasitas aktivis dari berbagai bidang.

Salah satunya yang didampingi oleh KAIL adalah LSM Urban Poor Consortium (UPC) Jakarta. UPC ini menangani masyarakat miskin di daerah perkotaan di Indonesia agar mampu hidup mandiri dan terpenuhi hak-haknya sebagai sebuah warga negara.

Berbicara UPC, mereka saya nilai merupakan salah satu LSM yang baik dalam hal mengembangkan model-model pemberdayaan masyarakat, khususnya daerah perkotaan. Dalam program kerjanya, mereka berusaha mendorong terciptanya kemandirian masyarakat miskin perkotaan di berbagai bidang. Beberapa di antaranya adalah bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

Di bidang ekonomi, masyarakat diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya secara swadaya di antara masyarakat sendiri. Mereka diarahkan untuk membeli dari sesama warga, sehingga tercipta kestabilan ekonomi di antara mereka. Selain itu, mereka juga disadarkan mengenai isu-isu ekonomi berbasis lokal. Sehingga masyarakat dituntut untuk membeli berbagai kebutuhan pokoknya dari toko dan pasar tradisional serta menjauhi pasar-pasar modern yang bersifat global.

Di tingkat keluarga, masyarakat dituntut untuk cerdas dalam mengelola pendapatan dan pengeluarannya. Melihat mana keinginan dan kebutuhan serta dapat memilah dan menahan diri. Mereka juga diarahkan untuk membuat laporan keuangan keluarga, sehingga pendapatan dan pengeluaran tercatat, terarah, dan dapat dievaluasi segera.

Foto: flickr.com/photos/ayeona

Foto: flickr.com/photos/ayeona

Bagaimana pun, banyak masyarakat miskin yang mengaku miskin, tapi secara pendapatan dan pengeluaran, sangat besar. Umumnya pengeluaran yang sangat besar itu mereka gunakan untuk jajan dan membelanjakan peralatan elektronik. Tak heran bila mereka memiliki televisi besar, kulkas, dan DVD player, yang notabenenya tidak dibeli dengan harga yang murah.

Dalam bidang kesehatan, masyarakat diajarkan pengobatan tradisional, seperti pijat, akupuntur, dan obat-obatan tradisional. Dengan upaya ini, masyarakat diharapkan mampu memenuhi aspek kesehatannya secara murah dan baik. Karena, selain mahal, seringkali pengobatan modern memiliki daya rusak yang berat. Sehingga UPC melihat bahwa masyarakat miskin perlu diberikan alternatif untuk memelihara kesehatan mereka.

Selain pengobatan tradisional, masyarakat juga diarahkan untuk membentuk pola hidup yang sehat. Misalnya saja menjauhi makanan-makanan yang mengandung bahan pengawet, msg, dan pewarna. Masyarakat dituntut untuk membuat makanan dan jajanan sendiri di rumah. Selain lebih hemat dalam hal anggaran, masyarakat juga menjadi lebih sehat. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membentuk masyarakat yang produktif.

Sedangkan dalam bidang pendidikan, sekolah diupayakan secara mandiri dan swadaya. Alih-alih melalui sekolah formal, masyarakat dianjurkan melakukan pendidikan melalui home schooling. Pengajarnya pun merupakan relawan pendidikan yang direkrut melalui UPC. Adapun materi ajarnya, selain disesuaikan dengan pelajaran sekolah, diajarkan juga keterampilan-keterampilan yang bisa siswa gunakan ketika dewasa kelak.

Foto: constructionweekonline.in

Foto: constructionweekonline.in

Pada bidang lingkungan, masyarakat diharapkan melakukan tindakan yang ramah bagi lingkungan alam. Misalnya saja, tidak membeli produk yang bungkusnya sekali buang. Contoh lainnya adalah menghindari makanan dengan bungkus stereofoam. Dalam hal ini, biasanya masyarakat dituntut untuk membawa tempat makan sendiri. Sehingga tak perlu menghasilkan sampah plastik dan bungkusan lainnya.

Dalam penggunaan produk, masyarakat juga diajarkan membuat solusi serupa menggunakan bahan tradisional. Misalnya saja dengan obat nyamuk yang notabenenya malah merusak lingkungan. Sebagai solusi, masyarakat diajarkan cara membuat obat nyamuk tradisional dengan bawang putih atau menggunakan kelambu ketika tidur.

Tidak hanya dari pola hidup, masyarakat juga dituntut untuk peduli kepada lingkungannya. Misalnya saja dengan menghijaukan bantaran sungai dan perbaikan sanitasi septic tank. Sehingga kesehatan masyarakat dan lingkungan bisa terjaga.

Saya dan teman-teman di KAIL ketika itu pun berusaha melakukan hal serupa. Alasannya, KAIL mengajarkan dan mendampingi masyarakat miskin melakukan hal-hal tersebut di atas. Sehingga, KAIL dituntut untuk bersikap seperti itu.

2 thoughts on “Pemberdayaan Masyarakat Ala Urban Poor Consortium (UPC)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s