Bersentuhan dengan Dunia Radio


Foto: yfa.awid.org

Foto: yfa.awid.org

Minggu lalu, bisa dibilang minggu radio bagi saya. Banyak aktivitas saya yang bersentuhan dengan dunia media yang menyebarkan pesan melalui suara ini. Dari yang sifatnya hanya berkenalan, hingga sentuhan yang bersifat advance dan perencanaan.

Perjumpaan saya lebih dalam dengan dunia radio dimulai pada Selasa (11/1) lalu. Ketika itu, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Bandung menyelenggarakan kunjungan ke radio 99er FM. Tujuannya untuk memperkenalkan dunia radio dan prospek kerjanya.

Farhan, sang manajer Hubungan Masyarakat 99er, mengatakan bahwa radionya mampu menjadi nomor satu di Bandung untuk segmen remaja selama 9 tahun berturut-turut. Lebih lanjut, Farhan menyimpulkan bahwa hal ini disebabkan penyiar 99er bebas mengekspresikan gayanya, tanpa takut salah. Selain itu, 99er juga selalu menyuguhkan konten-konten budaya lokal, seperti penggunaan bahasa Sunda. Menurutnya, hal inilah yang tidak dimiliki oleh radio lain, tetapi 99er punya.

Hari selanjutnya, Rabu (12/1), STIKOM Bandung menggelar kuliah bertemakan industri penyiaran radio di Indonesia dan prospeknya ke depan. Pembicaranya adalah Harley Prayudha yang saat ini merupakan kandidat Doktor di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung. Kabarnya pak Harley bakal menjadi guru besar STIKOM Bandung.

Pak Harley banyak membicarakan tentang radio 2.0. Konsep yang dipaparkannya bukanlah barang baru bagi saya. Bahkan, beberapa slide presentasinya pernah saya baca, jauh sebelum pak Harley berbicara di STIKOM Bandung hari itu.

Memang, pada 2008, saya sudah sering diajak berbicara secara personal tentang konsep radio 2.0 ini oleh pak Hemat Dwi Nuryanto, komisaris Zamrud Technology. Banyak hal baru dan bisa berdampak positif yang disampaikan beliau. Namun, ketika itu, karena saya memang kurang tertarik ke dunia radio, konsep yang pak Hemat tawarkan, hanya menjadi tambahan pengetahuan bagi saya, dan tidak untuk saya dalami.

Namun saat ini semua telah berubah. Karena pengembangan media di Salman ITB sendiri akhirnya akan menuju ke arah radio 2.0, mau tak mau, saya sebagai pelaksana pembuatan dan pengembangan media di Salman ITB, harus mendalami dunia radio, khususnya radio 2.0. Hal ini ditambah dengan harapan kampus agar saya bisa membantu membangun radio 2.0 juga di sana. Sehingga, mempelajari radio menjadi semacam keniscayaan untuk saya saat ini.

Harley Prayudha (Foto: Yudha PS)

Harley Prayudha ketika memberikan pemaparan tentang radio di kampus STIKOM Bandung beberapa waktu lalu. (Foto: Yudha PS)

Kembali ke pemaparan pak Harley. Beliau mensyaratkan, bila saat ini radio tidak mau mati, dia harus berpindah dari sistem radio analog ke radio 2.0 yang berbasis digital. Bagaimana pun, budaya orang untuk mengakses informasi sudah berbeda dengan internet. Media yang ada, mau tidak mau harus berubah, menyesuaikan dengan konsumen.

Pak Harley juga mensyaratkan ketekunan dan konsistensi bila ingin berkecimpung di radio. Dirinya mengaku bahwa karirnya di radio berawal dari office boy. Seiring berjalannya waktu, karir beliau tahap demi tahap naik menjadi penyiar, produser, program director, dan akhirnya kini menjadi unit leader untuk HardRock Bandung dan i-Radio Bandung.

Masalah penghasilan, industri radio juga tidak kalah menjanjikan, tutur pak Harley. Bonus yang diterimanya tahun 2010 lalu dalam mengembangkan radio HardRock Bandung dan i-Radio Bandung mencapai 2,7 Milyar Rupiah. Setidaknya, itulah yang beliau katakan kepada mahasiswa.

Kesan yang saya dapatkan dari pak Harley, orangnya komunikatif dan interaktif. Audiens yang hadir di ruangan,  banyak yang mengaku bahwa mereka terinspirasi dan termotivasi oleh beliau. Namun yang sangat saya sesalkan, beliau bukanlah orang jurnalistik. Andai saja dia orang jurnalistik, besar kemungkinannya saya bisa menjadi mahasiswanya dan menikmati belajar yang mengasyikan di kelas. hehe

Menginjak Jumat (14/1) dan Sabtu (15/1), saya ditawari ikut pelatihan manajemen radio 2.0 menggunakan Radio Broadcasting Integrated System (RISE). Awalnya saya ditawari oleh pak Hemat ketika bertemu pada Senin (10/1). Karena waktu itu saya memang tidak terlalu tertarik dengan dunia radio dan televisi, saya agak menolak dengan mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang berkecimpung di bidang jurnalisme online dan cetak. Namun, pak Hemat berusaha meyakinkan saya bahwa untuk mengembangkan sebuah media online, saya harus mengerti teknologinya. Dalam hal ini, saya harus mengerti teknologi RISE. Pernyataan pak Hemat, membuat saya berniat datang.

Keharusan saya untuk datang, ditegaskan pada Kamis (14/1) malam. Saya dihubungi pak Mohamad Arief, dosen STIKOM Bandung, untuk mengikuti pelatihan RISE di tempat pak Hemat keesokan harinya. Karena inilah, saya akhirnya membulatkan tekad untuk datang.

Peserta pelatihan RISE hari itu bukan hanya dari STIKOM Bandung ternyata. Ada juga dari Institut Manajemen Telkom (IMT) Bandung dan dua radio dari Semarang. Mereka juga punya rencana mengaplikasikan radio 2.0 di institusi dan perusahaannya masing-masing.

Ana Supriatna, manajemen radio Klite FM sekaligus penyiar, cukup banyak memberikan saya informasi mengenai radio dan arah radio 2.0. Menurutnya, Radio 2.0 ini terdiri dari 3 elemen, yaitu: Radio Automation 2.0, Website Radio 2.0, dan Radio Colaboration 2.0.

Foto: andertontiger.com

Foto: andertontiger.com

Lebih lanjut, kang Ana juga menyampaikan bahwa Radio 2.0 ini mampu berimbas pada layanan dan model bisnisnya. Sehingga radio akan memiliki inovasi dalam proses bisnis maupun pada model bisnis. Inovasi dalam proses bisnis sendiri merujuk kepada bagaimana radio menjalankan sistem kerja yang ada di radio sehingga mampu mengefektifkan dan mengefesienkan waktu. Contohnya adalah kru radio yang bisa mengagendakan jadwal siaran dan memonitor siaran melalui internet serta tanpa harus datang ke kantor.

Sedangkan inovasi model bisnis, Radio 2.0 bisa mengembangkan berbagai inovasi untuk meraih pendapatan. Misalnya, bila menggunakan iklan, radio bisa memperkuat kepercayaan pemasang iklan dengan memaparkan profil pendengar dan bukti siar iklan secara lengkap.

Inovasi model bisnis lainnya adalah iuran pendengar. Contohnya saja dengan pendengar membayar senilai uang untuk jangka waktu tertentu, dia bisa mengakses konten-konten premium yang tidak tersedia untuk pendengar bebas.

Pada akhir pelatihan, pak Hemat mengadakan sharing antar peserta. Saya sendiri menyampaikan bahwa radio 2.0 dapat mendorong terciptanya banyak lapangan kerja di bidang penyiaran radio. Selain itu, saya juga menyampaikan bahwa konten yang dibuat bisa hyper local dan hyper spesific. Dimaksud hyper local adalah konten-konten yang ada di sekitar perusahaan radio. Sedangkan hyper spesific, radio bisa memilih segmentasi yang benar-benar spesifik, seperti radio untuk pendengar yang menggunakan merk produk tertentu.

Well, radio 2.0 saya kira merupakan teknologi masa depan. Kita lihat saja bagaimana radio ini bisa berkembang ke depannya. Semoga ada banyak inovasi yang bisa kita lakukan bersama-sama.

2 thoughts on “Bersentuhan dengan Dunia Radio

    • Yudha P Sunandar berkata:

      hahaha. terima kasih, pak.
      oh yah, pak. foto2 usai pelatihan kemaren, bisa saya minta, pak? buat saya upload d sini juga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s