Anak Jalanan: Tak beretika, Tapi Peduli dan Peka


Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Jumat (7/10) lalu, saya kembali mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat di bilangan Viaduct, Bandung. Agendanya ketemu Sinta Ridwan untuk membincangkan naskah kuno milik keluarga saya. Namun, pembicaraan ditunda karena Sinta akan membahasnya setelah naskah tersebut selesai diterjemahkan.

Menjelang pulang, saya diperkenalkan dengan Eka, lulusan Administrasi Negara Universitas Padjadjaran (UNPAD). Saat ini, jika saya tidak salah ingat, dia beraktivitas di Rumah Ciroyom, Bandung. Tempat ini semacam organisasi yang mengurusi anak jalanan di sekitar Ciroyom, Bandung.

Eka menuturkan bahwa dirinya banyak belajar pada anak-anak jalanan. “Masalah etika mungkin (anak jalanan) tampak tak beradab, tapi urusan kepedulian, gw banyak belajar dari mereka,” ungkap Eka sambil mengacungkan kedua jempolnya. “Mungkin karena mereka merasakan (penderitaan) langsung, jadi mereka lebih peduli dan peka,” lanjut Eka.

Eka mencontohkan dengan Yudhi, anak jalanan berusia 10 tahun. Suatu hari, Yudhi tidak mau beranjak dari tempatnya duduk. Bahkan ketika kelas belajar anak jalanan akan dimulai atau ketika ada makanan di dalam kelas. “Nggak mau (masuk kelas), pengen di sini aja,” tutur Eka, menirukan ucapan Yudhi yang memelas tidak mau beranjak ke manapun.

Ketika ditanya alasannya tidak mau beranjak, Yudhi mengungkapkan bahwa dirinya sedang menunggui kuburan kucing. “Kasian kucingnya, sendirian dan kedinginan di dalam sana (dalam kubur). Pokoknya Yudhi mau nemenin kucing ini,” ungkap Yudhi.

Eka mengaku terkejut dengan ucapan Yudhi. Padahal, Yudhi sendiri tidak tahu menahu tentang kucing yang ditunggui oleh dirinya itu. “Mungkin (kucing yang mati adalah) kucing pasar, atau bahkan kucing liar, tapi dia menguburkannya dan dengan rela menungguinya,” imbuh Eka.

Padahal, lanjut Eka, kita yang mengaku lebih terdidik dan beradab, tidak pernah mau peduli bila melihat kucing mati. Jangankan menguburkannya. Bila menabrak dan menggilasnya pun, paling-paling kita cuek dan tidak pernah peduli.

Eka juga menceritakan kisah Ahmad, seorang anak jalanan yang kerap kali ditemukan sedang menghirup lem Aibon. Eka punya ketentuan di kelas belajar anak jalanan, bahwa tidak ada seorang pun yang boleh merokok dan menghirup lem Aibon.

Namun, ketentuan ini dilanggar hari itu oleh Ahmad, anak jalanan berusia 11 tahun. Ahmad pun ditegur oleh Eka. Ujung-ujungnya, Eka membentak Ahmad dan merenggut lem Aibon yang ada ditangan Ahmad.

Ahmad kemudian tertunduk di kursinya, dan tampak bersedih. Sontak, Eka merasa bersalah dan membujuk Ahmad untuk tidak menangis. Namun, yang membuat Ahmad menangis bukanlah bentakan Eka, tapi karena Helmi yang kehujanan di luar kelas. Helmi sendiri adalah kakak asuh Ahmad. Helmi tidak masuk ke dalam ruang kelas karena ruang kelas sudah penuh dengan para siswa.

“Kalau Ahmad punya jaket, Ahmad mau kasih ke Kak Helmi, supaya Kak Helmi nggak kehujanan dan sakit,” tutur Eka, menirukan ucapan Ahmad.

Ahmad memang sangat peduli dan juga perasa. Pernah Eka menemukan Ahmad hampir gantung diri menggunakan tali dari kain. “Ahmad pengen ketemu Kakek Ahmad yang udah meninggal. Ahmad kangen,” ungkap Ahmad ketika ditanya Eka alasan perbuatannya itu.

Eka juga menceritakan seorang anak jalanan asuhannya yang menyisihkan uang hasil mengamennya untuk membeli cokelat SilverQueen berukuran 10 Cm. Cokelat itu oleh si anak diberikan kepada pengajarnya yang merupakan dosen Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung. Ketika si dosen hendak membagikan cokelatnya kepada anak-anak jalanan lain dalam kelas, si anak melarang. “Jangan, itu hanya untuk bapak. Nggak boleh dibagikan ke siapa pun,” pinta si Anak.

Well, dibalik perbuatan mereka dinilai masyarakat tidak beradab dan mengganggu, ternyata ada sebuah keluguan dan kehausan akan cinta dan kasih sayang. Bila mereka punya pilihan hidup, tentunya hidup di jalanan bukanlah hal yang akan mereka pilih.

Saatnya, buka mata, pikiran, dan hati kita. Nyatanya, mereka ada di sekitar kita. Dengan kehidupan yang tak kenal belas kasihan dan cinta. Dan tanggung jawab kita yang mampulah untuk itu semua.

4 thoughts on “Anak Jalanan: Tak beretika, Tapi Peduli dan Peka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s