Ada “Penampakan” di Salman ITB


Foto: patriothustler.com

Foto: patriothustler.com

Berada di kantor, membuat saya kerap kali beraktivitas di ruangan hingga tengah malam, bahkan lebih. Berbeda dengan bagian utama di Gedung Kayu pada umumnya yang ramai dengan aktivitas hingga malam hari, bagian samping tempat ruangan saya berada, tidak begitu ramai. Bahkan, menjelang maghrib biasanya tidak pernah ada aktivitas karena umumnya merupakan ruangan kantor yang hanya buka pada jam kerja.

Karena divisi saya seluruhnya berisi orang-orang muda dan lajang, kerap kali bagian samping ini masih berpenghuni selepas maghrib. Sehingga penjaga malam tidak pernah mengunci pintu depan bagian samping sebelum lampu di ruangan saya mati.

Selepas Isya, biasanya hanya ada saya sendiri di ruangan. Manajer saya biasanya mengakhiri aktivitasnya dan pindah ke ruangan Aksara yang terletak di bagian utama Gedung Kayu yang lebih ramai dengan aktivitas. Sedangkan saya, karena merasa nyaman bekerja di tempat yang sepi, saya memilih untuk tetap di ruangan.

Namun, tidak hingga tengah malam. Alasannya bukan saya mengantuk, tapi saya kerap kali merasa tidak nyaman ketika merasa ada yang lewat atau melihat saya dari ruang tengah. Ruang tengah ini merupakan penyambung antara pintu keluar dan ruangan saya.

Biasanya, 30 menit menjelang tengah malam, saya merasa sudah ada yang menegur bila saya masih berada di ruangan. Teguran ini beberapa di antaranya berupa diri merasa merinding tanpa sebab, atau ada suara-suara muncul. Menjelang tengah malam, saya merasa ada yang memperhatikan saya dari ruangan tengah. Bahkan, sampai ada yang lewat-lewat di depan pintu ruangan saya. Kalau udah gini, saya biasanya memilih langsung tidur di Aksara yang setiap hari selalu ada yang menginap.

Tadi malam, saya juga sempat bercakap-cakap dengan pak Dedi Solihin. Beliau adalah salah satu penjaga malam di Masjid Salman ITB. Usai saya mematikan lampu ruangan dan beranjak untuk tidur, pak Dedi nanya, “Atos rengse padamelan na? Dikunci wae panto na?” Artinya, “Sudah selesai kerjaannya? Dikunci aja pintunya?” Pintu yang dimaksud pak Dedi adalah akses ke bagian samping Gedung Kayu.

Lalu, saya bilang, “Atos, pak. Kunci wae panto na. Keueung, pak. Sok seeur nu ngaliwat.” Dalam bahasa Indonesia, artinya, “Sudah, pak. Kunci aja pintunya. Keadaannya seram, pak. Suka banyak yang lewat.”

Di dieu oge seeur,” komentar pak Dedi, yang dalam bahasa Indonesia artinya, “Di sini juga banyak.” Kemudian, pak Dedi menceritakan selama dia bertugas malam, dia sering merasa merinding dan melihat ada “sesuatu” yang lewat di area depan penitipan sepatu.

Okky Indra Putra, salah seorang aktivis Aksara, pernah juga merasakan pengalaman berkaitan dengan “sesuatu”. Ketika itu, Okky terbangun di tengah tidurnya saat tidur sendirian di sekre Aksara. Entah jam berapa saat itu, mungkin sekitar pukul 1 atau 2 dini hari.

Tak sengaja Okky melihat ke arah komputer tempat dia sering duduk dan berselancar ria mengarungi dunia internet. Ternyata, di tempatnya itu, sedang duduk sesosok wanita berambut panjang dan berbaju putih. Sontak, Okky langsung menutup kembali selimutnya dan berusaha untuk tidur lagi.

Bagaimana pun, mereka ada di mana-mana, dan di sekitar kita. Mereka hidup bersama-sama dengan kita. Bukan untuk ditakuti, tapi harus kita sadari bahwa mereka adalah bentuk ciptaan Tuhan yang sama-sama berkewajiban menyembah Yang Maha Pencipta.

One thought on “Ada “Penampakan” di Salman ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s