Gnothi Seauton


Foto: gallery.photo.net

Foto: gallery.photo.net

Akhir-akhir ini saya benar-benar merasa kesulitan untuk menulis. Yang saya maksud di sini bukan segala hal berkaitan dengan menulis, tetapi menulis hal-hal yang saya anggap formal dan untuk keperluan publik, seperti menulis untuk Salmanitb.com dan sebuah koran di Jawa Barat.

Di sebuah koran di Jawa Barat, biasanya saya menulis mengenai teknologi informasi seperti internet, blog, dan jurnalisme online. Saya juga punya banyak ide. Namun, saya merasa sulit untuk mengembangkan ide-ide itu. Saya juga merasa tidak memiliki bahan yang utuh. Hal inilah yang akhirnya membuat saya terhenti menulis untuk sementara waktu.

Sedangkan di Salmanitb.com, saya juga merasa punya ide untuk saya tulis. Namun, lagi-lagi masalahnya sulit untuk mengembangkan ide-ide itu. Saya juga jadi merasa canggung ketika harus mewawancarai narasumber untuk bahan tulisan saya.

Ah, mungkin saya terlalu malas untuk berkarya. Atau terlalu banyak hal yang harus saya pikirkan, sehingga tidak sempat berpikir untuk mulai berkarya lagi?

Menginjak bulan dan tahun depan, pekerjaan saya sangat sedikit menyinggung masalah peliputan dan jurnalistik yang bersifat teknis. Saya akan banyak berkecimpung dalam pengembangan media di Salman ITB, mulai dari situs web, buletin, radio, hingga televisi. Yah, saya akan lebih mengerjakan hal-hal yang berbau konseptual dan perencanaan.

Itu berarti, saya tidak akan lagi melakukan kegiatan peliputan, karena sudah ada jurnalis yang akan melakukan hal tersebut. Serta, saya juga tidak akan mengelola sumber daya redaksi untuk meliput berbagai kegiatan di Salman ITB.

Di satu sisi, saya menyukai dan menyenangi kegiatan perencanaan dan pengkonsepan media massa ini. Namun, di sisi lain, saya merasa masih belum puas berproses dalam dunia kejurnalistikan teknis. Saya merasa, potensi saya belum tergali secara optimal. Saya merasa ingin lebih. Ilmu yang lebih, pengalaman yang lebih, dan guru yang lebih.

Bukan berarti, apa yang saya dapatkan kini, sia-sia. Kuliah di STIKOM Bandung, bukan tidak memberikan saya guru dan ilmu, tetapi saya belum waktunya mendapatkan ilmu berkaitan dengan jurnalistik yang lebih teknis. Mungkin baru tahun depan saya akan menerima kuliah tentang ilmu yang berkaitan erat dengan manusia itu.

Ah, mungkin saya memang kurang sabar berproses dan belajar. Mungkin juga kurang bersyukur. Atau juga saya terlalu sombong dengan ilmu yang ada saat ini, sehingga Dia mengambil sang ilmu dan membuat saya tidak mampu berkarya dengan baik untuk sementara waktu.

Apapun itu, tampaknya saya harus menambah kuantitas bercermin pada diri sendiri. Membuka diri lebih baik lagi, mengenal diri lebih dalam lagi, dan menginstrospeksi diri lebih sering lagi. Semoga Dia selalu meridhoi setiap langkah saya dan menebarkan petunjuk-Nya hingga saya mampu memahami-Nya dan memahami diri ini.

One thought on “Gnothi Seauton

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s