Pikirkan dan Pahamilah, Bahwa Tuhan Itu Ada


Foto: indianinthemachine.wordpress.com

Foto: indianinthemachine.wordpress.com

“Memikirkan Tuhan apa tidak akan tersesat?” begitu tulis teman saya dalam catatan Facebooknya. Well, tampaknya memang ada sebagian orang yang takut tersesat dengan mempertanyakan Tuhan. Lebih dari itu, ada yang takut dianggap atheis. Padahal, kata teman saya yang lain, mereka yang atheis adalah orang-orang yang selangkah lagi menuju Tuhan. Benarkah?

Memikirkan Tuhan, bagi saya adalah sesuatu yang tidak membahayakan. Untuk beberapa orang, justru hal ini mampu mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Sebelum saya memaparkan mengenai kedekatan mereka yang memikirkan Tuhan, terlebih dahulu saya ingin memaparkan mengenai proses memikirkan Tuhan. Proses ini erat kaitannya dengan proses penciptaan manusia.

Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata memaparkan proses penciptaan manusia yang salah satunya merujuk kepada Najm Al-Din Razi, seorang pengarang salah satu karya klasik prosa besar Persia tentang sufimisme, Mirshad Al-Ibad. Dalam karya tersebut, Razi memaparkan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna dan memiliki derajat yang tinggi. Ketinggian derajat ini erat kaitannya dengan kesederhanaan manusia yang dekat dengan Dunia Ruh.

Kemudian, Allah menurunkan tingkatan derajat manusia menjauhi kesederhanaan dan meninggalkan dunia ruh. Turun melewati derajat nabati yang mati, kemudian tiba di derajat hewani, dan Allah menurunkannya lagi hingga tiba di derajat manusia seperti sekarang ini. Sebuah derajat yang paling rendah dari yang rendah. Pada tingkatan yang ini, manusia tiba di Dunia Materi yang majemuk dan merupakan wilayah eksistensi paling luar.

Razi menyimpulkan, bahwa derajat tertinggi dari yang tertinggi adalah ruh manusia, sementara yang terendah dari yang rendah adalah raga manusia. Dalam hal ini, Syaikh Majd Al-Din Baghdadi, guru Razi, mengatakan dalam kumpulan karyanya, “Segala puji bagi Dia yang menyatukan segala yang terdekat dari yang dekat dengan yang terjauh dari yang jauh melalui kekuasaan-Nya.”

Perihal ini, dinyatakan dalam Alquran surat At-Tin ayat 4 – 5 berikut, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Saya lebih senang dengan artinya dalam bahasa Inggris yang lebih mendekati: “We have indeed created man in the best of moulds. Then do We abase him (to be) the lowest of the low.

Dari pemaparan Razi di atas, saya menyimpulkan bahwa manusia diciptakan dengan menggabungkan 2 hal, ruh dan jasad. Ruh yang memiliki derajat tertinggi adalah tidak bersifat majemuk, termasuk dalam domain eksistensi tak kentara, dan bukan wilayah densitas yang bisa dilihat. Sedangkan jasad yang memiliki derajat paling rendah adalah majemuk dan terbatas serta berada di wilayah densitas.

Membicarakan tentang memikirkan Tuhan, erat kaitannya dengan alat yang digunakan manusia untuk berpikir. Karena manusia dianugerahi 2 bentuk penciptaan, ruh dan jasad, membuat manusia mampu berpikir dengan bentuk ruh atau jasad. Berpikir dengan jasad erat kaitannya berpikir dengan otak yang umumnya berhubungan dengan logika. Sedangkan berpikir dengan ruh erat kaitannya berpikir dengan hati yang umumnya berhubungan dengan rasa.

Karena berbentuk jasad, tentunya otak manusia mampu dipetakan oleh panca indera. Runtutan proses berpikir pun bisa dilihat dari aktivitas-aktivitas yang terjadi di otak. Sedangkan dalam bentuk yang lain, yaitu bentuk ruh, panca indera tidak mampu menangkapnya. Contohnya saja ketika kita merasakan sedih, senang, dan marah, akan terjadi semacam reaksi di daerah dada berkaitan dengan perasaan yang kita alami. Padahal, ketika kita coba membedah dada kita, hanya ada paru-paru dan jantung, dan tidak ada organ fisik di sekitar dada yang bereaksi ketika muncul rangsangan yang berkaitan dengan perasaan.

Foto ecosalon.com

Foto ecosalon.com

Umumnya, manusia selama di dunia jauh lebih banyak memfungsikan bentuk jasadnya dibandingkan bentuk ruhnya. Misalnya, dalam hal berpikir, manusia lebih mengedepankan sisi logikanya dibandingkan sisi rasanya. Sehingga, apa yang mampu dipetakan oleh pikirannya, hanya sebatas apa yang mampu diindera. Di luar panca indera, akan dianggap sebagai mitos atau khayalan tingkat tinggi manusia.

Wajar saja bila ada manusia yang tak pernah mampu menemukan Tuhan. Bagaimana pun juga, untuk mampu memahami Yang Maha Tinggi, tentunya manusia harus mampu menggunakan bentuknya yang paling tinggi, yaitu bentuk ruh.

Oleh karena itu, Islam selalu menganjurkan penganutnya untuk berpuasa. Karena puasa adalah salah satu dari sekian cara agar manusia mampu menanggalkan sifat-sifat jasadinya menuju sifat-sifat ruhaniahnya dan menjadi manusia paripurna. Dalam keadaan yang paripurna inilah manusia mampu memahami Tuhan.

Memikirkan Dia Yang Maha Besar adalah sebuah keniscayaan bagi mereka yang mencari makna hakiki kehidupan. Proses ini tak jarang membuat pelakunya berada sangat dekat dengan Tuhan. Mungkin inilah alasan mengapa teman saya meluncurkan argumen bahwa mereka yang atheis adalah orang-orang yang selangkah lagi menuju Tuhan. Soal menemukan kebenaran adalah kehendak Dia Yang Maha Kuasa dan Bijaksana.

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. [Ibrahim: 4]

13 thoughts on “Pikirkan dan Pahamilah, Bahwa Tuhan Itu Ada

  1. heru berkata:

    saya ingin bertanya….
    apakah derajat manusia itu sama di mata allah dan yg membedakan itu keimanan,ketaqwaan dan amal manusia itu sendiri ?

  2. Aliah berkata:

    Yeah, Yudha emang penulis handal… Pemikiran Yudha udah tingkat tinggi.

    Bagi Aliah yg ilmunya masih di level dasar, memikirkan Tuhan adalah sederhana: Sholat, Puasa, Mengaji, Beramal Soleh. Semuanya dilakukan semata-mata rasa cinta ke Allah. Bukannya kalau kita mencintai, kita akan terus memikirkan orang yang kita cintai?? Yang pasti, kalau memikirkan Allah itu bikin kita tenang sekaligus senang.

    Apa memikirkan Tuhan = berzikir, Yud?

    • Yudha P Sunandar berkata:

      yups, memikirkan Allah itu sama dengan berdzikir. nah, yg dmaksud “Hidup ini adalah Ibadah” dalam Islam, senantiasa mengingat-Nya. kalo udah kita ingat terus ke Dia, mau makan pun ibadah, mau jalan pun ibadah. sampai, tidurny pun ibadah, karena didasari ingat ke Dia. kalo kita ingat Dia, insya Allah Dia pun akan mengingat kita. karena, sholat pun pada hakikatny mengingat Dia yang paling besar, dzikrul akbar.

      insya Allah, kalo ingat Dia terus, mau melakukan kgiatan yang tidak senonoh pun, jadi tertahan. karena, ya itu tadi, ingat Dia.πŸ™‚

      seperti kau bilang tadi, seperti mencintai seseorang. biasanya, kalo kita cinta k orang, orang itu akan merespon balik k kita. dan akhirnya. mau makan teringat pada orang yg dcintainy, mau minum teringat pada orang yang dicintainya.

      nah, kalo udah cinta ama Allah, yah semua cinta yang kita peruntukan untuk slain Allah, insya Allah berlandaskan cinta-Nya. sehingga, cinta kita pun akhirnya ibadah.πŸ™‚

  3. Zada Barabai berkata:

    berbicara tentang Tuhan, kita tdk bisa lagi bicara akal, tapi bicara rasa dan iman. dgn imanlah kita merasakan eksistensi-Nya. kalau kita membicarakn Tuhan hanya semata dgn akal.. takutnya kita kan rancu dlm memahaminya. yg pertama kita harus mengimani bahwa Tuhan adalah Maha segala2nya yg tak terbatas.. nahh.. sekarang kita kembalikan pd diri kita atau otak kita yg jelas adalah pemberian-Nya yg terbatas.. pertanyaannya “mampukah yg terbatas mengetahui sesuatu yg tdk terbatas..?”
    mari kita renungkan sama2..

  4. originofme berkata:

    harus diakui yudha penulis hebat…., tapi penulis hebat sekalipun membutuhkan panduan.., saran ku pelajari dasarnya dulu (kitab tauhid, tafsir ibnu katsir, riyadhusshalihin, dll )… agar akarnya kuat jangan langsung kembang nya… tapi kuakui kalimatnya memang memukau… bukan penilaian manusia yg kukhawatirkan…, tapi penilaian Allah terhadapmu sodaraku… berilmu itu bukan karena banyak hafalan riwayat tapi karena besarnya rasa takut kepada Allah.. maaf sebelumnya… tapi ini tentang tauhid brow…

  5. irfan berkata:

    saya sama akang emang beda haluan.

    salah satu ciri kebenaran adalah tahan uji.
    saya punya beberapa pertanyaan.
    tapi kalau mau diposting di facebook saya mau komen di sana aja sih.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      biasanya secara otomatis akan jadi notes d facebook, sih. tinggal tunggu waktu sekitar 3 – 4 jam ke depan.

      yah, mari kita berdiskusi. xixixi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s