Dan Dialah Jas Cokelat Klasik Itu…


Umurnya 1 tahun lebih tua dari saya. Dia menemani bapak saya 26 tahun lalu ketika mengucapkan ijab-kabul di depan bapak dari ibu saya. Sebuah jas warna cokelat klasik yang saat ini jadi pakaian kesukaan saya dan menemani saya ketika menghadiri beberapa kegiatan resmi.

Jas ini dipesan oleh bapak saya beberapa bulan menjelang pernikahannya dengan ibu saya. Beliau cukup mengagumi jas tersebut lantaran hingga saat ini masih dalam kondisi baik. Tidak ada benang yang terurai, tidak ada bagian yang sobek, dan selalu tampak seperti baru.

Beberapa teman juga menyukai jas tersebut. Mereka menilai jas tersebut sangat klasik dan masih enak digunakan. Bahkan beberapa di antaranya ada yang bertanya tempat saya membeli jas tersebut. Kalau udah pertanyaannya kaya gitu, saya selalu bangga menyampaikan bahwa jas itu lebih tua dari umur saya dan dipergunakan ketika bapak saya menikah.

Saya sendiri mengenal jas cokelat klasik itu ketika saya menginjak bangku Sekolah Dasar (SD), kira-kira ketika saya kelas 4. Karena begitu hangat dan nyaman digunakan, seringkali saya pakai ketika saya sedang sakit dan meriang. Waktu itu jas tersebut masih begitu besar di badan saya. Sehingga ketika saya pakai, bisa menutupi tubuh saya hingga lutut.

Tak jarang jas itu juga menemani tidur saya. Ketika cuaca begitu dingin, jas cokelat klasik menghangatkan saya dan mempernyenyak tidur saya. Ujung-ujungnya bapak saya pernah ngeluh ketika menggunakannya karena jadi terasa tidak nyaman.

Sejak saat itu, saya tidak pernah menggunakan jas cokelat klasik untuk tidur, bahkan ketika saya sedang sakit. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, jas cokelat klasik tersebut akhirnya bisa nyaman lagi digunakan. Entah bagaimana ceritanya, yang jelas bapak saya tidak pernah mengeluh jasnya tidak enak digunakan, dan saya pun merasa nyaman memakai jas cokelat klasik.

Setelah lama tidak digunakan, menjelang kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) saya mulai kembali memakainya. Tidak jelas kapan dan untuk urusan apa saya mulai kembali menggunakannya. Yang jelas, ketika itu, jas tersebut sudah sedikit agak sempit di badan saya.

Hingga akhirnya orang tua saya pindah ke Majalengka, Jawa Barat. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya jas cokelat klasik itu dibawa oleh saya. Yah, tampaknya bapak saya mewariskannya untuk saya.

Sejak kepindahan di tahun 2005, saya mulai memakai jas cokelat klasik itu sejak 2 tahun terakhir ini. Biasanya saya menggunakannya ketika menghadiri acara-acara resmi seperti pernikahan dan seminar. Namun, tak jarang saya juga menggunakannya bila sedang ingin terlihat rapih dan keren.

Biasanya saya menggunakannya dipadukan dengan kaos putih dan celana krem kesukaan saya. Akhir-akhir ini, saya juga menggunakannya bersama kemeja putih dan rompi cokelat agar tampak lebih rapih dan formal.

Dan saya berharap, jas cokelat klasik ini juga bisa menemani saya ketika saya berjabat erat dengan mertua saya, ketika saya mengucapkan ijab-kabul kelak. Semoga…

8 thoughts on “Dan Dialah Jas Cokelat Klasik Itu…

  1. Zada Barabai berkata:

    wah.. wah.. saya ikut bangga dgn anda. berarti anda bisa menghargai sebuah peninggalan sejarah.. bahkan org tua anda lebih bangga lagi meliat anaknya mengenakan sesuatu yg berkenaan dgn sejarah mereka. di mana jaket itu akan mengingatkan mereka sebuah moment yg tak kan pernah mereka lupakan, sebuah moment kebahagian bagi mereka tuk menuju penciptaan anda.. he he
    saya salut dgn anda.. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s