Bandung Air Show 2010 Hanya Ajang “Foto Bersama Pesawat” Masyarakat


Bandung Air Show (BAS) 2010, helaran pameran kedirgantaraan di Bandung, berakhir sudah. Setelah 10 tahun lamanya tak pernah diselenggarakan, kegiatan ini akhirnya terwujud juga berkat iming-iming ulang tahun Bandung yang ke-200 tahun.

Setelah beberapa kali rencana untuk datang ke BAS 2010 gagal, akhirnya hari Minggu (26/9) lalu saya berhasil juga menjambangi bandara Husein Sastranegara yang berada di bilangan jalan Padjadajaran, Bandung. Sampe ke lokasi sekitar pukul 10, dan loket penjualan tiket benar-benar penuh sesak dan tak terkelola dengan baik.

Antrian panjang di depan loket tiket, benar-benar tidak bisa bergerak. Penyebabnya banyak orang yang tidak sabaran untuk masuk sehingga menyerobot di depan loket. Barisan antrian pun tidak jelas. Tampaknya panitia tidak mempersiapkan antrian tiket dengan baik sehingga antrian tiket menjadi tak karuan dan sedikit ricuh.

Kurangnya loket tiket yang disediakan pun, hanya ada 4 loket, saya nilai makin memperparah keburukan tatanan pengelolaan pembelian tiket. Padahal, di zaman serba online ini, seharusnya panitia mampu menyediakan tiket online. Atau, panitia juga bisa menyediakan tiket box yang tersebar di seluruh Bandung. Sehingga, ketika tiba di lokasi, pengunjung yang sudah memiliki tiket, bisa langsung masuk.

Meskipun harga tiket masuk terbilang murah, yaitu hanya 7.500 Rupiah, tetapi saya lebih suka bila tidak ada tiket masuk seperti Bandung Air Show 10 tahun lalu. Alasannya agar tidak terlalu ricuh dan memudahkan akses masuk. Namun, saya sadar bahwa pemasukan dari tiket cukup menggiurkan penyelenggara. Diprediksi jumlah pengunjung BAS 2010 mencapai lebih dari 150 ribu orang*. Bila dikalikan dengan harga tiket, pendapatan yang diperoleh penyelenggara dari tiket mencapai 1,123 milyar Rupiah.

Setelah mengantri cukup cepat karena saya “terpaksa” menyerobot juga, akhirnya dapat juga kertas yang dipercaya mampu membuat pemegangnya melihat pesawat di dalam area BAS 2010. Benar saja, ketika saya berjalan ke arah gerbang area pameran, saya dipersilahkan masuk oleh pria berseragam dan berbaret biru.

Tiba di area pameran, saya sebenarnya agak tidak mood untuk berjalan-jalan, apalagi memotret. Sudah terlalu capek mengantri tiket dan mengantri di gerbang masuk yang sumpek habis. Namun, setelah sejenak menghela nafas, saya pun melangkahkan kaki pertama dengan melihat pesawat pertama yang dipamerkan, N-250.

N-250 sendiri merupakan pesawat yang dirancang dan dibuat oleh Indonesia melalui PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia (DI). Pesawat ini diresmikan pada 10 Agustus 1995 dan membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa membuat pesawat dengan mandiri.

Pesawat N-250, salah satu pesawat yang mewarnai ajang BAS 2010. (Foto: Yudha PS)

Pesawat N-250, salah satu pesawat yang mewarnai ajang BAS 2010. (Foto: Yudha PS)

Sayangnya, program pengembangan N-250 dihentikan sebagai bagian dari persyaratan pemberian pinjaman oleh IMF pada pemerintah saat krisi moneter kala itu. Hingga saat ini belum ada keputusan pemerintah untuk melanjutkan pengembangan pesawat itu lagi*.

Selain N-250, pesawat lainnya yang dipamerkan, antara lain: McDonnell Douglas, Cessna, Woong Bee, dan AS-202 Bravo. Sayangnya, tidak ada keterangan informasi tentang pesawat yang dipamerkan. Sehingga, BAS 2010 lebih cocok disebut ajang “Foto dengan Pesawat” dibandingkan ajang “Pendidikan Kedirgantaraan”.

Salah satu pengunjung beserta anak-anaknya tengah berfoto dengan salah satu pesawat yang dipamerkan di BAS 2010. (Foto: Yudha PS)

Salah satu pengunjung beserta anak-anaknya tengah berfoto dengan salah satu pesawat yang dipamerkan di BAS 2010. (Foto: Yudha PS)

Batasan antara pengunjung dan pesawat pun tampaknya tidak disiapkan dengan baik, hanya berupa tali rapia yang di pasang sekitar 2 meter dari pesawat. Tentu saja, pengunjung jadi bisa seenaknya melewatinya dan mendekati pesawat, meskipun sudah dilarang berkali-kali oleh penanggung jawab pesawat.

Dampaknya bisa saja fatal. Mengingat pesawat terdiri dari peralatan yang sensitif. Bila tidak hati-hati, bisa-bisa ada instrumen pesawat yang rusak sehingga menyebabkan hal yang fatal ketika terbang, seperti kegagalan instrumen yang bisa menyebabkan pesawat jatuh atau kegagalan pendaratan.

Dan tampaknya antusiasme pengunjung terhadap pesawat memang besar. Terbukti ketika ada pesawat Air Asia yang sedang transit dan siap berangkat lagi, pengunjung langsung berbondong-bondong mendekati pesawat. Mereka tampaknya ingin melihat proses pemberangkatan sekaligus proses tinggal landas. Bagi yang membawa kamera, langsung mengarahkannya ke pesawat yang siap tinggal landas tersebut.

Berikut foto-foto yang menunjukan antusiasme pengunjung ketika pesawat Air Asia hendak lepas landas.

Pengunjung BAS 2010 berbondong-bondong berkumpul di sekitar pesawat Air Asia yang sedang bersiap tinggal landas. (Foto: Yudha PS)

Pengunjung BAS 2010 berbondong-bondong berkumpul di sekitar pesawat Air Asia yang sedang bersiap tinggal landas. (Foto: Yudha PS)

Beberapa pengunjung yang membawa kamera atau pun ponsel berkamera, mengabadikan pesawat Air Asia yang hendak lepas landas. (Foto: Yudha PS)

Beberapa pengunjung yang membawa kamera atau pun ponsel berkamera, mengabadikan pesawat Air Asia yang hendak lepas landas. (Foto: Yudha PS)

Beberapa pengunjung memilih menaiki panser agar mampu dengan jelas melihat pesawat Air Asia yang hendak lepas landas. (Foto: Yudha PS)

Beberapa pengunjung memilih menaiki panser agar mampu dengan jelas melihat pesawat Air Asia yang hendak lepas landas. (Foto: Yudha PS)

Selain pesawat, diperlihatkan juga hanggar pemeliharaan pesawat. Di sini pengunjung bisa melihat beberapa bagian pesawat yang sedang diperbaiki beserta mesin-mesinnya. Namun, tampaknya pengunjung tidak terlalu suka mengunjungi “bengkel pesawat”. Terbukti, tempat ini sepi dari kunjungan.

Didampingi mahasiswa Universitas Nurtanio Bandung, seorang anak sedang mencoba menerbangkan pesawatnya. (Foto: Yudha PS)

Didampingi mahasiswa Universitas Nurtanio Bandung, seorang anak sedang mencoba menerbangkan pesawatnya. (Foto: Yudha PS)

Namun, di hanggar lainnya suasananya ramai dengan pengunjung. Suara pesawat terbang, terdengar sangat keras dari sini. Ternyata, semua stand di tempat ini memamerkan simulator pesawat terbang. Meskipun hanya bermodalkan komputer dan joystick, tapi banyak pengunjung, terutama anak kecil, yang mengantri untuk mencoba permainan simulator terbang. Adapun stand yang berdiri di tempat ini berasal dari Teknik Penerbangan ITB, indoflyer.net, serta Universitas Nurtanio.

Karena tidak kebagian mencicipi simulator terbang, akhirnya saya memilih untuk berkunjung ke stand lainnya. Salah satunya adalah stand dari Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU. Di stand ini, mereka memamerkan persenjataan TNI AU. Namun sayang, senjatanya tidak dapat saya coba lantaran dirantai dan dijaga ketat oleh prajurit Paskhas.

Stand lainnya, tampaknya tidak terlalu menarik bagi saya. Terutama tenda besar tempat stand-stand dinas di bawah pemerintahan Kota Bandung yang tidak ada hubungannya dengan dunia kedirgantaraan sama sekali. Padahal, stand-stand tersebut lebih baik diisi oleh perusahaan-perusahaan penerbangan di Indonesia. Setidaknya, bisa lebih mendekatkan masyarakat dengan dunia penerbangan.

Hal yang mengganggu bagi saya di pameran ini adalah kurangnya tempat sampah di area kegiatan. Sepanjang menjelajahi area pameran, saya hanya menemui 2 tong sampah yang penuh dengan sampah. Padahal, Danlanud Husein Sastranegara, kolonel penerbang Asep Adang Supriyadi, mengeluhkan sampah yang dihasilkan pengunjung pameran*.

Selain itu, hal yang disayangkan lainnya adalah ditiadakannya atraksi pesawat usai jatuhnya pesawat yang ditunggangi almarhum Alexander Supelli. Sebagai gantinya, pesawat radio-control melakukan antraksi di udara. Meskipun begitu, tetap saja kurang greget bila dibandingkan atraksi udara yang dilakukan pesawat asli. Terlebih lagi pesawat tempur yang jarang terlihat di Bandung.

Seorang penerbang pesawat radio-control tengah membawa pesawatnya seusai menerbangkannya di atraksi udara BAS 2010. (Foto: Yudha PS)

Seorang penerbang pesawat radio-control tengah membawa pesawatnya seusai menerbangkannya di atraksi udara BAS 2010. (Foto: Yudha PS)

Secara garis besar, penyelenggaraan Bandung Air Show 2010 kurang memuaskan bagi saya. Banyak hal yang harus dibenahi, baik dari sisi manajemen kegiatan maupun teknis di lapangan. Penilaian saya, kegiatan ini bernilai 3,5 dari skala 10.

Hendaknya, Bandung Air Show tidak hanya ajang “Foto Bersama Pesawat” masyarakat. Namun, harus mampu mengkomunikasikan informasi mengenai pesawat dan pentingnya membangun kembali industri kedirgantaraan di tanah air.

Semoga, di masa yang akan datang, pengelolaan Bandung Air Show bisa lebih baik dan profesional serta mampu memasyarakatkan dunia kedirgantaraan di lingkungan Bandung dan sekitarnya.

10 thoughts on “Bandung Air Show 2010 Hanya Ajang “Foto Bersama Pesawat” Masyarakat

  1. Agung berkata:

    Wah Yud, saya jam 10 malah masih di jalan padjajaran yang macet berat menuju Husein. Akhirnya karena ada acara lain, balik kanan deh. Bye bye BAS.
    Tapi kalo lihat dari reportasemu, nggak nyesel banget deh nggak dateng kalau lihat manajemen yang kurang.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      memang enakny pake kendaraan umum saja, mas. ribet memang kalo udah macet gitu.
      ketika pulangny, sy juga harus berjalan kaki sampai istana plaza karna ngak ada angkutan umum. tpi, katany hari pertama dan kedua suasanany cukup nyaman.
      mudah2an event ini bisa rutin terselenggara dan tim manajemen bisa lebih baik lg mengelola kegiatan ini.

  2. cicifera berkata:

    iya kak, setuju.. dsana malah foto2 aja.. masyarakat bludak, tapi hanya rame untuk berfoto.. untungnya saya kesana ngajak orang yang tau banyak tentang pesawat, jadi dy deh yg jadi guide tentang ini itu.. seharusnya dari pihak penyelenggara menyiapkan beberapa guide, agar masyarakat umum tau tentang pewasat dan yang lainnya..😀

  3. bayu berkata:

    Yudha,

    terima kasih sudah menuliskan acara ini, aku pengen ke Bandung liat tp tabrakan dengan acara lain. Paling tidak aku sudah bisa menikmati BAS ini lewat tulisan dan fotomu.

    Ya semoga masukan ini didengar petinggi2 bandung air show, tahun depan ada lagi , dan lebih mendidik soal kedirgantaraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s