The Way of Learning…


Foto: nattc.org

Foto: nattc.org

Bila saya mengkategorikan bahwa memperoleh informasi adalah kebutuhan mendasar setiap manusia, berarti saya pun mengkategorikan bahwa belajar adalah kebutuhan mendasar bagi manusia, setidaknya bagi saya. Karena, kebutuhan informasi yang bersifat luas dan mendalam, dapat digapai dengan belajar.

Bagi kita yang bisa mengakses pendidikan, belajar diperoleh dengan bersekolah. Duduk di ruang kelas, kemudian mendengarkan dan melakukan apa yang pengajar sampaikan. Hasilnya, kita menjadi tahu. Sampingannya, kita mendapatkan ijazah dan terpandang di masyarakat karena dianggap orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan.

Proses belajar ini terlembagakan menjadi sekolah. Efek sampingnya, selain yang saya sampaikan di atas, pelajar juga harus membayar biaya bersekolah. Namun, dalam jangka panjang, biaya ini memicu komersialisasi dan kastanisasi pendidikan.

Sekolah sebagai institusi yang merasa dibutuhkan, bisa menaikan biaya pendidikan dengan alasan kualitas. Di tataran masyarakat, hanya mereka yang mampu secara ekonomi yang mampu duduk di bangku sekolah. Sedangkan yang tidak mampu, silahkan mengakses sekolah yang biasa-biasa saja, atau bahkan tidak perlu sekolah. Kesenjangan pendidikan, kesenjangan informasi, berujung pada kesenjangan sosial.

Meskipun begitu, bagi yang ditakdirkan untuk maju, mereka tergerak untuk terus belajar dengan caranya sendiri. Sebutlah salah satunya Ajip Rosidi. Sastrawan asal Jatiwangi ini, hanya bersekolah hingga kelas 2 SMP. Selebihnya, dia belajar secara autodidak. Hasilnya, dia menjadi guru besar dalam bidang sastra di Jepang. Ajip bukan tidak mampu melanjutkan sekolah hingga SMA, bahkan kuliah. Namun karena takdirnya untuk maju sebagai orang yang autodidak, menjadikan dia tergerak untuk terus belajar, belajar, dan belajar tanpa bersekolah.

Saya jadi teringat ketika saya benar-benar jenuh dengan suasana di kelas ketika sekolah dulu. Sempat tercetus keinginan untuk saya belajar secara bebas. Tidak terkungkung oleh ruangan kelas. Punya guru yang tidak dibatasi oleh lingkup institusi pendidikan resmi. Pun pelajaran yang sesuai dengan potensi, minat, dan bakat saya.

Beberapa tahun berlalu sejak keinginan itu terngiang, dan saya mendapati diri saya belum jadi apa-apa. Kalau parameternya jenjang pendidikan formal, Sarjana pun tidak kesampaian oleh saya. Bukan tidak punya uang, tapi selalu tidak ada kesempatan.

Ketika waktu menunjukan selain bulan Juni, Juli, Agustus, dan September, saya punya cukup uang untuk mendaftarkan diri duduk di bangku kuliah. Namun, menjelang bulan Juni hingga September yang notabenenya waktu pembukaan pendaftaran mahasiswa baru, ada saja yang membuat uang tabungan untuk mendaftar kuliah tidak ada di tempat. Pun dengan tawaran “dibayarin” kuliah. Selalu saja bermasalah mendekati masa pendaftaran kuliah.

Meskipun begitu, saya seharusnya bersyukur dengan keadaan ini. Keinginan saya untuk belajar tanpa dibatasi kelas, memiliki guru tanpa dibatasi institusi, dan pelajaran yang sesuai dengan potensi, minat, dan bakat saya, sedikit demi sedikit terwujud.

Foto: canterbury.ac.uk

Foto: canterbury.ac.uk

Saya selalu dimudahkan untuk bertemu dengan orang-orang yang ahli di bidang yang saya geluti. Mereka pun dengan senang hati selalu bercerita panjang lebar tentang sebuah topik yang berada di lingkup bidang yang saya geluti saat ini. Padahal, saya tahu mereka sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk bercerita panjang lebar seperti itu.

Konsekuensinya, saya tidak memiliki institusi resmi tempat saya bernaung. Saya pun tidak memiliki secarik kertas yang menerangkan bahwa saya telah mempelajari bidang tertentu dengan paparan nilai yang saya raih selama belajar. Konsekuensinya lainnya, saya harus berkarya agar orang tahu kemampuan saya.

Yah, saya menyadari bahwa keadaan ini indah. Bagaimana pun, keinginan saya terkabul, dan saya harus mensyukuri itu.

Dalam hidup, manusia dianugerahi kemampuan dan jalan hidup yang berbeda. Peranan manusia di dunia tentunya tidak sama antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dan inilah salah satu peran hidup saya, sebagai seorang pembelajar yang tanpa kelas, dengan guru yang tak dibatasi institusi, dan dengan pelajaran yang sesuai dengan potensi, minat, dan bakat saya.

2 thoughts on “The Way of Learning…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s