News Room IV, Model Baru Alur Kerja Keredaksian


Foto: nefinc.org

Foto: nefinc.org

Setelah lama tak bersua, akhirnya saya kembali mendapatkan kuliah jurnalistik dari Sang Pakar. Kali ini temanya tentang News Room.

News Room atau dalam bahasa Indonesia disebut Ruang Berita, merupakan tempat bagi jurnalis–baik itu reporter, editor, redaktur, dan produser, beserta dengan staff lainnya–bekerja bersama-sama untuk mengumpulkan berita yang selanjutnya dipublikasikan melalui koran atau majalah, atau dipancarkan melalui televisi, kabel, atau radio. Dengan kata lain, alur kerja sebuah media dari mulai pengumpulan berita hingga mempublikasikannya di media massa.

Dalam perkembangannya, News Room telah berevolusi hingga bentuk keempat yang dikenal dengan News Room IV. Sebelum saya bercerita tentang News Room IV, saya ingin memaparkan dulu mengenai News Room I, News Room II, dan News Room III.

News Room I merupakan alur kerja dengan banyak jurnalis, banyak redaktur, dan banyak media massa. Dalam alur kerja ini, masing-masing jurnalis mengumpulkan berita untuk redaktur dan media massa yang spesifik. Bukan hanya spesifik secara jenis medianya saja, tetapi juga spesifik secara jenis beritanya juga, baik di tingkat jurnalis maupun di tingkat redaktur. Sehingga News Room I mensyaratkan banyak sumber daya manusia.

News Room I

Skema News Room I

Sedangkan News Room II, tidak perlu banyak jurnalis yang spesifik terhadap media. Jurnalis dituntut mampu membuat berita untuk berbagai media massa. Sedangkan yang bertugas memilah berita dan bekerja spesifik sesuai jenis medianya adalah redaktur.

Skema News Room II

Skema News Room II

News Room III lebih ramping lagi. Dalam alur kerjanya, tidak hanya jurnalis yang dituntut mampu membuat berita untuk berbagai media massa, tetapi juga sang redaktur. Redaktur dituntut untuk mampu menguasai pengolahan informasi untuk berbagai jenis media massa. Tentu saja, alur kerja ini tidak mensyaratkan banyak sumber daya manusia.

Skema News Room III

Skema News Room III

Nah, untuk News Room IV, lebih canggih lagi. Selain tidak perlu banyak sumber daya manusia, sang jurnalis juga diberi kewenangan untuk langsung mempublikasikan hasil liputannya. Sedangkan tugas redaktur hanya memantau dan memberi masukan tentang apa yang ditulis sang jurnalis. Selain itu, tugas redaktur fokus memikirkan konsep media berkaitan dengan animo masyarakat terhadap informasi.

Model News Room IV juga akan sangat efektif bila ditunjang oleh divisi riset yang mumpuni. Divisi riset ini tugasnya mengumpulkan berbagai data dan fakta yang terjadi di masyarakat. Sumbernya pun bukan hanya dari jurnalis semata, tetapi dari masyarakat, termasuk di dalamnya praktisi, pakar, peneliti, akademisi, hingga pemerintahan.

Masyarakat didorong untuk menulis dan memasukan kontennya ke dalam Content Management System (CMS) milik media. Dalam jangka panjang, hal ini sangat membantu media untuk menghadirkan konten-konten yang tidak hanya cepat, tetapi juga mendalam dan menyeluruh.

Skema News Room IV

Skema News Room IV

Saya sedikit mempertanyakan tentang News Room IV ini. Saya mempertanyakan perihal kontrol terhadap konten dari sang jurnalis.

Sang Pakar menjelaskan dalam pengendalian (controling) di redaksi, ada 2 metode, Pre-Treatement dan Post-Treatement. Pengendalian Pre-Treatement menitikberatkan peran redaktur untuk memfilter dan menyunting bahasa dan konten reportase. Jadi, semuanya ada di tangan redaktur.

Sedang pada Post-Treatment, peran redaktur hanya memberi kritik dan masukan terhadap reportase jurnalis yang telah dipublish di media massa.

Foto: lathropgage.com

Foto: lathropgage.com

Nah, dalam Pre-Treatement, kebanyakan jurnalis bergantung kepada redaktur. Terkadang, reportase yang diberikan jurnalis kepada redaktur, tidak ditulis dengan sebaik-baiknya karena jurnalis berpikir bahwa semuanya akan diperbaiki oleh redaktur. Sehingga, seringkali kemampuan jurnalis tidak berkembang karena semuanya diserahkan kepada redaktur.

Sedangkan dalam Post-Treatement, kemampuan jurnalis dipaksa untuk berkembang. Jurnalis dituntut membuat reportase sebaik-baiknya. Sehingga para jurnalis harus melengkapi dirinya dengan kemampuan berbahasa yang baik, pemahaman etika jurnalistik yang menyeluruh, serta pemaparan konten yang mendalam.

Sehingga, dalam News Room IV, kepercayaan kepada jurnalis sudah cukup tinggi. Jurnalis di News Room IV, memiliki kemampuan yang baik dalam keredaksian dan apa yang ditulisnya bisa dipertanggung jawabkan kepada publik.

Konsep News Room IV ini memang masih relatif baru. Namun, sangat efektif diterapkan pada media yang tidak mampu mempekerjakan banyak orang. Contohnya saja di Selandia Baru. Sebuah media massa di sana hanya memiliki 30 orang jurnalis. Namun, media massa ini mampu menghasilkan 1.600 halaman konten dalam seminggu. Sedangkan di Indonesia, media massa koran yang memiliki 500 orang jurnalis, hanya mampu menghasilkan konten 32 halaman per hari atau 224 halaman per minggu.

Dengan konsep News Room IV ini pula, manusia tidak lagi dianggap sebagai sumber daya (resources), tetapi telah menjadi modal (capital). Sehingga ketika menjadi modal, manusia lebih dihargai lantaran telah menjadi kebutuhan vital sebuah perusahaan.

Analisis kebutuhan informasi di masyarakat pun, mudah diketahui bila media massa menggunakan konsep News Room IV. Hal ini bisa dilihat dari kecenderungan konten dari masyarakat yang telah terkumpul di CMS milik media. Dengan kemudahan menganalisis kebutuhan informasi di masyarakat ini, media massa bisa dengan mudahnya membuat media baru yang lebih tematik. Karena bermain di tingkat kebutuhan masyarakat, modal dan iklan pun relatif mudah didapatkan.

Foto: chrisvanstone.com

Foto: chrisvanstone.com

Meskipun begitu, konsep News Room IV ini belum cocok diterapkan di Indonesia. Media massa di Indonesia paling banter hanya bisa menerapkan konsep News Room III. Alasannya, masih minimnya ketersediaan database dan konten yang dimiliki di Indonesia.

Konsep News Room IV membutuhkan data dan konten internet yang terekam dengan baik. News Room IV baru bisa diaplikasikan di negara maju dengan konten internet yang berlimpah.

Sang Pakar juga berbagi pengalamannya ketika menjadi jurnalis BBC di Inggris. Ketika itu, beliau ditugaskan meliput mengenai sebuah perusahaan batubara di Inggris. Untuk mengumpulkan fakta di lapangan, beliau tidak perlu turun ke lapangan. Semua data sudah terkumpul di internet. Bahkan, truk perusahaan yang digunakan untuk mengangkut batu bara, bisa dengan mudah ditelusuri. Catatan mulai tanggal pembelian, tanggal turun mesin, hingga siapa pembeli truk itu selanjutnya, ada di internet.

Tentunya, sang jurnalis dapat menghemat banyak waktu dan tenaga. Kondisi ini ditunjang dengan banyaknya konten yang masuk dari masyarakat ke CMS-nya media massa. Sehingga tak heran, dengan hanya 30 orang saja, sebuah media massa di Selandia Baru yang hanya memiliki 30 jurnalis, mampu menghasilkan 1.600 halaman konten dalam seminggu.

Kembali ke News Room III yang kini paling banter digunakan di Indonesia. Penggunaan konsep ini dapat mengefektifkan manusia. Contoh pengaplikasiaannya di Indonesia pada sebuah grup media massa.

Misalnya saja sebuah grup media massa bernama Qwerty memiliki 3 media massa cetak, yaitu: media Abc, Xyz, dan Ghi. Tidak perlu memiliki barisan redaktur dan jurnalis untuk masing-masing media massa cetak. Cukup memiliki barisan jurnalis dan redaktur dalam grup media massa Qwerty.

Misalnya saja segmentasi ketiga media cetak di bawah grup media Qwerty adalah sebagai berikut:

  • Media Abc, segmentasinya menengah ke bawah
  • Media Xyz, segmentasinya menengah ke atas
  • Media Ghi, segmentasinya untuk masyarakat kedaerahan
Foto: newsroom-magazine.com

Foto: newsroom-magazine.com

Ketika sang jurnalis mendapatkan berita, dia harus tahu media apa yang cocok untuk beritanya tersebut. Misalnya saja, berita pembunuhan cocok untuk Media Abc. Lalu, bila sang jurnalis mendapatkan berita yang membutuhkan analisis mendalam, cocok untuk media Xyz. Kemudian, berita-berita kebijakan daerah, cocok untuk media Ghi.

Redaktur pun bekerja untuk banyak media. Redaktur harus bisa memutuskan bahwa sebuah berita memang tepat dan layak dipublikasikan di media tertentu. Redaktur juga harus memastikan bahwa bahasa yang digunakan cocok untuk segmentasi medianya.

4 thoughts on “News Room IV, Model Baru Alur Kerja Keredaksian

  1. Sukron Abdilah berkata:

    hmmm, saya sudah baca postingan anda di kompasiana. Ini juga kemarin2 info ttg newsroom empat saya peroleh dari kang Haji Budi. bisakah kita tawarkan konsep media seperti ini dengan menggarap dan menawarkan ke media cetak di Bandung. saya ingin bekerjasama dengan kang Yudha. kita rancang bersama2 konten medianya dan lay out halaman. setelah itu kita tawarkan ke media cetak, contohnya PR dulu. saya sedang merancang model media seperti ini kang…terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s