Sekotak Kebaikan untuk Semua


Adzan maghrib mengalun sendu di tengah kemacetan yang tak bertepi di kota Bandung. Angkot menuju Cimahi yang kami tumpangi, entah kapan bisa membawa aku dan Syahdan tiba di Rumah Sakit Dustira tempat Tyas dirawat. Padahal jarakny sudah cukup dekat, 3 Kilometer lagi. Namun macet rutin saban sore ini, membuat kami masih tertahan di angkot yang penuh sesak oleh 12 orang lainnya.

“Sudah waktunya buka, Budh,” sahut Syahdan menatapku.

“Dan kita tidak mempersiapkan untuk berbuka di jalan sama sekali,” timpalku. Kami pikir, pukul 5 sore kami sudah bisa tiba di lokasi dan bisa berbuka dengan Tyas. Ternyata, dugaan kami meleset.

Pun dengan 12 penumpang lainnya. Meskipun sudah waktu berbuka, tapi tidak ada satu pun yang memanggil penjaja kolak di luar angkot. Tampaknya, kedua belas penumpang lainnya tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan berbuka. Bahkan, beberapa di antaranya terlihat menenggak ludahnya sendiri tanda kehausan.

“Kita buka pakai apa, Budh? Beli kolak pisang saja,” tegur Syahdan membuyarkan lamunanku sambil menunjuk ke penjual kolak di luar. “Pilihan yang sulit,” pikirku dalam hati. Tak enak rasanya bila makan berdua dan membiarkan 12 penumpang lainnya tak berbuka.

“Tidak,” jawabku. “Kita buka saja bolu untuk Tyas,” usulku ditanggapi kaget Syahdan. “Lho? Nanti kita kasih apa ke Tyas,” protes Syahdan.

Kudekati telinga Syahdan dan berbisik, “Lihat mereka. Tampaknya mereka tidak punya makanan untuk berbuka. Tidak kah sebaiknya kita berbagi?” Sejenak Syahdan memperhatikan wajah 12 penumpang lainnya yang masih beranjak belum menyantap makanan apa pun semenjak adzan maghrib berkumandang 5 menit lalu.

“Baiklah. Tampaknya mereka lebih utama. Bukankah Ramadhan itu bulan berbagi?” simpul Syahdan sambil membuka bungkus bolu di tangannya.

Kedua belas penumpang lainnya tampak sumringah ketika kami menyodorkan makanan berbuka. Awalnya malu-malu, tapi diambil juga. “Makasih yah, mas,” seru ibu paruh baya di depan kami yang diikuti oleh penumpang lainnya. Dengan lahapnya, mereka menyantap makanan berbuka. Dengan sekejap, bolu pun habis.

Kemacetan berangsur-angsur berkurang. Meskipun kami tidak bisa memberikan sesuatu kepada Tyas yang sedang sakit, tapi kami senang mampu berbagi dan berguna untuk orang lain. Seperti langit yang berbagi rintik hujannya kepada bumi yang sedang kehausan karena kemarau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s