Pilihan Jalan Kehidupan


Foto: t2.gstatic.com

Foto: t2.gstatic.com

Hampir pukul setengah 11 malam ketika itu, Senin (30/8). Perbincangan kami lambat laun mulai ngelantur ngaler-ngidul, meskipun temanya tetap berpijak pada masalah kehidupan dan tetek-bengeknya. Tiga gelas besar minuman, belum juga sempat kami habiskan karena perut ini sudah terlalu penuh untuk dapat memasukan barang apapun ke dalam lambung. Restoran di bilangan Dipati Ukur Bandung, pun lambat laun susut dengan pengunjung yang menyisakan hanya kami berdua.

“Jadi apa visi hidupmu?” sambung teman saya. “Hmm… Saya memilih untuk tidak memiliki tujuan hidup,” jawab saya. Yah, saya memang memilih untuk pasrah ke dalam kehendak-Nya. Tak perlu banyak berkehendak, dan biarkanlah kehendak-Nya yang menghinggapi saya. Let it flow, seperti air yang mengalir.

Teman saya seketika ketawa mendengarkan jawaban saya. “Nice thinking,” komentarnya. “Saya pun sama seperti kamu, tidak memiliki tujuan hidup,” timpal teman saya itu. “Tapi saya memiliki konsep hidup,” sambung dia.

Ini yang menarik bagi saya, ngak punya tujuan hidup, tapi punya konsep hidup. Kemudian dia melanjutkan bahwa dia tidak menentukan apa tujuan hidupnya. Namun, dia tahu apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Seperti misalnya melakukan banyak riset yang hasilnya bisa dinikmati orang banyak.

Nampak seperti tujuan hidup, tapi berbeda. Bila dianalogikan dalam melakukan perjalanan, tujuan hidup adalah kota tujuan kita. Konsep hidup, tampaknya lebih ke jalan mana yang ingin kita lalui. Tidak punya tujuan hidup tapi punya konsep hidup, ibarat melakukan perjalanan tapi tidak punya tujuan kota mana yang dituju. Lebih mencari jalan seperti apa yang ingin dilalui, tidak peduli kota apa yang akan dicapai ketika melewati jalan itu.

Memilih untuk tidak memiliki tujuan hidup, mengantar saya dan teman saya untuk mencoba apa yang kami yakini benar. Contohnya saja, dengan memilih tidak bekerja. “Ngapain juga saya bekerja di perusahaan besar? Saya jadi bekerja untuk orang. Dan saya sendiri pun tidak nyaman ada di situ,” seru teman saya, yang saya setuju juga dengan pandangannya yang satu itu.

“Dari segi tujuan pun, paling tujuannya adalah uang. Kayaknya terlalu sempit kalau hidup cuman tujuannya uang semata,” sambung dia. “Yah, jangan biarkan diri kita mengejar uang, tapi biarlah uang yang mengejar-ngejar kita,” timpal saya.

“Saya lebih nyaman melakukan apa yang saya ingin lakukan. Berkarya, itu yang harus kita lakukan,” simpul teman saya yang saya komentari dengan anggukan tanda setuju.

Malam semakin larut saja. Menjelang pukul 11 malam, kami mulai “diusir” karena sudah tak ada pengunjung lagi di restoran itu. Cerita dua orang anak manusia yang sedang berjalan mencari kebenaran kehidupan, terpaksa harus terhenti.

Meskipun begitu, usaha untuk terus berjalan menapaki jalan kehidupan, tak akan pernah berhenti. Seperti denyut nadi dan alunan nafas insani yang tak pernah mati, hingga akhirnya tiba dan masing-masing dari kami harus pergi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s