Dan Hidup Ini Adalah Ibadah…


Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

160805, angka yang tercatat dalam halaman catatan harian saya, yang tak sengaja dibuka lagi kini. Tak terasa pula, sudah 5 tahun umur catatan itu. Yah, pada 16 Agustus 2005 saya menuliskan sebuah catatan, tepat di halaman dengan kode 160805. Isinya, mempertanyakan hidup.

Waktu itu, saya memusingkan makna hidup. Saya mencoba mencari jawaban atas pertanyaan hidup yang ketika itu sering kali saya ajukan, “Apa itu hidup dan untuk apa?” Pernah saya menjawab bahwa hidup itu untuk beribadah. Namun, hati ini rasanya hambar dengan jawaban itu. Terlalu klise. Hingga akhirnya pertanyaan itu menjadi teman saya dalam mencari kebenaran-kebenaran dalam kehidupan selama 5 tahun ke belakang.

Hingga tiba ketika saya sedang menyendiri di ruangan saya di Salman ITB beberapa minggu yang lalu, 18 Agustus 2010. Di sebelah ruangan saya, sebuah ruang tamu cukup luas, seorang wanita berusia sekitar 27 tahunan, sedang berbincang-bincang dengan kawan saya dari divisi lain.

Si wanita berperawakan agak bule. Rambutnya pirang, kulitnya putih tapi lebih jatuh ke pucat, dan hidungnya mancung serta matanya agak biru. Dari arah percakapannya, tampaknya si wanita adalah seseorang yang berminat untuk masuk Islam. Alasannya, karena teman saya banyak membincangkan mengenai praktek-praktek beribadah dalam Islam.

Dalam hati kecil saya sedikit bertanya, “Kalau ada orang yang ingin masuk Islam dan bertanya tentang Islam, jawaban kamu apa, Yudh?”

Meskipun hanya pertanyaan buah lamunan saya, tapi saya tertarik untuk menjawabnya, “Islam itu pengakuan dan penyaksian bahwa tiada Tuhan yang patut kita pertuhankan selain Allah. Dan mengingat Allah adalah yang harus seorang muslim lakukan bila ingin kegiatannya termasuk dalam kategori ibadah.”

Celetukan jawaban iseng saya ini, tidak saya sangka mampu menawarkan kehausan saya akan makna jawaban tujuan hidup yang saya pertanyakan selama 5 tahun ke belakang. Ketika itu, saya sadar bahwa tujuan hidup seharusnya adalah Yang Maha Tunggal. Karena tentu, kemana lagi harus berserah diri bila tidak kepada Yang Maha Ada. Sesosok dzat Yang Awal dan Yang Akhir.

Agar berkehidupan selalu berada dalam konteks beribadah, idealnya tak boleh lepas dari mengingat Dia. Shalat adalah mengingat Allah yang terbesar dibandingkan mengingat Allah lainnya. Mau makan, kemudian ingat Dia, makan pun bernilai ibadah. Mau tidur, kemudian ingat Dia, tidur pun bernilai ibadah. Mau jalan, kemudian ingat Dia, jalan pun bernilai ibadah. Mau belajar, ingat dia, belajar pun jadi bernilai ibadah.

Jawaban celetukan itu juga menghantarkan saya kepada makna “tujuan hidup adalah untuk beribadah”. Bukan sholat terus menerus tanpa memperdulikan kehidupan dunia. Namun, bagaimana menggabungkan aspek keilahian dengan keduniawian agar berjalan secara selaras dan dalam kesatuan yang lebur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s