La Ilaha Illallah…


Foto: jalansemut.wordpress.com

Foto: jalansemut.wordpress.com

La Ilaha Illallah, kalimat tauhid yang tentunya dikenal oleh sebagian besar masyarakat di dunia, khususnya mereka yang mengaku Islam. Kalimat tersebut merupakan bentuk persaksian bahwa tiada yang patut disembah melainkan Allah.

Dalam sebuah diskusi, seorang kawan menuturkan kalimat yang awalnya tidak saya mengerti, “Syahadat itu kalimat awalnya adalah pengingkaran.” Tentunya pengingkaran yang dimaksud adalah kalimat La Ilaha yang artinya tiada Tuhan, sebuah pernyataan pengingkaran akan aspek ketuhanan.

Terima kasih untuk sang kawan yang telah menjelaskan panjang lebar.

***

Kalimat tauhid La Ilaha Illallah memiliki 2 bagian yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Bagian pertama adalah kalimat La Ilaha, yang berarti tiada Tuhan. Bagian ini disebut juga bagian pengingkaran.

Bagian pengingkaran terhadap segala aspek ketuhanan lainnya ini mensyaratkan seorang manusia yang hendak memeluk Islam, harus menetralkan dirinya dari segala bentuk penghambaan dirinya terhadap tuhan apa pun. Entah itu harta, jabatan, kehidupan, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Hal ini dimaknai juga sebagai memerdekakan manusia dari bentuk penghambaan apapun. Sehingga seorang manusia bebas melakukan apa pun tanpa dipengaruhi oleh aspek-aspek yang dapat membelenggunya untuk memilih.

Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Kemudian, disambung dengan bagian kedua, Illallah, yang artinya kecuali Allah. Maknanya, mengangkat hanya Allah sebagai Tuhan. Maksudnya, setelah penghambaan seorang manusia bernilai nol alias netral, kemudian manusia mengangkat satu Tuhan dan menghambakan diri kepada-Nya, yaitu Allah. Sehingga, segala apapun yang diperintahkan-Nya harus ditunaikannya dan segala apapun yang dilarang-Nya harus dijauhinya.

Kesejatian kalimat tauhid ini terletak pada bagaimana manusia mampu menghambakan diri sepenuhnya kepada satu-satunya Tuhan, yaitu Allah.

Sehingga, untuk mampu menggapai kesejatian kalimat tauhid ini, seorang manusia harus melewati 2 tahap. Pertama, memerdekakan dan menetralkan diri dari pengaruh segala tuhan. Kedua, mengangkat satu Tuhan , yaitu Allah, dan menghamba hanya kepada-Nya.

***

Lalu, mengapa harus diawali dengan kalimat pengingkaran?

Mari kita coba bandingkan dengan kalimat kedua dalam syahadat, Muhammad Darasulullah yang berarti Muhammad itu utusan Allah. Bagaimana bila redaksinya kita samakan dengan kalimat tauhid menjadi, tiada utusan Allah selain Muhammad? Tentunya, perubahan redaksi seperti ini, bermakna bahwa Muhammad sebagai satu-satunya rasul yang diutus Allah.

Foto: photobucket.com

Foto: photobucket.com

Padahal ada banyak utusan Allah di dunia ini sebelum Muhammad, dan 25 di antaranya wajib seorang muslim ketahui dan imani. Sehingga, redaksi kalimat kedua lebih bermakna mengakui Muhammad sebagai salah satu di antara ratusan ribu utusan Allah lainnya.

Begitu pun bila redaksi kalimat tauhid bukanlah kalimat pengingkaran. Bila redaksi kalimat menjadi seperti ini: Allah adalah Tuhanku. Bisa jadi, seorang manusia menempatkan Allah sebagai salah satu dari sekian banyak Tuhan yang disembahnya.

Kesimpulannya, unsur pengingkaran dalam kalimat tauhid adalah kunci penting dari kesaksian seorang manusia akan adanya satu Tuhan. Sebuah dasar dari berdirinya monotheisme dan falsafah keIslaman yang hakiki dan sejati dalam seorang diri manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s