Jadi, Bayarannya…


Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Suatu ketika, seorang biksu diminta menjadi konsultan pribadi seorang pengusaha. Ketika ditanya, “Mau bayaran berapa?” Sang biksu menjawab, “Tidak, saya tidak akan menarik bayaran dari Anda.” “Berarti Anda bukanlah orang yang profesional karena Anda tidak bisa menentukan bayaran untuk diri Anda sendiri,” balas pengusaha tersebut.

Si pengusaha kembali bertanya, “Jadi berapa bayaran Anda?” Sang biksu tetap bersikukuh, “Tidak saya tidak akan menarik bayaran dari Anda.” “Lalu, apa yang akan Anda dapat?” si pengusaha heran. “Kebahagiaan,” jawab biksu yang ditanggapi keheranan oleh sang pengusaha.

Timbal-balik, itulah yang biasa terjadi kini ketika seseorang melakukan sesuatu untuk orang lain. Bila berbentuk fisik, timbal-balik ini adalah sesuatu yang wajar, yang dikenal dengan sebutan jual-beli. Namun bila sesuatu itu bersifat non-fisik seperti ilmu, pelajaran, atau konsultasi tertentu, sang pemberi biasanya akan bilang, “Saya menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan hal ini, dan tentunya Anda harus membayar untuk itu.

Kalau dipikirkan sekilas, memang benar apa yang dibilang pemberi, bahwa dia telah menghabiskan banyak sumber daya untuk mendapatkan apa yang diberikannya kepada orang lain. Namun, kalau dilihat dari pandangan Islam, pandangan tersebut agak sedikit tidak wajar.

Bagaimana pun, Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang harus disampaikan kepada orang lain. Rasulullah berpesan, “Sampaikanlah walaupun satu ayat.” Tak perlu menunggu banyak, meskipun sedikit, makin cepat disampaikan semakin baik.

Setidaknya, ada 2 keutamaan menyebarkan ilmu. Pertama, semakin sering ilmu disebarkan, akan semakin lekat di ingatan. Bahkan, dari proses menyebarkan ini, tak jarang ilmu kita pun menjadi bertambah.

Kedua, ilmu itu datangnya dari Yang Maha Memiliki Ilmu. Menyebarkan ilmu adalah bentuk rasa syukur kita terhadap Sang Maha Tahu. Seperti amalan lainnya, semakin sering diamalkan, semakin Dia akan memberi lebih banyak.

Foto: wilderquill.wordpress.com

Foto: wilderquill.wordpress.com

Hakikatnya, apa yang ada di dunia ini adalah titipan dari-Nya, termasuk ilmu yang mampir kepada kita. Pernahkah terpikir oleh kita, begitu besar kepercayaan Sang Maha Tahu hingga Dia menitipkan sebahagiaan ilmu-Nya kepada kita, dan bukan kepada yang lain? Karena ini adalah titipan dan amanah-Nya, sudah sepatutnyalah kita menjaga titipan ini dan menyampaikan amanah ini kepada mereka yang berhak.

Pun dengan proses mendapatkan ilmu-Nya. Apa yang ada di semesta ini, tak akan terjadi tanpa seizin-Nya, termasuk proses memperoleh ilmu milik-Nya. Itu adalah rezeki, dan di antara rezeki yang dititipkan-Nya kepada kita, ada sebagian rezeki orang lain.

Andai saja kita memang tidak diberi izin untuk memperoleh ilmu dan rezeki-Nya, tentu saja Dia tidak akan mensuplai kita dengan bekal dan tidak akan melancarkan jalan kita untuk memperoleh rezeki itu. Lalu, mengapa kita begitu merasa berhak dan berkuasa meminta ganti rugi atas apa yang dititipkan-Nya kepada kita? Bukankah, karena itu adalah titipan dari-Nya, sudah sepatutnya kita sampaikan kepada mereka yang berhak?

Lalu, bagaimana bisa hidup bila tidak memiliki penghasilan? Namanya hidup ini, sudah ada yang mengatur, termasuk jalannya rezeki. Niatkan semua ini untuk menggapai ridho-Nya, maka apa yang kita perlukan, berangsur-angsur akan datang dan hadir dihadapan kita. Justru, hal baik adalah yang berkecukupan dan tidak berlebihan.

Bagaimana pun, dengan kita memberi untuk masyarakat luas, maka masyarakat luas yang nantinya akan menghidupi kita. Seperti kata seorang filsuf terkenal dunia, Karl Marx, “Ketika kita memilih posisi yang memungkinkan kita memberi sumbangan terbesar bagi kemanusiaan, segala beban tidak lagi memberatkan kita. Karena, semua itu hanyalah pengorbanan bagi sesama manusia. Lalu kita tidak lagi merasa kekurangan, keterbatasan, dan egoisme.

One thought on “Jadi, Bayarannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s