Keabadian Itu Bernama Kesadaran


Foto: newthoughtgeneration.com

Foto: newthoughtgeneration.com

Seminggu lalu, pikiran saya terbang ke masa 25 tahun ke belakang. Ketika itu, kira-kira usia saya masih 4 bulan dalam kandungan. Saya membayangkan bahwa 25 tahun silam, orang tua saya tidak tahu akan seperti apa anak yang keluar dari dalam kandungan ibu saya. Ketika itu, semua masih misteri, pun dengan diri saya sendiri.

Waktu berlalu, dan saya pun tiba di dunia. Keluar dari dalam kandungan, berusia sehari, seminggu, sebulan, setahun. Dan kini menginjak hampir 25 tahun. Tahap demi tahap kehidupan saya pun berlalu. Saya sendiri hampir tidak bisa membayangkan bagaimana waktu berlalu dengan cepat dan saya sudah besar seperti sekarang ini. Seperti segalanya baru kemarin terjadi.

Ada satu hal yang saya cermati dari perjalanan waktu ini, yaitu kesadaran. Kesadaran bahwa kita ada dan hidup di dunia. Dan ketika dibenturkan dengan ketiadaan, kesadaran ini tiba-tiba menjadi sosok yang fana dan semu. Tampak seperti abadi, tapi sebenarnya akan mati dan tak ada lagi.

Bila ditelusuri, saya awalnya adalah zigot, yang tidak memiliki kesadaran sama sekali. Kemudian berangsur-angsur berubah menjadi embrio, kemudian membentuk organ-organi manusia yang disebut janin. Pun kesadaran saya sebagai manusia belum ada sama sekali.

Saya sendiri tidak pernah tahu dan tidak pernah mampu membayangkan bagaimana ketika saya lahir dulu. Yang jelas, kesadaran saya ketika itu tampak belum ada. Entah di mana kesadaran itu berada. Namun, seiring berjalannya waktu, saya pun tumbuh. Begitu pula dengan kesadaran saya sebagai manusia.

Belajar adalah salah satu proses dari terbentuknya kesadaran. Awalnya saya hanya bisa menangis, kemudian mencoba berinteraksi dengan lingkungan sekitar melalui bahasa-bahasa yang dimengerti oleh mereka, dan akhirnya saya berada dalam tahap bahwa saya sadar. Bermula dengan penginderaan, kemudian pemahaman, dan berakhir pada pengertian. Tampak singkat dalam kata-kata, tapi butuh proses panjang untuk itu.

Foto: exper.3drecursions.com

Foto: exper.3drecursions.com

Kesadaran, dan ketika dia berbalur dengan kekinian, mewujudkan keabadian yang semu. Meskipun begitu, ketika saya mencoba menelusuri keberadaan saya mulai dari 25 tahun yang lalu hingga 100 tahun yang akan datang, saya sadar bahwa saya hanyalah sosok yang awalnya tiada, kini ada, dan akan kembali tiada.

Ternyata, keabadian manusia itu hanyalah sosok antara kekinian dan kesadaran. Di luar itu, manusia ternyata fana, bahkan seakan-akan tak nyata, karena hanya lembaran kecil dari perpustakaan kehidupan yang Maha Besar dan Maha Hidup.

Akhirnya saya mengerti sekarang, mengapa kebanyakan filsuf klasik mengatakan bahwa hidup ini semu dan tidak nyata. Yah, karena kita terselip di antara ketiadaan. Apalah artinya ada di antara ketiadaan? Meskipun berusaha keras, tetap saja bahwa saya hanyalah sosok yang awalnya tiada, kini ada, dan akan kembali tiada, cepat atau lambat.

2 thoughts on “Keabadian Itu Bernama Kesadaran

  1. vbeeminer121 berkata:

    nice buat kontemplasi.
    Request tulisan yang full spirit dong…tentang optimisme, cita-cita dan perjuangan.

    hal ihwal pembentukan manusia saja sudah bejuang..komo deui sudah jadi manusia. #OptimisSebagaiTandaSyukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s