Ketika Rasa Adalah Segalanya dalam Beragama


Foto: warkscol.wordpress.com

Foto: warkscol.wordpress.com

Masalah agama adalah masalah rasa, setidaknya itulah yang saya simpulkan setelah membaca buku Dan Dialah Dia karya Andi Bombang. Bagaimana pun, ketika kita memutuskan untuk memeluk agama tertentu, setidaknya agama itu telah cocok dengan hati kita, termasuk cocok dengan konsep keTuhanan dan tata cara beribadah yang ditawarkannya.

Berbicara rasa, tentunya tak jauh-jauh dari berbicara tentang hati dan keterhubungan. Hati adalah pijakan sebuah rasa, sedangkan keterhubungan menandaskan kekuatan dari rasa itu. Hati, rasa, dan keterhubungan adalah aspek yang saling mempengaruhi satu sama lain dan tidak dapat berdiri sendiri. Rasa memerlukan hati untuk berkembang. Untuk tumbuh subur, rasa harus memiliki keterhubungan dengan hati yang lain. Karena, sebuah rasa akan disebut dengan rasa yang sejati, ketika ada saling keterhubungan dengan satu sama lain.

Contohnya saja dengan cinta. Cinta tumbuh di hati. Bukanlah cinta namanya bila hanya satu arah, melainkan rasa suka. Disebut cinta, ketika ada rasa “saling suka” antara satu hati dengan hati yang lain hingga menyebabkan keterhubungan satu sama lain.

Pun dengan beragama. Rasa adalah aspek utama dalam urusan manusia yang satu ini. Tanpa rasa, beragama tampak hanya formalitas. Pada akhirnya, yang membuat agama berguna untuk manusia, adalah rasa itu sendiri.

Rasa dalam beragama, diibaratkan mengetahui rasa sebuah roti. Mengetahui rasa roti bisa melalui 3 cara, yaitu: merasakan langsung, membaca resepnya, dan mengetahuinya dari orang lain. Cara membaca resep dan mengetahui dari orang lain, merupakan rasa yang semu. Dikatakan semu, karena tidak bisa merasakan langsung, hanya sebatas mencoba menghadirkan rasa dari uraian-uraian informasi yang diterima.

Namun, tidak ketika mencoba langsung rasa rotinya. Informasi tentang rasa rotinya, langsung dari sumbernya, yaitu roti itu sendiri. Rasanya nyata dan tidak dibuat-buat. Inilah yang kemudian disebut dengan rasa yang hakiki, rasa yang sebenar-benarnya.

Foto: blog.craftzine.com

Foto: blog.craftzine.com

Begitu pun dengan rasa dalam beragama. Jarang ada orang yang mampu menghadirkan rasa sejati dalam beragama. Biasanya, kebanyakan dari orang beragama mencoba menghadirkan rasa dalam beragama melalui informasi-informasi yang diterimanya. Caranya, biasanya terbatas pada dalil, dan ada pula yang taklid (ikut-ikutan).

Dimaksud dengan rasa dalam beragama, adalah rasa mengenai hakikat keTuhanan. Bahasa populernya adalah iman kepada Allah. Bagaimana pun, inti agama bukan hanya masalah jalan hidup, tapi bagaimana berinteraksi dengan Allah, Sang Tuhan Alam Semesta. Meskipun tidak semua orang setuju, tapi agama adalah jalan untuk mewujudkan interaksi antara Allah dan makhluk ciptaan-Nya.

Iman kepada Allah ini dapat terwujud secara hakiki ketika manusia mengetahui siapa yang mereka sembah. Karena dengan mengenal Tuhannya, manusia mampu mencintainya, dan mampu mendapatkan rasa sejati akan iman kepada Allah.

Keterhubungan dari mencintai dan dicintai, dan mengingat dan diingat, adalah aspek utama untuk menemukan rasa sejati akan iman kepada Allah. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:

Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari

Keterhubungan inilah yang selanjutnya menjadi iman yang hakiki kepada Allah. Rasa cinta telah terbentuk dari interaksi mencintai dan dicintai, dan mengingat dan diingat. Ketika telah mencapai taraf ini, manusia akan selalu mengingat Allah karena Allah senantiasa mengingat dia. Pun tak dapat melupakan Allah, karena Allah tidak pernah melupakan dia.

Untuk menggapai rasa sejati dalam beragama, khususnya beriman kepada Allah, manusia harus mengenali kepada siapa dia menyembah. Dalam surat Al Baqarah ayat 2-3, Allah berfirman:

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Foto: fc00.deviantart.net

Foto: fc00.deviantart.net

Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa mereka yang bertakwa harus beriman kepada yang ghaib. Setelah mampu beriman kepada yang ghaib, kemudian manusia diperintahkan untuk mendirikan shalat. Ghaib dalam surat tersebut bermakna tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Percaya kepada yang ghaib berarti percaya adanya sesuatu yang maujud dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera, seperti adanya Allah, Malaikat-Malaikat, dan Hari akhirat.

Ghaib disebutkan pertama sebelum shalat, mensyaratkan bahwa manusia harus mengenal dan merasakan sosok Yang Maha Ghaib, Allah. Tanpa mengenal dan merasakan Dia Yang Maha Tersembunyi, manusia tidak akan mampu mendirikan shalat lantaran tidak mengenal dan tidak akan mampu merasakan siapa yang disembahnya.

Namun, ketika mengenal dan mampu merasakan Dia Yang Maha Tersembunyi, ibadah mahdhah menjadi lebih khusyuk dan berarti. Tak hanya itu saja. Segala hal yang kita lakukan adalah ibadah. Hal ini disebabkan koridor aktivitas kita didasari rasa mengingat Allah dan melakukan sesuatu karena-Nya serta tak akan pernah lupa kepada-Nya. Pun segala tindak-tanduk kita akan sesuai dengan asma-Nya serta berjalan dengan ridho-Nya.

2 thoughts on “Ketika Rasa Adalah Segalanya dalam Beragama

  1. 37degree berkata:

    “Tanpa mengenal dan merasakan Dia Yang Maha Tersembunyi, manusia tidak akan mampu mendirikan shalat lantaran tidak mengenal dan tidak akan mampu merasakan siapa yang disembahnya.

    Namun, ketika mengenal dan mampu merasakan Dia Yang Maha Tersembunyi, ibadah mahdhah menjadi lebih khusyuk dan berarti.” –> bekal utk sholat yg sulit sekali khusyuk,, like this ^^d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s