Palestina, Ukhuwah Islamiyah yang Mana?


Foto: artintifada.wordpress.com

Foto: artintifada.wordpress.com

Lagi-lagi, ulah Israel di Gaza membakar kemarahan penduduk dunia, khususnya umat Islam. Seperti biasa juga, aktivis Islam di Indonesia berbondong-bondong berdemonstrasi sambil membawa-bawa bendera Palestina sebagai tanda solidaritas mereka untuk Gaza. Mereka menyebutnya ukhuwah Islamiyah. Tapi, persaudaraan Islam yang mana?

“Mereka (aktivis Islam di Indonesia) kepedean,” komentar seorang kawan. Beliau bilang, ketika berkunjung ke jalur Gaza, penduduk Gaza tidak ada yang mengenal Indonesia. Jangankan tahu aksi solidaritas aktivis Islam di Indonesia untuk Gaza. Letak Indonesia saja mereka tidak tahu. Bahkan, ketika bertanya, penduduk Gaza selalu membawa-bawa pulau Bali. “Indonesia di sebelah mananya Bali, yah?” begitulah yang penduduk Gaza tanyakan ketika berbincang-bincang tentang Indonesia dengan kawan saya.

Berbicara tentang solidaritas Gaza, sebenarnya ini sangat membingungkan saya. Presiden Palestina Mahmoud Abbas sendiri menutup mata atas keberadaan Gaza. Bukan hanya soal penyerangan terhadap kapal Mavi Marmara. Tetapi juga ketika Israel dengan asyiknya menggempur Gaza, Abbas sendiri seperti tidak mau tahu. Padahal, sebagai presiden Palestina, Abbas bisa berteriak ke masyarakat dunia tentang apa yang terjadi di Palestina.

Belum lagi masalah negara tetangganya, Mesir. Negara tersebut selalu menutup perbatasan Gaza di Raffah. Padahal, jalur masuk ke Gaza yang paling murah, paling memungkinkan, dan paling aman adalah jalur Raffah. Tapi Mesir sendiri dengan wajah tanpa dosa, seperti menutup mata atas keberadaan Gaza.

Dalam hal ini, seharusnya bukan hanya Israel saja yang dikutuk atas kejadian Mavi Marmara. Tetapi Mesir juga seharusnya turut serta dikutuk oleh penduduk dunia lantaran tidak menyediakan akses bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Gaza.

***

Foto: Graphics.Boston.com

Foto: Graphics.Boston.com

Masalah Gaza ini, bila dikait-kaitkan dengan ukhuwah Islamiyah, seperti lelucon saja. Lucu, kalo saya bilang. Aktivis Islam di Indonesia berteriak-teriak mendukung kemerdekaan Gaza. Tapi pihak-pihak yang terdekat dari Gaza, yang sebenarnya beragama Islam juga, tidak mau tahu. Bahkan seakan-akan membiarkan penduduk Gaza mati perlahan-lahan di negerinya sendiri. Lalu, di mana letak ukhuwah Islamiyahnya?

Satu lelucon lagi mengenai ukhuwah Islamiyah di Timur Tengah sana. Tepatnya ketika Amerika menginvasi Irak pada tahun 2003 lalu. Menjelang invansi, Yordania, negara tetangga Irak, menyediakan fasilitas bagi tentara pendahulu Amerika, untuk mengawasi Irak. Beberapa bulan sebelum invasi, banyak hotel di pesan untuk turis asing berkewarganegaraan Amerika, yang tidak lain adalah tentara pendahulu Amerika.

Singkat cerita, usai invasi militer Amerika ke Irak, ternyata ada pipa minyak melintas dari Irak ke Israel melewati Yordania. Yups, Yordania mendapatkan keuntungan minyak dari invasi Amerika ke Irak. Usai invasi juga, Yordania mendapatkan suplai air bersih dari Israel.

Padahal, jauh sebelum invasi, Irak berkawan baik dengan Yordania. Irak memberikan minyak mentah ke Yordania dengan nilai setengah dari harga minyak dunia. Tak hanya itu saja. Yordania juga mendapatkan kepercayaan dari Irak untuk memasarkan minyak mentah Irak ke pasar dunia.

Yordania sendiri adalah satu-satunya negara Timur Tengah yang tidak memiliki cadangan minyak bumi sama sekali. Negara ini bisa maju lantaran sumber daya manusianya yang banyak dipakai di negara-negara eropa. Setelah cukup lama mendapatkan kepercayaan dari Irak, Yordania pun dengan mudahnya mengkhianati negara tetangganya sendiri, yang notabenenya sama-sama berpenduduk mayoritas Islam.

Arab Saudi juga sama saja. Ketika invasi militer Amerika ke Irak, Arab Saudi menyediakan pangkalan militer untuk Amerika. Konon, Arab Saudi adalah salah satu kawan akrab Amerika di Asia.

Lalu, di mana ukhuwah Islamiyah-nya?

***

Foto: icc08.wordpress.com

Foto: icc08.wordpress.com

Tampaknya kita pun sama saja. Kita di Indonesia, rela berpanas-panasan dan berhujan-hujanan hanya untuk berdemonstrasi mendukung penduduk Palestina. Kita pun rela menyisihkan sebagian kekayaan kita untuk membantu penduduk Gaza yang sama sekali tidak tahu siapa kita dan tidak tahu letak Indonesia.

Sedangkan, di sebelah kita, di sepanjang jalan yang sering kita lalui ketika hendak beraktivitas, puluhan bahkan ratusan  fakir miskin berjajar beraktivitas untuk mencari sesuap nasi. Pernahkah kita berpikir untuk berdemontrasi ke pemerintah agar menolong fakir miskin di sekitar kita? Pernahkah kita berduyun-duyun menyisihkan harta kita untuk membuat rumah tinggal, rumah sakit, dan sekolah untuk fakir miskin di sekitar kita?

Tampaknya (yang katanya) saudara kita di Gaza sana, lebih penting kehidupannya dibandingkan (yang benar-benar) saudara kita di sebelah kita. Padahal, saudara kita yang ada di sekitar kita pun Islam. Bahkan, terkadang beberapa di antara mereka kesulitan untuk sholat lantaran tidak memiliki pakaian yang bersih dan menutupi aurat. Lalu, di mana ukhuwah Islamiyah kita?

Tiada beriman kepada-Ku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu. (HR. Al Bazzaar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s