Gagal Itu Nikmat


Foto: Siswonugroho.com

Foto: Siswonugroho.com

Umurnya baru 5 tahun kala itu. Dia adalah seorang gadis kecil yang sangat cerdas untuk anak seusianya. Sosok tubuhnya seperti bapaknya, Tionghoa. Namun wataknya begitu keras seperti ibunya yang Jawa itu. Sebutlah namanya Rena, bukan nama sebenarnya.

Permainan Zuma sedang dia lakoni kala itu. Komputer bukanlah barang baru bagi Rena. Namun, tiba-tiba saja dia menangis lantaran tidak bisa memainkan permainan yang ada di hadapannya. “Ibu, ini gimana, bu?!” rengek Rena kepada ibunya. “Eits, coba, mana? Jangan nangis, dong. Itu kan cuma permainan,” sapa ibunya sabar.

“Kasihan,” celetuk temanku yang anak Psikologi.

“Lho? Kasihan kenapa?” tanyaku heran.

“Dia tidak bisa menghadapi kegagalan. Dia selalu berhasil dan menang. Tapi, ketika bertemu kegagalan, dia gagal menghadapinya,” sahut temanku.

Gagal, sebuah kata yang tentunya tidak pernah diharapkan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan kita. Bahkan, kalau perlu, “gagal” tidak perlu ada dari hidup kita.

Sebaliknya, “Berhasil”. Itulah kata yang selalu kita harapkan ada dalam hidup kita. Kalau perlu, kata itu harus selalu menyertai langkah hidup kita. Tentunya agar kita selalu diliputi berbagai macam kesuksesan.

Nyatanya, keberhasilan tidak akan pernah ada tanpa kegagalan. Orang-orang berhasil, adalah orang-orang yang pernah gagal dalam hidupnya. Bukan sekali, bahkan berkali-kali.

Foto: Fullissue.com

Foto: Fullissue.com

Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu pijar, berhasil merubah kehidupan manusia di bumi setelah melewati sepuluh ribu kegagalan. Kala itu, Thomas mencoba hampir sepuluh ribu gas untuk mengisi ruang di lampu pijarnya. Dalam menghadapi kegagalan, Thomas hanya berkata, “Setidaknya, saya menjadi tahu bahwa gas-gas yang telah saya coba, tidak cocok untuk lampu pijar saya.”

Akhirnya, Gas kesepuluh ribu, adalah gas yang membuat lampu pijarnya berhasil menyala. Tampaknya, bila Thomas Alfa Edison tidak mampu menghadapi kegagalan, manusia akan selalu dalam kegelapan, hingga sekarang.

Dalam Islam sendiri, Allah selalu memberikan cobaan kepada hamba-hambanya. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 153 hingga 157:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kegagalan adalah sebuah cobaan hidup dari sebuah alur kehidupan manusia. Tujuannya, tiada lain untuk meningkatkan derajat manusia. Cara menghadapinya pun cukup dengan sabar sambil terus berusaha untuk mencoba dan mencoba, meskipun kegagalan kerap kali menerpa kita.

Meskipun begitu, saat ini, manusia cenderung menghindari kegagalan. Kegagalan adalah kesialan dan kutukan yang harus dihindari. Bila perlu, dimusnahkan dalam kamus bahasa manusia.

Foto: 3critical.wordpress.com

Foto: 3critical.wordpress.com

Contoh nyatanya, banyak orang tua, dan mungkin juga anaknya, yang menginginkan kehidupan yang mulus. Kuliah tidak perlu pintar-pintar, yang penting lulus dan mencari kerja. Pun ketika mencari kerja, jangan yang beresiko besar. Bekerjalah di perusahaan besar yang gajinya selangit dan jauh dari PHK agar kehidupan nyaman dan aman. Bila perlu jadi PNS, jadilah PNS. Soal sogok menyogok untuk bisa masuk, tak jadi soal. Asal berhasil dalam hidup dan tidak menemui kegagalan.

Sungguh, kegagalan adalah sebuah nikmat yang tak terkira dari-Nya. Bagaimana pun, ada banyak hikmah terkandung dalam kegagalan, seperti: hati menjadi sabar, derajat kehidupan meningkat, mendapatkan rahmat dan petunjuk-Nya, dan menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Pun tak perlu merasa minder dengan kegagalan. Asalkan kita sabar, pasrah, dan menyerahkan segala-galanya kepada Dia, kegagalan yang kita lalui adalah kegagalan yang berarti. Tak jadi soal bila kegagalan itu terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Itu berarti, kita semakin diberi kesempatan untuk menjadi manusia dengan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Marilah kita mencoba untuk mengalami kegagalan. Perbaiki terus dengan kesabaran, berserah diri kepada-Nya, dan rahmat serta petunjuk-Nya pun semakin lama akan semakin dekat dengan kita.

Iklan

2 thoughts on “Gagal Itu Nikmat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s