Rasanya Akhirat?


Foto: aphs.worldnomads.com

Foto: aphs.worldnomads.com

Akhirat? Seperti apakah akhirat itu? Bagaimanakah rasanya ketika berada di akhirat? Adakah yang pernah pergi ke akhirat? Benarkah akhirat itu nyata? Atau hanya dogma agama semata?

Ingat akhirat, saya jadi ingat cerita ketika saya lulus SMP dulu. Seminggu usai Ujian Nasional, sekolah kami menyelenggarakan piknik kelulusan ke Borobudur dan Yogyakarta. Waktu itu saya diberi pilihan oleh orang tua saya, les drum atau ikut piknik kelulusan sekolah?

Karena saya ingin tahu yang namanya Yogyakarta dan Borobudur, akhirnya saya memutuskan untuk ikut piknik kelulusan. Les drum? Saya sudah bisa bermain alat musik gebuk yang satu itu. Bahkan, sejak kelas 2 SMP, saya main band tiap minggu. Sehingga saya tidak terlalu penasaran rasanya bermain drum.

Malamnya, kami satu sekolah langsung pergi ke Borobudur. Maklum, saya menyatakan ikut ketika waktunya sudah mepet. Sehingga, daftarnya pun mepet-mepet. Alhamdulillah, saya belum terlambat mendaftar dan bisa melancong ke Borobudur.

Sebelum piknik kelulusan, saya memang belum pernah sama sekali berkunjung ke Borobudur. Saya hanya dapat kabar beritanya dari kawan dan saudara yang pernah berkunjung ke Borobudur. Sehingga, saya hanya mampu menikmati rasanya berkunjung ke Borobudur dari cerita teman dan saudara.

Rasanya? Jelas saya hanya mampu menerka-nerka rasanya melancong ke Borobudur. Ibarat saya diceritakan oleh teman tentang rasa sebuah roti bermerk XYZ. Saya hanya bisa menerka-nerka rasanya roti XYZ karena belum pernah merasakannya. Untuk tahu rasanya, tentu saya harus makan roti XYZ itu.

Keesokan harinya, saya dan rombongan sekolah pun tiba di Candi Borobudur. Konon, Borobudur adalah candi terbesar di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Saya benar-benar senang ketika itu karena bisa melihat Borobudur. Jujur, ketika itu saya takjub melihat Borobudur. Begitu megah dan besar.

Foto: National Geographic taken from mepow.wordpress.com

Foto: National Geographic taken from mepow.wordpress.com

Tanpa pikir panjang, saya langsung menelusuri lorong demi lorong Borobudur. Saya benar-benar kagum dengan relief-relief yang terukir indah di dinding Borobudur. Belum lagi ketika tiba di puncak Borobudur. Kekaguman saya semakin bertambah melihat keindahan deretan penggunungan yang mengelilingi Borobudur.

Satu gunung yang membuat saya takjub adalah gunung Merapi. Puncaknya paling tinggi di bandingkan gunung-gunung lainnya. Tak hanya itu saja. Kepulan asap merapi, tak henti-hentinya keluar dari puncaknya.

Ketika itu juga, saya mendapati rasanya berkunjung ke Borobudur. Bagi saya, lebih mengagumkan ketimbang hanya mendengarkan cerita dari teman dan saudara. Dulunya saya kira keindahan Borobudur hanya mimpi dan omong kosong. Tapi, ketika itu, saya yakin 100 persen bahwa Borobudur memang indah dan menakjubkan.

Kembali lagi ke urusan akhirat. Saya hanya mengetahui tentang akhirat dari berbagai keterangan di Islam, baik dari Alquran maupun hadist rasul. Akhirat adalah tempat kembalinya manusia. Dunia fana ini, hanyalah awal dari perjalanan manusia, dan akhirat adalah salah satu tempat singgah manusia.

Keberadaan akhirat? Sungguh nyata adanya. Namun, belum ada seorang pun yang pergi ke akhirat kemudian kembali ke bumi dan menceritakan apa yang terjadi di sana. Percaya? Harus. Rasanya? Saya belum tahu karena saya belum pernah berkunjung ke akhirat.

Andi Bombang dalam novelnya Dan Dialah Dia, menyebut percaya yang seperti ini sebagai percaya taklid alias percaya ikut-ikutan. Paling banter, percaya dalil, percaya yang hanya berdasarkan keterangan-keterangan yang ada di dalam Alquran dan hadist.

Lalu, bagaimana caranya untuk percaya yang sebenar-benarnya percaya, seperti saya yang percaya bahwa Borobudur memang Indah? Tiada cara lain, selain pergi ke akhirat dan merasakan langsung suasana akhirat.

Foto: tenafly.k12.nj.us/~sjohnson

Foto: tenafly.k12.nj.us/~sjohnson

Meskipun begitu, bukan tanpa modal untuk bisa pergi ke sana. Konon, kita harus punya bekal yang cukup agar tidak kerepotan berada di akhirat. Caranya? Tentu saja dengan mengumpulkan banyak amal kebaikan selama di dunia. Itu pilihan terbaik yang harus ditempuh bila tidak ingin kerepotan membawa diri di akhirat sana.

Bila tidak percaya? Yah, itu pilihan. Setidaknya, ketika kita akan menempuh sebuah perjalanan, mempersiapkan bekal dan perlengkapan adalah yang utama, meskipun tempat yang kita tuju masih belum jelas keberadaannya.

Ibarat ketika saya tidak percaya adanya Borobudur, tapi ingin mengetahuinya. Tentunya saya harus mempersiapkan bekal yang cukup selama di perjalanan untuk mengetahui keberadaan Borobudur. Bila tidak mempersiapkan, bukan tidak mungkin saya bisa kelaparan dan tersesat di jalan dan akhirnya menyulitkan saya kelak.

Begitu pun tentang akhirat. Meskipun masih sebatas keterangan dalil, tentunya tidak salah bila kita harus mempersiapkan bekal untuk tahu seperti akhirat. Setidaknya, ketika kita melakukan perjalanan ke sana, kita tidak akan kehabisan bekal dan tidak juga tersesat. Sehingga kita mampu mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kita lakukan selama di dunia.

3 thoughts on “Rasanya Akhirat?

  1. andi bombang berkata:

    Assalamu’alaikum, Mas Yudha.

    Emm, sepemahaman saya.. perkara akhirat ini termasuk wilayah gaib. Namun, manakala menafakuri perkara2 serupa ini, seringkali kita melupakan martabat kegaibannya tadi. Kita menelaah kegaiban memakai tools kedzahiran.

    Maka, tidak mengherankan jika kemudian alam alam akhirat terbayang2 bagaikan dunia lain dimana masih berlaku hukum ruang dan waktu bagaikan di dunia ini. Surga tampil serupa Istana Buckingham, sementara neraka mirip2 TPA Bantargebang..🙂

    Padahal, ‘sederhana’ saja. Telah kita pahami bahwa garis batas antara alam dunia dengan akhirat bagi seseorang adalah kematiannya. Katakanlah, dia belum bisa berangkat ke sana kalau belum mati. Itu syaratnya.

    Selanjutnya, kalau nggak salah Rasulullah pernah bersabda, “Matilah sebelum mati,” bukan? Nah, berarti kita boleh ‘mati duluan’ sebelum mati beneran dong. Iya, nggak? Dan, melalui ‘kematian’ itu kita bisa ‘merasakan’ akhirat pada masa sekarang. Setidaknya, percikan2nya… Boleh percaya, boleh tidak. Silakan ‘dirasakan’ sendiri2, jika hendak.

    Demikian, Sahabat.
    Salam.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      wuih, yg dsebut2 d tulisan ini ngasih komentar. hehehe
      makasih atas kunjungan dan komentarny mas Andi. saya masih harus banyak mengasah rasa, nih. ternyata butuh kesabaran dan konsistensi yang tinggi. nah, yang gini ini yang masih sulit. maklum, pemuda. konsistensiny dan kesabaranny masih ngaler-ngidul. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s