Renungan Indah dari Rendra


Ketika saya sedang berbincang dengan ci 许仙妮, beliau memberikan sebuah puisi karya WS Rendra yang ditulis Rendra sebelum wafat. Ketika itu kami sedang membincangkan mengenai hakikat hidup dan jalan hidup. Berikut puisi yang dimaksud.


Renungan Indah

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

(Puisi terakhir WS Rendra yang ditulisnya ketika di Rumah Sakit)


Pesan yang ingin disampaikan oleh puisi ini, sangat jelas. Rendra mengajak kita untuk mengevaluasi kehidupan kita, dari A sampai Z.

Puisi ini membuat saya berpikir dan mengevaluasi serta menginventarisir apa yang Dia titipkan kepada saya. Saya juga jadi bertanya-tanya, apakah yang saya miliki, telah sesuai dengan apa yang Dia amanahkan? Kalau belum, harus dengan cara apa hal-hal yang saya miliki, saya amanahkan kepada yang berhak?

Puisi ini juga menyadarkan saya mengenai segala ambisi dan nafsu yang seringkali membutakan tujuan hidup. Tak jarang, angan-angan saya dipenuhi berbagai ambisi duniawi. Dan tak jarang juga saya marah-marah dan mencap Dia tidak adil ketika segala ambisi itu tidak bisa saya capai.

Tentunya, kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Bagaimana pun, kita harus mencari jalan pulang kampung. Untuk bisa menemukan kampung halaman kita, tentunya kita harus menjalin hubungan baik dengan Yang Maha Memiliki Petunjuk. Menundukan hawa nafsu, berdamai dengan hati, dan menjadikan-Nya kekasih abadi kita.

Sehingga, ketika tiba waktunya nanti, Dia menerima kita di kampung halaman kita sebagai manusia, akhirat. “Yaa ayyatuhaa alnnafsu almuthma innatu irji’ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyatan faudkhulii fii ‘ibaadii waudkhulii jannatii — Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” [QS: Al Fajr : 27-30]

Iklan

3 respons untuk ‘Renungan Indah dari Rendra

  1. anggi berkata:

    like this..
    menyadarkan aku.
    semoga kita bisa menemukan makna hidup sebenar-benarnya dan mampu memanfaatkan hidup yang singkat ini dengan baik. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s