Jadi, Perlukah Sholat dan Puasa?


Ketika membaca buku Muhammad karya Martin Lings, saya sedikit dikejutkan dengan hadits riwayat Tirmidzi yang menceritakan bahwa Abubakar menyatakan bahwa nabi pernah bersabda, “Allah mengangkat derajatmu bukan melalui banyaknya shalat dan berpuasa, namun berdasarkan pada kebaikan hatimu.” Lalu, bagaimana kedudukan sholat dan puasa dalam Islam?

Cukup lama termenung, hingga akhirnya saya menemukan jawabannya ketika membayangkan sebuah jembatan. Yah, menurut saya jembatan adalah analogi yang cocok untuk menggambarkan maksud hadist ini.

Foto: Ceismc.Gatech.edu

Foto: Ceismc.Gatech.edu

Jembatan adalah benda atau alat yang menghubungkan antar dataran yang terpisah oleh bentangan alam seperti lembah, lautan, atau sungai. Sebuah jembatan, memiliki setidaknya 2 unsur. Unsur pertama adalah jalur lintasan, yang merupakan unsur utama fungsi jembatan. Unsur kedua adalah tiang penyangga jembatan, yang meskipun hanya pendukung, tapi di beberapa jenis jembatan, unsur ini sangat penting.

Bila bentangan alamnya tidak terlalu lebar, jembatan tidak memerlukan unsur kedua atau tiang penyangga jembatan. Tapi bila bentangan alam terlalu lebar dan jembatan tidak memiliki tiang penyangga, besar kemungkinannya jembatan tersebut roboh. Terlebih lagi bila yang melintasinya adalah benda-benda besar.

Kita ibaratkan jalur lintasan adalah kebaikan. Sedangkan sholat dan puasa adalah tiang penyangga jembatan. Kemudian terangkatnya derajat manusia adalah melintasnya sebuah mobil dari sisi yang satu ke sisi yang lain dengan selamat.

Ketika manusia mengerjakan kebaikan tanpa sholat dan puasa, derajatnya tetap naik. Seperti halnya jembatan tanpa tiang penyangga yang mobil di atasnya masih bisa melintas dengan selamat. Namun, semakin banyak mobil yang melintas, semakin besar tekanan terhadap jembatan. Bila tekanan atau beban ini terlampau besar, bukan tidak mungkin jembatan akan roboh.

Pun ketika manusia mengerjakan kebaikan tanpa mengerjakan sholat dan puasa. Kebaikan yang diperolehnya bisa saja roboh karena rapuh. Manusia adalah makhluk yang rapuh dan dengan mudahnya bisa terjerumus ke dalam keburukan.

Untuk menghindari beban yang terlampau besar dan memperkokoh jembatan, dibuatlah tiang-tiang penyangga jembatan. Tiang-tiang ini bukan hanya berfungsi untuk memperkokoh jembatan, tetapi juga memperpanjang jangkauan jembatan yang dibangun. Tentunya, semakin panjang bentangan alam yang harus dilewati, semakin banyak pula jumlah tiang yang diperlukan.

Hal ini juga berlaku dengan sholat dan puasa. Kedua jenis ibadah tersebut memelihara kebaikan agar tetap kokoh. Selain itu, kebaikannya pun lebih lama dan jangka panjang terpelihara. Bagaimana pun, sholat mencegah dari perbuatan mungkar dan puasa membentuk diri kita agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Sehingga kita bisa lebih banyak lagi berbuat kebaikan.

Lalu, bagaimana dengan orang yang mendirikan sholat dan menjalankan puasa semata tanpa berbuat kebaikan? Saya mengibaratkannya seperti membangun tiang untuk jembatan, tapi tidak pernah membangun jalur lintasannya. Akhirnya, fungsi jembatan secara utuh, yaitu menghubungkan antara satu sisi dengan sisi yang lain, tidak pernah tercapai. Kebaikan tidak terpenuhi, naiknya derajat seseorang pun tak akan pernah terwujud.

13 thoughts on “Jadi, Perlukah Sholat dan Puasa?

  1. Aliah berkata:

    sholat mencegah kita dari perbuatan keji, sementara puasa melatih kita untuk menahan hawa nafsu.

    selain kewajiban, keduanya juga menjadi sarana untuk membersihkan diri sehingga yang tersisa hanya perbuatan baik.

    Cerdas Yudha ini… ^_^

  2. Aisyah berkata:

    Ibadah dgn shahihu-l ibadah dalam wadah jam’iyyah shngga menjadikan khaira ummat.
    Dan inilah yg menjadi ummat Nabi.Muhammad SAW.

  3. irfan berkata:

    karena ini tagnya filsafat saya akan nanya serius. kebaikan itu apa? apa definisinya dan parameter sesuatu disebut baik? apa shalat dan puasa bukan kebaikan?

    • Yudha P Sunandar berkata:

      kalo merujuk hadist tersebut di atas, sholat dan puasa konteksnya adalah ibadah sebagai media untuk kita berkomunikasi dengan Allah secara khusus atau habluminallah.

      parameter kebaikan sendiri lebih k implementasi khidupan sosial. misalny: menolong orang dan membantu anak yatim. yg ini konteksny lebih k habluminannas.

  4. isil berkata:

    analogi yang mantap kang yudha…
    sil jadi ingat ketika kuliah seminar pendidikan indonesia, dosen sil bilang seperti ini
    shalat itu ibarat angka 1 dan kebaikan yang kita lakukan 0 dibelakangnya..
    kalau kita shalat dan mengerjakan kebaikan maka kita akan mendapatkan 1000000, 0 nya tergantung berapa banyak kebaikan kita..

    nah, kalau kita hanya mengerjakan kebaikan tanpa shalat jadinya
    000000000, tanpa ada nilainya

    begitu juga sebaliknya kalau kita hanya shalat dan tidak berbuat baik
    kita hanya akan dapat 1…

  5. féoth (baca: arip) berkata:

    setubuh gan. amal perbuatan hrus dibarengi dengan ibadah shalat dan puasa, dan tentu saja ibadah lain jangan dilupakan juga.

    emang ada HR. Abu Bakar? perasaan ada juga Bukhori, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Baihaqy, Ibnu Madjah dan perawi lainya. CMIIW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s