Ngantuk, Sibuk, dan Jenuh, Solusinya?


Foto: FoxNews.com

Foto: FoxNews.com

Suka ngantuk, tidak bisa mengatur waktu, dan jenuh karena ada tidak ada tantangan. Itulah 3 masalah yang dialami oleh rekan-rekan Salman Media Volunteer (SMV) ketika rapat redaksi mingguan hari kamis (15/4) lalu. Tapi itu juga masalah yang sering saya hadapi akhir-akhir ini. Kemungkinan besar, itu masalah umat, bukan masalah perseorangan. Karena yang mengalaminya bukan satu-dua orang saja, tetapi sebagian besar orang.

Kita bahas satu per satu. Masalah ngantuk, ini yang selalu melanda saya dan beberapa teman SMV seminggu ini. Kalau bagi saya, dari jumlah jam tidur sangat cukup, yaitu 6 jam. Tapi badan saya selalu minta lagi yang membuat saya selalu menambah tidur saya dengan tidur lagi di pagi hari selama 3 hingga 4 jam lamanya.

“Entah kenapa, akhir-akhir ini saya menjadi kebluk,” celetuk Tristia. “Kayaknya kekurangan gizi, nih,” ungkap Maya menimpali. Yah, mungkin karena faktor cuaca yang gerah pada malam hari, tetapi dingin pada malam hari. Sehingga membuat saya selalu ingin tidur lagi, lagi, dan lagi.

Masalah kedua, tidak bisa mengatur waktu. Tristia yang mengeluhkan ini karena tugas kuliahnya yang semakin menggila. Sehingga dia kesulitan untuk mengerjakan tulisannya. Kalau saya? Saya tidak kuliah, jadi saya tidak sibuk dengan tugas kuliah. Tetapi saya selalu sibuk dengan diri saya sendiri. Saya selalu merasa kerjaan saya enteng untuk dikerjakan sehingga selalu terdorong untuk menunda. Akhirnya, ketika kepepet mau deadline, baru deh dikerjain. Hasilnya jadinya nggak maksimal.

Foto: FromTheRough.wordpress.com

Foto: FromTheRough.wordpress.com

Masalah terakhir, jenuh dan kurang tantangan. Kalo ini, Danar yang curhat. Yups, anak yang satu ini selalu merasa penuh tantangan. Teringat waktu wawancara untuk SMV dulu. Dia bilang, jurnalistik adalah jiwanya. Yah, jiwa seorang jurnalis selalu minta tantangan, tantangan, dan tantangan.

Makanya, kalo ada liputan khusus yang mendalam, saya selalu menugaskan Tristia dan Danar. Mereka berdua sangat suka tantangan dan menurut saya punya jiwa jurnalis sejati. Saya juga selalu menyebut mereka sebagai “Mujahid Cinta”. Alasannya, mereka begitu gigih mewawancarai narasumber sampai jam 10 malam ketika disuruh membuat liputan khusus mengenai cinta di kalangan aktivis dan proposal nikah. Saya juga kaget waktu tahu mereka wawancara sampai jam 10 malam. Akibatnya, Tristia pun kena marah ortunya.

Kembali ke masalah tantangan. Ini juga jadi kendala bagi saya, kurang tantangan. Ketika diberi amanah untuk meliput kegiatan yang rutin, saya merasa kikuk ketika dituntut untuk membuat sudut pandang liputan. Merasa hampir tidak ada hal yang istimewa yang bisa saya angkat untuk saya jadikan berita.

Solusinya? Ada beberapa solusi masalah yang kami sepakati. Untuk masalah ngantuk dan sulit mengatur waktu, kami sepakat untuk bekerja dan membuat tulisan bersama-sama. Waktunya kami sepakati pukul 3 pagi hingga menjelang subuh setiap harinya di rumah masing-masing. Kami tidak boleh membuka Facebook, meskipun masing-masing dari kami memiliki akses internet. Kami juga harus membangunkan satu sama lain dengan sms dan missed call kemudian masing-masing harus segera online di yahoo messenger untuk menunjukan kehadirannya di forum.

Foto: BlogSpot.com

Foto: BlogSpot.com

Setelah dijalani, saya merasa waktu saya jadi efektif. Memulai bekerja jam 3 pagi, lebih produktif dibandingkan bekerja di siang hari. Meskipun paginya tidur lagi, tapi waktunya lebih sedikit 1 hingga 2 jam dibandingkan tidak bangun jam 3 pagi. Kami pun jadi punya waktu khusus untuk menulis di tengah-tengah kesibukan kami.

Masalah jenuh dan tidak ada tantangan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan liputan khusus kepada orang-orang yang merasa ini menjadi masalah, termasuk saya dan Danar. Misalnya, Danar tetap ada di jalur mewawancarai mas Hermawan dan membuat liputan khusus dan liputan investigasi mengenai kasus pencurian yang belakangan kerap terjadi di Salman ITB.

Sedangkan untuk liputan kegiatan rutin, diserahkan ke jurnalis-jurnalis yang tidak masalah dengan kejenuhan dan anggota SMV baru seperti Fitran dan Tyas. Mereka perlu banyak berlatih dan menulis, sehingga tugas meliput kegiatan cocok untuk mereka.

Saya sendiri akan membantu Danar membuat liputan khusus mengenai kasus pencurian di Salman ITB dan bersama Tristia membuat liputan khusus tentang Siti, seorang anak tuna wisma yang kerap bermain di Salman ITB.

Senangnya memang bila memecahkan solusi bersama-sama. Chayo!

3 thoughts on “Ngantuk, Sibuk, dan Jenuh, Solusinya?

  1. Aliah berkata:

    solusi ala Ali:
    1. Ke Makassar makan mie Titi’ (niat banget)
    2. ngomentarin blog orang (skalian numpang eksis)
    3. Makan (nah ini entah sesuai dengan Yudha, palagi kalo harus makan dengan tiga jari dan dikunyah sampei lembut)
    4. Tidur (?) (inikan masalahnya…)
    5. kalo 1-4 g bisa, menyemangati diri sendiri, ingat lagi tujuan kita kerja = ibadah kepada Allah. (ini lebih rasional, susah tapi bisa)

    Insya Allah setiap langkah Yudha n temmen2 di SMV (temennan po?? GRnya Al ini..) dinilai ibadah dan mendapat barokah dari Allah SWT.Aamiin… ^_^

  2. isil berkata:

    aslkm kang yudha…wah si kang yuda curhat nih…
    keren solusi yang dibuat kang…
    mhm…kayaknya SMV kompak ya..

    sil tunggu tuh, liputan tristia mengenai siti..heh
    kayaknya seru tuh.heheh

    • Yudha P Sunandar berkata:

      makasih Isil udah komen.
      sip, tunggu yah liputanny.
      anw, Isil mau coba2 ngisi juga ngak d SalmanITB.com? mencoba keseruan kami dalam mendalami fakta2 yg ada d sekitar Masjid Salman ITB. apapun, ngak usah yang berat2. yang ringan2 juga boleh.
      sukses yah buat Isil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s