Enang dan Banyak Wisudawan


Foto: Flickr.com

Foto: Flickr.com

Tidak biasanya, sebuah kampus perguruan tinggi di bilangan Cikapayang, Bandung, ramai dengan mahasiswa. Dengan semangatnya mereka mengambil toga yang akan mereka gunakan pada wisuda akhir pekan ini. Wajah mereka tampak gembira. Hari kelulusan yang mereka impikan, akhirnya terwujud sudah. Pekerjaan dengan gaji jutaan Rupiah, siap menanti sebagian lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia ini. Belum lagi tawaran melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri untuk sebagian yang lain. Sungguh, bagi mereka hidup tampak seperti surga, indah dan menyenangkan.

Namun wajah gembira itu tidak melekat pada Enang bin Sukri asal Kampung Nyalindung, Cibeber, Cianjur, Jawa Barat. Raut mukanya begitu lelah. Senyumnya pun hampir tak nampak dari wajah pria berusia 50 tahun itu. Wajar saja, dirinya sudah berjalan dari Garut ke Bandung selama 2 hari tanpa makan dan minum. Penderitaannya pun belum berakhir. Dirinya masih harus berjalan ke Cianjur, tempat dia tinggal.

Tanpa uang sepeser pun, tanpa kenalan yang bisa disinggahi. Pekerjaannya di Cianjur sana hanyalah tukang gali pasir dengan upah 15 ribu Rupiah setiap harinya. Isterinya telah bercerai dengannya 3 bulan lalu dan akan menikah dengan seorang Arab di Timur Tengah sana. Isterinya adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Saudi Arabia.

Sejak bercerai, Enang dan ketiga anaknya diusir dari rumah mertua. Beruntung kawan-kawannya mau membantu dan mengizinkan Enang tinggal bersama. Belum lepas dari masalah, kini Enang pun harus menghidupi ketiga anaknya seorang diri, yang 2 di antaranya harus putus sekolah lantaran ketiadaan biaya. Beruntung si sulung telah menikah, sehingga Enang tak perlu menafkahi 4 orang anak.

Maksud kepergian Enang ke Garut untuk menemui putri sulungnya yang dibawa sang suami ke kota yang terkenal dengan dodolnya itu. Adik si sulung sakit keras dan butuh biaya untuk berobat. Selama 8 hari, dia berusaha mengumpulkan sebagian honornya dari uang makannya. Akhirnya, Enang berhasil mengumpulkan 40 ribu Rupiah untuk ongkos ke Garut.

Naas bagi Enang ketika tiba di Garut. Putri sulungnya telah pindah ke Jawa Tengah tanpa diketahui Enang. Akhirnya, Enang pun hanya bisa pasrah sembari pulang dengan berjalan kaki dari Garut ke Cianjur yang berjarak sekitar 150 Km.

Foto: Guim.co.uk

Foto: Guim.co.uk

Ada banyak Enang di Indonesia ini yang memiliki banyak anak, tanpa rumah, dan tanpa penghasilan yang cukup. Ada banyak juga lulusan perguruan tinggi negeri yang punya gelar, punya kemampuan, dan punya penghasilan yang memadai.

Namun, banyak Enang dan banyak lulusan perguruan tinggi negeri, tak pernah beririsan sama sekali. Banyak Enang semakin miskin saja, dan banyak lulusan perguruan tinggi semakin jauh saja dari masyarakat.

Kesenjangan antara kaum intelektual bangsa dan mereka yang miskin semakin lebar saja. Mereka yang diberi cobaan berupa harta yang cukup dan ilmu yang mumpuni, sudah sangat jarang berinteraksi dengan mereka yang diujicoba dengan kekurangan harta dan kekurangan ilmu. Jurang pemisah ini semakin lebar saja seiring wawasan materialistik yang menghinggapi satu sama lain. Banyak dari mereka yang kekurangan harta dan kekurangan ilmu, hanya tahu bahwa uang adalah segalanya. Tidak peduli halal atau haram, yang penting cari uang.

Pun dengan yang kelebihan ilmu dan kelebihan harta. Banyak dari mereka berkeyakinan bahwa karir dan status sosial di masyarakat adalah yang utama. Tak peduli ada yang melarat atau dikorbankan. Yang penting harta mereka semakin banyak dan status sosial mereka semakin tinggi.

Kesenjangan sosial ini bisa kita lihat pada kegiatan wisuda sebuah perguruan tinggi di Bandung pada pekan yang sama. Hampir bisa dipastikan, setiap perguruan tinggi ini menyelenggarakan wisuda, Bandung macet parah.

Bukan hanya di sekitar tempat penyelenggaraan wisuda, tetapi kemacetan bisa terjadi di radius lebih dari 5 Km jauhnya. Belum lagi dengan arak-arakan wisudawan keliling kota, yang juga menimbulkan kemacetan di hampir semua jalan yang dilaluinya.

Foto: Progressivestates.org

Foto: Progressivestates.org

Sementara itu, hampir setiap harinya masyarakat kecil bergantung dengan kelancaran lalu lintas Kota Bandung. Misalnya supir angkot. Dengan kemacetan yang terjadi di jalanan kota Bandung, penghasilan mereka berkurang banyak. Biasanya dalam sehari mereka bisa menarik penumpang hingga 10 kali balikan, tetapi karena macet hanya bisa 5 kali balikan. Belum lagi biaya bahan bakar yang juga menjadi membengkak lantaran kemacetan.

Contoh lainnya, dalam penyelenggaraan syukuran wisudaan. Entah berapa biaya yang mereka keluarkan untuk syukuran wisudaan. Satu juta Rupiah? Dua juta Rupiah? Sepuluh juta Rupiah? Dua puluh juta Rupiah? Pastinya, biayanya tidak sedikit. Mulai dari sewa panggung, sewa sound system, sewa tenda, sewa kursi, makanan, sampai biaya sewa kendaraan arak-arakan dan uang rokok untuk polisi yang mengawal arak-arakan.

Namun, bukankah semua uang yang mereka gunakan akan lebih berguna bila disumbangkan ke masyarakat miskin di sekitar mereka? Dengan uang syukuran wisudaan yang bisa mencapai puluhan juta Rupiah, mungkin anak-anak Enang bisa terus sekolah dan melanjutkan hingga ke perguruan tinggi. Mungkin juga Enang bisa punya rumah. Mungkin juga Enang bisa mengobati putrinya yang sedang sakit.

Ada banyak hal yang terjadi di sekitar kita, tapi kita tak pernah mau membuka mata. Titipan berupa harta yang berlimpah dan ilmu yang tinggi, tidak serta merta membuat orang-orang sadar bahwa itu adalah cobaan, dan sudah seharusnya mereka memegang amanah itu untuk disampaikan ke mereka yang lebih berhak.

Foto: Magazine13.com

Foto: Magazine13.com

Bangsa ini tidak pernah membaik, kawan. Bukan karena takdir, tapi karena ulah kita sendiri. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS. Ar Ruum 41.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS. Ar Rad 11. Dalam hal ini, perubahan selalu diinisiai oleh pemuda yang memiliki energi besar, wawasan luas, dan tekad yang kuat. Sangat sayang bila pemuda Indonesia saat ini, sangat jauh dari masyarakat Indonesia. Sama jauhnya dengan perjalanan Enang yang menempuh Garut dan Cianjur dengan berjalan kaki.

Saatnya kita mulai berpikir bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Terlalu singkat bila hanya digunakan untuk mengejar kenikmatan duniawi. Namun akan lebih indah bila kita mampu berbagi ke sesama dan membuat mereka hidup dengan layak. Hidup kita akan lebih tenang, bermakna, dan penuh warna. Seperti yang BJ Habibie pernah sampaikan, bahwa tenangnya diri kita, bila orang di sekitar kita sudah tak ada lagi yang miskin dan kesusahan. Saatnya kita mencoba.

Sun Yuan Ping adalah sebuah nama pena dari seorang kawan. Saya dan dia bertemu sekitar tahun 2005 silam. Kami berdua memiliki ketertarikan yang sama, menulis. Namun, dia lebih suka menulis di buku hariannya. Beberapa bulan yang lalu, dia sempat saya ajarkan blog, dan ini adalah tulisan pertamanya yang dia muat di blognya. Karena tulisan ini menarik, akhirnya saya muat di blog saya. Terus berjuang, kawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s