Kita Biasa Menyebutnya Kematian


Foto: Lukep.Typepad.com

Foto: Lukep.Typepad.com

Jasadnya terbaring kaku di balik kain putih yang menutupi tubuhnya di kamar M. Dia telah gugur dengan status Pahlawan Lapangan Hijau. Ajal telah menjemputnya ketika dia tengah merumput bersama kawan-kawan jurusannya. Hari yang biasanya diisi dengan tawa usai bermain futsal, kini harus berubah menjadi tangis. Sebuah tangis kehilangan seorang saudara, sahabat, kawan, dan sobat yang kenangannya tak akan pernah lekang oleh waktu. “Gue akan selalu nginget lu, kawan,” tulis seorang kawannya di wall Facebooknya.

Selang 8 hari sesudahnya, ketika keinginan untuk pulang ke rumah sedemikian besar, seorang anak dengan kerinduannya kepada ibu tercinta, tiba di pintu rumahnya. Ketika itu, yang si anak tahu, ibunya tengah tidur lelap lantaran sakit maag yang telah diderita sang ibu cukup lama. Tak sabar ingin mengetahui keadaan orang tuanya tercinta, dia pun bergegas masuk ke kamar.

“Duh, ibu. Tidurmu lelap sangat,” pikirnya. Namun, alangkah terkejutnya ketika tangan si Ibu sangat dingin. Keningnya penuh keringat dan tak menjawab panggilannya, “Ibu… Ibu… Bangun!”

Hanya seorang diri di rumah dan tak tahu harus meminta pertolongan siapa, bergegas dia meminta tolong tetangganya. Ketika kembali dihampiri, sang ibu memang telah tiada. Dan kini dia pun menjadi yatim-piatu.

Foto: pollsb.com

Foto: pollsb.com

Kita biasa menyebutnya kematian. Kondisi ketika ruh terlepas dari jasadnya. Kondisi ketika sistem persyarafan, kardio-vaskuler, dan sistem pernafasan terhenti aktivitasnya. Sebuah kondisi ketika jantung berhenti berdenyut, pernafasan berhenti bergerak, kulit tampak pucat, melemasnya otot-otot tubuh, serta terhentinya aktivitas otak.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan,” demikian firman Allah dalam surat Al Ankabuut ayat 57. Kematian tidak mengenal tua atau muda, lelaki atau perempuan, kaya atau miskin, muslim atau non-muslim. Semuanya akan mati bila waktunya tiba. “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya,” tandas Allah dalam surat Al Munaafiquun ayat 11.

Tak hanya waktu, tempat kematian pun merupakan rahasia Allah. “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati,” firman Allah dalam Luqman ayat 34. Dan sekuat apa pun manusia berusaha, mereka tidak akan dapat lari dari kematian, seperti yang Allah firmankan dalam surat Annisa ayat 78, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

Tak hanya makhluk dengan derajat kemajemukan rendah seperti manusia dan binatang saja yang akan merasakan mati. Tetapi semua makhluk ciptaan-Nya pun akan merasakan mati, termasuk setan, jin, dan malaikat yang notabenenya berada dalam derajat kemajemukan tinggi dunia ruh. Bahkan, dalam sebuah riwayat, malaikat maut akan mencabut nyawanya sendiri di hari kiamat kelak.

Kematian sendiri adalah siklus kehidupan setiap makhluk Allah, khususnya manusia yang memiliki derajat kemajemukan rendah. Adanya kematian dan kehidupan ini, semata-mata untuk menguji manusia selama di dunia. Apakah manusia menjalankan amal yang baik, atau bahkan amal yang buruk? “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,”demikian firman Allah dalam surat Mulk ayat 2.

Foto: H4ppy.com

Foto: H4ppy.com

Tentunya, bagi kita yang ditinggalkan oleh orang-orang tercinta, akan merasa sangat kehilangan. Bagaimana tidak. Mereka yang lebih dulu dipanggil oleh Allah, tidak akan pernah bertemu lagi dengan kita di dunia. Mereka yang mati pun selalu pergi mendadak dan tidak pernah ada ucapan perpisahan. Terlebih lagi, bila dia yang telah tiada, adalah orang yang sangat kita cintai. “Gue berharap ini cuman mimpi dan gue berharap ada orang yang membangunkan gue sekarang ini,” tutur seorang kawan yang baru saja kehilangan seseorang yang dia cintai dalam hidupnya.

Kematian mereka yang telah tiada adalah cobaan bagi kita yang masih mampu berdiri di muka bumi ini. “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya),” firman Allah dalam surat Alanbiyaa ayat 35. Pun pengingat bagi kita yang masih hidup bahwa kematian begitu dekat dan tak pernah terduga. Pengingat bahwa kita harus senantiasa melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah. Hal terpenting, kita harus selalu ingat bahwa Allah itu ada dan selalu menjadi pelindung kita di manapun kita berada. “Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah,” Allah mengingatkan dalam surat At Taubah  ayat 116.

Dalam Islam, kita senantiasa diingatkan bahwa tujuan kita adalah Allah. Seperti yang Allah ingatkan dalam surat Al An’aam ayat 162, “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” Sehingga ketika selalu ada dalam jalur yang benar dan diridhoi oleh-Nya.

Mungkin kini, mungkin esok, mungkin lusa, atau tahun depan. Kita tak pernah tahu. Yang pasti, kematian akan menjemput kita. Ketidaktahuan ini seharusnya membuat kita untuk selalu menjaga sikap agar selalu ada dalam jalur yang benar. Untuk selalu berbuat baik dan siap meninggalkan dunia ini. Sehingga, ketika saatnya kelak, ketika malaikat maut telah hadir di hadapan kita, kita telah ikhlas untuk kembali ke hadirat-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s