Pak Turi: Kuliahkan Anak dari Bubur Kacang Ijo


Pak Turi sedang meladeni jamaah Masjid Salman ITB

Pak Turi sedang meladeni jamaah Masjid Salman ITB

Bila kita mengunjungi Masjid Salman ITB setiap Sabtu pagi, pastilah akan kita dapati sebuah gerobak bubur kacang ijo sudah bertengger di Selasar Hijau Masjid Salman ITB sejak pukul setengah 7 pagi. Bubur kacang ijo yang didedikasikan gratis bagi jamaah Salman ITB ini, selalu jadi menu sarapan utama di hari Sabtu pagi bagi aktivis Salman ITB. Tapi, siapa sangka, dari berjualan bubur kacang ijo, pejualnya mampu menyekolahkan ketiga putrinya hingga bangku kuliah?

Adalah Muhturi, pria asli Tegal, Jawa Tengah, kelahiran 16 Februari tahun 1961. Pria yang akrab disapa Pak Turi ini, memulai perantauannya ke Bandung pada tahun 1977. Ketika itu, pekerjaan yang langsung dilakoninya adalah menjadi pedagang bubur kacang ijo keliling. “Yang terpikirkan oleh saya waktu itu adalah berdagang bubur kacang ijo,” ungkap Muhturi kepada SalmanITB.com.

Dengan berdagang bubur kacang ijo keliling ini pula, Muhturi berhasil menghidupi keluarganya hingga kini. Tak hanya itu saja. Beliau pun mampu membangun sebuah rumah sederhana yang terletak di jalan Taman Hewan Bandung serta membeli sawah sekedarnya di kampungnya di Tegal. Lebih dari itu, 2 dari 3 putrinya, berhasil dia sekolahkan hingga bangku kuliah.

Sehari-harinya, Muhturi biasa berjualan di depan kantor BNI Tamansari yang bersimpangan dengan jalan Ganesha. Pelanggan setianya adalah mahasiswa ITB dan karyawan BNI yang berkantor hanya beberapa meter dari tempatnya berjualan.

Satu porsi bubur kacang ijo biasa dihargai 2.500 Rupiah oleh Muhturi. Dalam sehari, beliau mampu menjual 100 mangkok bubur kacang ijo dan mendapatkan penghasilan kotor hingga 250 ribu Rupiah. Bila Salman ITB memborong Muhturi, beliau mampu mendapatkan penghasilan kotor hingga 300 ribu Rupiah.

Pak Turi

"Bila kita punya niat, dengan izin Allah, niat itu pasti akan terwujud," ungkap Pak Turi.

Ketika ditanya motivasi menyekolahkan anaknya hingga ke bangku kuliah, dengan rendah hatinya Muhturi menjawab bahwa dia memiliki cita-cita untuk menyekolahkan anaknya. Cita-cita ini dia dapat karena sering mengobrol dengan karyawan dan mahasiswa yang sering menjadi pelanggannya. “Meskipun saya cuman tamatan SD (Sekolah Dasar), tapi karena sering ngobrol dengan pelanggan, saya jadi punya cita-cita (menyekolahkan anaknya hingga kuliah),” ungkap Muhturi.

Mengenai biaya menyekolahkan anaknya, Muhturi mengaku bahwa hal tersebut tergantung niat kita. “Memang kemampuan sama dengan yang lain. Tapi niat yang beda,” tandas Muhturi.

Lebih lanjut, kakek 1 cucu ini menandaskan bahwa bila ada niat, pasti Allah akan mengabulkan keinginan kita. “Bila kita punya niat, dengan izin Allah, niat itu pasti akan terwujud,” ungkap Muhturi bijak.

Selesai semua anaknya lulus kuliah, Muhturi berencana untuk pulang kampung ke Tegal. Di sana, beliau berencana membeli sepetak tanah dan membangun rumah serta toko untuk meneruskan hidupnya di kampung halamannya. “Yah, bagusnya saya kembali ke kampung saya. Tidak baik bila saya tinggal terlalu lama di perantauan,” tandas Muhturi.

yudh on SalmanITB.com

2 thoughts on “Pak Turi: Kuliahkan Anak dari Bubur Kacang Ijo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s