Susahnya Naik Pesawat Ketika Tahu Itu Pesawat


Tanggal 22 Januari 2010, menjadi salah satu hari yang nampaknya tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya. Hari itu, hari ketika saya pertama kalinya naik pesawat lagi dan pertama kalinya saya menaiki pesawat bermesin jet. Hari itu juga hari ketika saya pertama kalinya dalam hidup saya pergi meninggalkan tanah Jawa.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya memang terlihat agak gugup. Selain khawatir tidak bisa menuntaskan pekerjaan sebelum keberangkatan, saya juga sedikit gugup lantaran akan terbang. Bukan karena saya takut ketinggian, tapi lebih karena saya khawatir terjadi apa-apa ketika terbang nanti.

Urusan pesawat dan terbang, bukan hal baru bagi saya, meskipun ini adalah kali pertama saya naik pesawat lagi. Bapak saya kebetulan pensiunan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Sewaktu beliau masih aktif bekerja, cukup banyak literatur tentang pesawat yang sering beliau bawa ke rumah.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan kecintaan saya pada dunia dirgantara. Hal ini jugalah yang membuat saya memiliki aplikasi flight simulator di komputer saya di kostan dengan intensitas bermain minimal 1 kali seminggu selama 5 tahun terakhir. Sehingga, wawasan tentang pesawat, terbang, dan menerbangkan pesawat, bukan hal baru bagi saya.

Tapi, justru inilah yang membuat saya gugup untuk terbang tanggal 22 Januari lalu. Wawasan tentang terbang inilah yang membuat saya gugup. Di benak saya selalu terbayang kemungkinan pesawat mengalami stall, over speed, mati mesin, gagal take-off, hard landing, dan kemungkinan terburuk, jatuh.

Singkat cerita, akhirnya saya telah duduk di bangku nomor 8A pesawat Boeing 737-900 ER milik sebuah maskapai penerbangan nasional. Waktu saat itu menunjukan pukul 8.45 pagi dan pesawat sedang menuju ke runway untuk take off.

Setelah mendapatkan restu untuk take off dari ATC bandara Soekarno-Hatta, pesawat menaikan throttle kedua mesinnya yang masing-masing ada di kanan dan kiri sayap pesawat. Pesawat kemudian melaju dengan cukup kencang dan terbang meninggalkan Jakarta.

Saya merasakan gaya Gravitasi yang begitu besar ketika pesawat take off. Rasanya, aliran darah semua menghujam menuju kaki dan kepala terasa pening lantaran kekurangan asupan oksigen. Tentunya, hal inilah yang tidak bisa dirasakan ketika terbang menggunakan flight simulator di komputer.

Dalam jangka waktu 30 menit, saya sudah berada jauh di udara. Orang, mobil, rumah, gedung, dan jalan, berangsur-angsur mengecil, dan terus mengecil. Deretan awan yang selalu saya lihat setiap pagi ketika keluar rumah, sekarang berangsur-angsur berada di bawah saya. Yah, saya melihat para awan dari tempat yang lebih tinggi daripada mereka berpijak.

Meskipun penerbangan lancar, tetap saja saya agak was-was. Pikiran saya menuju ruangan kokpit tempat pilot dan co-pilot duduk mengendalikan burung besi berisi 200 orang penumpang. Belum lagi ketika melihat ke luar. Ada banyak awan cumullonimbus single-cell terbentuk di sana-sini. Awan cumullonimbus sendiri adalah salah satu bentuk awan yang bisa menyebabkan terjadinya angin puting beliung dan badai.

Pesawat berangsur-angsur naik ke ketinggian 33 ribu kaki atau sekitar 11 Kilometer dari permukaan laut. Seharusnya di ketinggian ini pesawat terbang relatif stabil lantaran angin cukup stabil dan tidak ada awan.

Tapi hari itu lain. Di ketinggian ini, pesawat dihadang kabut yang cukup tebal dan pesawat bergetar cukup kencang lantaran banyak diterpa angin. Jarak pandang mungkin hanya sekitar 20 – 30 meter. Selebihnya, hanya kabut berwarna putih pekat.

Untungnya, maskapai ini menerbangkan pesawat baru. Baru keluar dari pabrik pembuatannya di Renton, Washington. Belum lagi pesawat ini dilengkapi teknologi pemindai badai. Sehingga, pesawat secara otomatis akan menghindari titik-titik pusaran badai di depannya. Sehingga perasaan saya bisa sedikit tenang.

Akhirnya saya pun tertidur selama 1 jam dan terbangun ketika cuaca telah cerah. Ketika melihat ke jendela, saya sudah berada di lautan lepas, tepatnya laut antara Jawa dan Makassar. Gugusan pulau tampak indah terlihat dari pesawat berkecepatan 800 Km per jam ini.

Mendekati bandara Sultan Hasanudin, Makassar, pesawat mulai melakukan manuver untuk mendarat. Ketinggian sudah jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya, yaitu sekitar 3 ribu kaki atau 1 Kilometer di atas permukaan laut.

Mendarat di Makassar merupakan salah satu hal yang mendebarkan juga. Mesin pesawat tidak pernah terdengar stabil, selalu naik-turun untuk menstabilkan posisi pesawat terhadap bandara. Ini saja udah jadi pertanda bahwa pesawat agak kesulitan menstabilkan posisi untuk mendarat. Ketidakstabilan ini biasanya terjadi ketika faktor cuaca yang kurang bersahabat. Istilah-istilah seperti down-stream dan cross-wind, pun terdengar sangat mengerikan saat itu. Terlebih lagi down-stream. Jarang ada pesawat bisa lolos dari angin yang bergerak dari atas ke bawah ini.

Gambar: graphicshunt.com

Gambar: graphicshunt.com

Nampaknya, ketika saya mendarat, ada cross-wind dari samping kanan. Roda kiri pesawat terasa menyentuh landasan lebih dulu daripada roda kanan. Selain itu, guncangannya pun sedikit kasar. Yah, pesawat sedikit mengalami hard-landing.

Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Makassar. Ternyata, pengalaman pertama saya naik pesawat jet, cukup mengesankan juga, meskipun rada was-was. Terkadang, ketidaktahuan akan sesuatu ternyata lebih baik dibandingkan bila kita sudah tahu lebih dulu. Ada konsekuensi secara psikologis di situ.

Untungnya tidak ada kejadian apa-apa dengan pilot dan co-pilot. Sehingga pramugari tidak perlu bertanya kepada penumpang, “Is anybody here know how to play Microsoft Flight Simulator?” hehe

7 thoughts on “Susahnya Naik Pesawat Ketika Tahu Itu Pesawat

  1. bagusrully berkata:

    pesawatnya 737-900 ER khan? Seharusnya waktu boarding, minta di 31F, ntar dapet di pintu darurat tengah dimana pas take off sama landing pramugari duduk pas di depannya…. lumayan kan….😀 Jadi setidaknya dapet hiburan lah di tengah kesumpekan kursi ekonomi class lion air yang ga lebih bagus dari kursi bis damri Cicaheum – Elang… :))

    • Yudha P Sunandar berkata:

      nah, kalo itu lebih repot lagi. pandangan, oke. tapi kalo terjadi apa2, ntar repot ditanggung jawab akhiratny, euy. ntar yg diinget malah pramugari cantik d depan kita. hahaha

    • Yudha P Sunandar berkata:

      yah, setidakny kalo terjadi sesuatu seperti yang ada dalam gambar, bisa mengajukan diri, pet. hehe

      kok bisa pet masih tetep gugup naik pesawat? gw gugupny pas penerbangan ke makassar aja. tapi ketika penerbangan balik k makassar, gugupnya ilang. stidaknya, ngak segugup waktu dari jakarta ke makassar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s