Kunjungan ke Masjid Lautze 2 Bandung Jilid 2


Pada hari Rabu, 13 Januari 2010, saya kembali mengadakan kunjungan ke Masjid Lautze 2 Bandung yang terletak di jalan Tamblong 27 Bandung. Kunjungan kedua kali ini untuk mempertajam informasi-informasi seputar keberadaan Tionghoa Muslim di Bandung.

Tiba pukul 9 pagi, di depan Masjid Lautze 2 Bandung, kebetulan saya berpapasan dengan ko Fung-Fung yang baru turun dari bis kota. Pria bernama lengkap Ku Khie Fung ini, merupakan ketua DKM Masjid Lautze 2 Bandung. Beliau meraih gelar S.Ag-nya dari Universitas Islam Bandung (UNISBA).

Saya diajak masuk ke sekretariat DKM Masjid Lautze 2 Bandung yang terletak di atas ruangan masjid. Sebuah ruangan yang berukuran sekitar 3 x 3 meter beralaskan karpet dengan beberapa meja setinggi setengah meter di tengah-tengah ruangan. Di atasnya terdapat 2 unit komputer untuk bekerja.

Di dinding sebelah utara, terdapat 3 buah rak buku besar. Rak buku tersebut dihuni banyak buku-buku tentang Islam. Beberapa buku juga terlihat bertema Tionghoa Muslim. Buku yang menarik perhatian saya adalah Alquran terjemahan yang kalau tidak salah biasa diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia.

Namun Alquran ini lain. Bukan dilengkapi dengan terjemahan Bahasa Indonesia, melainkan terjemahan Bahasa Mandarin. Tidak biasanya memang saya melihat Alquran dengan terjemahan berbahasa dan berhuruf Mandarin. Saya cukup tertarik dengan Alquran terjemahan Mandarin ini karena terlihat klasik, setidaknya bagi saya.

Di sini, saya bertemu dengan ci Sendy Yuli. Beliau merupakan bendahara Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) Bandung. YHKO sendiri merupakan yayasan yang bertujuan sebagai tempat informasi Islam untuk warga Tionghoa di Indonesia.

Saya memulai perbincangan dengan mengutarakan sejumlah pertanyaan kuantitatif mendasar tentang keberadaan Tionghoa Muslim di Bandung. Dari keterangan ko Fung-Fung dan ci Sendy, belum ada data yang presisi mengenai keberadaan Tionghoa Muslim di Bandung. Berdasarkan BPS tahun 2007, ada sekitar 8.000 orang Tionghoa Muslim di Bandung. Tionghoa Muslim Bandung yang terkoneksi ke Masjid Lautze 2 Bandung sendiri sekitar lebih dari 200 orang.

Meskipun begitu, perlu dikritisi mengenai keIslaman sebagian Tionghoa Muslim di Bandung. Karena ada dari mereka yang keIslamannya belum baik. Hal ini tergantung motif ketika masuk Islam dulu. Dalam hal ini, keberadaan lembaga seperti Masjid Lautze 2 Bandung sangat penting untuk memperkuat aspek keimanan mereka yang baru beragama Islam.

Dari aspek kuantitatif ini, perbincangan meluas ke aspek kualitatif. Beberapa hal yang kami perbincangkan, beberapa di antaranya adalah, tentang kehidupan sehari-hari Tionghoa Muslim, tekanan kepada sebagian Tionghoa yang masuk Islam, perjuangan beberapa Tionghoa Muslim untuk mempertahankan keIslamannya, hingga ke tokoh-tokoh Tionghoa Muslim tanah air yang sudah banyak berkontribusi terhadap masyarakat.

Tulisan mengenai hal-hal yang saya sebutkan di atas, akan saya tulis dalam tulisan tersendiri. Selain karena akan saya kirimkan ke media mainstream, tulisan tersebut juga membutuhkan verifikasi dari narasumber. Mulai membiasakan diri untuk tertib dalam mempublikasikan tulisan, yaitu selalu melakukan verifikasi sebelum sebuah tulisan dimuat. Etika ini bertujuan agar informasi yang disampaikan mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan.

Meskipun begitu, hal yang ingin saya sampaikan dari perbincangan tersebut, adalah tentang perjuangan Tionghoa Muslim untuk mempertahankan keIslamannya. Banyak dari mereka yang ketika memeluk Islam, sumber keuangan dari keluarga besarnya diputus. Sehingga tak jarang sebagian dari mereka akhirnya jatuh miskin. Hebatnya, mereka tetap mempertahankan akidah keIslamannya.

Dari sinilah akhirnya saya mengerti mengapa muallaf termasuk ke dalam golongan yang berhak menerima zakat. Tak jarang, kejadian seperti ini menimpa orang-orang yang baru masuk Islam sehingga secara finansial mereka harus dibantu agar mampu bangkit kembali.

Sayangnya, lembaga zakat besar, sepanjang yang saya lihat, belum melihat muallaf sebagai golongan yang diprioritaskan untuk dibantu. Lembaga zakat cenderung fokus pada program-program pemberian zakat untuk fakir dan miskin.

Arah perbincangan kami selanjutnya mengenai keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia. Beruntung saya bertemu dengan mereka berdua yang memiliki wawasan sejarah yang banyak. Sehingga cukup banyak informasi yang saya dapatkan mengenai keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia, khususnya Tionghoa Muslim.

Di antara yang kami diskusikan mengenai perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia dan beberapa teori yang menyatakan bahwa Wali Songo berasal dari China.

Kami juga sempat berdiskusi mengenai keberadaan etnis Tionghoa di zaman penjajahan Belanda yang selalu saja menjadi bemper. Sehingga wajar saja kebencian terhadap etnis Tionghoa begitu besar di Indonesia. Karena ternyata sejarah banyak menyudutkan etnis Tionghoa dan mengadu dombakan dengan etnis lain di Indonesia.

Di akhir perbincangan menjelang Dzuhur, Ci Sendy sedikit mengkritisi saya tentang penyebutan Tionghoa Muslim. Awalnya saya menyebut Tionghoa Muslim dengan julukan Muslim Tionghoa. Namun, ci Sendy mengingatkan bahwa Muslim Tionghoa bermakna Muslim yang beretnis Tionghoa. Padahal, muslim itu satu dan sesama muslim itu bersaudara.

Beliau mengingatkan, julukan yang tepat adalah Tionghoa Muslim. Karena, di dunia ini ada banyak ragam etnis Tionghoa, dan salah satunya adalah golongan Tionghoa yang beragama Islam.

Dari diskusi ini, cukup banyak hal yang bisa menjawab beberapa pertanyaan saya mengenai Tionghoa Muslim Indonesia. Salah satunya mengenai komunitas Tionghoa Muslim di Indonesia. Saya sendiri, setidaknya sampai tulisan ini dibuat, tidak melihat ada sebuah komunitas atau daerah domisili di Indonesia yang secara turun temurun mayoritas penghuninya adalah Tionghoa Muslim.

Kesimpulan sementara saya saat ini, kebanyakan Tionghoa Muslim melebur dan berasimilasi dengan jalan menikah dengan etnis lain di Indonesia. Contohnya saja di pulau Jawa. Banyak dari Tionghoa Muslim menikah dengan etnis Sunda atau Jawa. Sehingga wajar saja banyak orang Sunda dan Jawa memiliki wajah sipit seperti etnis Tionghoa. Padahal mereka sendiri tidak merasa punya keturunan Tionghoa.

Kesimpulan ini juga menjawab pertanyaan saya selama ini tentang nenek dari nenek saya yang juga Tionghoa. Saya selau mempertanyakan, mengapa dulu nenek dari nenek saya tidak menikah dengan Tionghoa Muslim lagi? Jawabannya akhirnya terjawab kini.

Pekerjaan besar selanjutnya adalah mentranskrip rekaman diskusi yang berdurasi hingga 2 jam lamanya. Pekerjaan lainnya, menyalin (photo copy) buku-buku koleksi perpustakaan Masjid Lautze 2 Bandung yang berkaitan dengan Tionghoa Muslim di Indonesia. Selain lebih murah, sebagian besar buku-buku tersebut juga sudah tidak beredar di pasaran lagi. Ada yang mau bantu mendanai ongkos photo copy?😀

6 thoughts on “Kunjungan ke Masjid Lautze 2 Bandung Jilid 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s