Berkunjung ke Masjid Lautze 2 Bandung


Hari Senin, tanggal 4 Januari 2010 lalu, saya memulai studi saya tentang muslim Tionghoa di Indonesia. Meskipun sudah lama direncanakan, namun baru bisa saya lakukan awal minggu ini. Alasannya, pekerjaan saya di Salman Media dan Salman Films sedang sedikit agak longgar. Film edukasi sudah beres, tinggal disetor dan direview oleh pihak terkait.

Urusan situs, Salman News, dan segala hal yang berkaitan dengan pengembangan media di Salman, nampaknya bisa saya pending sebentar sambil menunggu usulan rekruitmen relawan konten disetujui. Pekerjaan lainnya, termasuk ngedit buku dan rekapitulasi laporan keuangan tahunan LSM Kuncup Padang Ilalang, bisa saya kerjakan di malam hari di sela-sela kesibukan online dan ber-Facebook ria.

Agenda pertama dari studi ini adalah mengunjungi masjid Lautze 2 Bandung yang terletak di Jalan Tamblong No. 27, Bandung. Tempat ini menjadi tempat persinggahan pertama saya sebelum nantinya saya meneruskan ke masjid Lautze 1 di Jakarta, Lautze 3 di Cirebon, dan Kuil Sam Po Kong di Semarang. Selain itu, tempat ini berada satu kota dengan tempat tinggal saya, Bandung. Sehingga saya bisa dengan mudah menjangkaunya tanpa membutuhkan effort yang cukup besar dibandingkan ke kota-kota lainnya.

Sekitar pukul 10 pagi saya tiba di Masjid Lautze 2 Bandung. Akhirnya, saya masuk juga ke masjid Lautze. Padahal sudah sejak lama saya memiliki keinginan ini, tapi baru terwujud sekarang. Ketika masuk, saya cukup kaget juga dengan luas masjid yang hanya 7 x 6 meter ini. Padahal, saya pikir masjid ini luasnya setara dengan ruang GSS E Salman, sekitar 10 x 8 meter. Meskipun begitu, saya kagum dengan arsitektur masjid ini yang bercirikan Tionghoa tanpa kehilangan kekhasan budaya lokal dan timur tengah.

Saya disambut oleh Jesslyn Reyner (杨金珍), Sekretaris DKM Masjid Lautze 2 Bandung. Kebetulan Ketua DKM Masjid Lautze 2 Bandung, Kang Syarief Abdurrahman (Ku Khie Fung), sedang ada tamu. Sehingga saya hanya mengobrol dengan Jesslyn hingga sholat Dzuhur.

Saya sendiri memperkenalkan diri sebagai blogger yang ingin membuat tulisan tentang muslim Tionghoa di Bandung. Hal yang saya kagumi, pengurus DKM masjid ini, cukup cekatan menyajikan informasi yang saya butuhkan untuk studi saya ini. Bahkan, tidak segan-segan mereka mencetakan saya profil mengenai Masjid Lautze 2 Bandung.

Selepas mengisi buku tamu yang Jesslyn sodorkan, kami mulai berbincang. Topik perbincangan kami seputar kegiatan di Masjid Lautze 2 Bandung. Beruntung saya dibekali hasil cetakan profil Masjid Lautze 2 Bandung oleh Jesslyn, sehingga saya bisa dengan mudah mengarahkan pertanyaan.

Program kerja yang banyak dilakukan oleh Masjid Lautze 2 Bandung adalah pendampingan muallaf. Sangat wajar, karena belajar sesuatu, lebih nyaman ketika didampingi oleh orang yang memiliki akar budaya yang sama. Program lainnya, yang menggugah ketertarikan saya, adalah Lautze Education. Dalam program ini, ada kursus Bahasa Mandarin, kursus Bahasa Arab, dan kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa). Menggugah ketertarikan saya lantaran sejak lama saya ingin belajar bahasa dan menulis Mandarin. Sehingga ketika melihat program ini, saya jadi bersemangat untuk mencoba.

Program lainnya yang bagi saya menarik adalah Khalifah Singer dan Lautze Publishing. Khalifah Singer sendiri merupakan kelompok vokal lagu-lagu religi Islam dengan sentuhan instrumen khas Tionghoa. Sedangkan Lautze Publishing merupakan penerbitan yang memfokuskan diri mencetak buku-buku Islam dan Tionghoa.

Saya juga diperlihatkan tulisan kaligrafi Tionghoa yang merupakan terjemahan surat Al Ikhlas ke Bahasa Mandarin. Sangat unik, pikir saya. Belum pernah saya melihat terjemahan surat Al Ikhlas yang ditulis menggunakan huruf kaligrafi Mandarin dan dalam bahasa Mandarin pula.

Jesslyn juga memperlihatkan 2 buku berjudul Dinasti Cina Muslim di Nusantara dan Pertahanan di Perantauan. Kedua buku tersebut menceritakan sejarah orang-orang Tionghoa muslim pada abad 14 dan 15. Kedua buku tersebut dikarang oleh Widyo Nugrahanto. Beruntung, dia merupakan dosen di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran sehingga saya bisa dengan mudah mewawancarai beliau untuk memperdalam studi saya.

Arah perbincangan kami selanjutnya adalah  mengenai kehidupan Tionghoa muslim di Bandung. Jesslyn juga banyak menceritakan tentang dirinya dan keluarganya. Dia juga banyak bercerita tentang aktivitas sehari-harinya selain beraktivitas di Masjid Lautze 2 Bandung.

Saya sendiri asyik mengobrol di Masjid Lautze 2 Bandung hingga Dzuhur. Ketika Dzuhur, saya bertemu dengan Ko Khie Fung, yang merupakan Ketua DKM Masjid Lautze 2 Bandung. Akhirnya, saya dan Ko Khie Fung sepakat membuat janji untuk ngobrol-ngobrol lebih lanjut tentang muslim Tionghoa Bandung.

Ko Khie Fung sendiri saya lihat cukup sibuk. Beliau banyak mendampingi muallaf untuk menyempurnakan keIslamannya. Tak hanya itu saja. Dia pun seringkali melayani orang-orang Tionghoa yang berniat masuk Islam. Buktinya, ketika saya di situ, ada seorang Tionghoa yang hendak masuk Islam.

Selepas sholat Dzuhur, saya pamit pulang. Memang belum banyak materi yang terkumpul. Sehingga, untuk membuat tulisan yang utuh, saya butuh ngobrol-ngobrol lebih banyak lagi untuk mempertajam tema. Sedangkan mengenai tulisan ini, bukan merupakan tulisan utama. Hanya catatan perjalanan saya saja selama melakukan studi ini. Semoga, studi muslim Tionghoa di Bandung bisa selesai sebelum bulan Januari 2010 menginjak angka 31.

Iklan

2 thoughts on “Berkunjung ke Masjid Lautze 2 Bandung

  1. yusi berkata:

    wah…interesting article, mas Yudha.
    Saya baru tau kalau di masjid lautze ada semacam kursus-kursus mandarin, bahkan ada belajar kaligrafi tionghoa, kelompok vokal, sampai kelompok publisher.

    Saya asli pribumi tapi dari kecil sangat sangat menyukai mandarin dan budayanya. sudah 5 tahunan ini mempelajari mandarin sebagai hobi.Hehe.

    Kalau boleh tau, ada info ttg jadwal kegiatan-kegiatan disana nggak ya?

    Terima kasih

    • Yudha P Sunandar berkata:

      sampai saat ini, setahu saya, kegiatan yang rutin mereka selenggarakan adalah pengajian rutin di hari minggu pagi.

      kalo ada waktu senggang, coba main ke sana untuk ngobrol2. biasanya, para pengurusnya bisa ditemui pada hari senin hingga jumat dari sekitar pukul 9 hingga pukul 13.

      xiexie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s