Dicari: Pahlawan Bangsa Zaman Ini


Hampir semua negara memiliki apa yang disebut dengan hari kemerdekaan. Biasanya, hari kemerdekaan dikaitkan dengan hari ketika sebuah bangsa memproklamirkan dan menyatakan bahwa dirinya bebas dari penjajahan, baik penjajahan yang bersifat fisik maupun penjajahan yang berimplikasi politik.

Pada mulanya, orang meyakini bahwa kemerdekaan dicapai ketika fisik terbebas dari belenggu penjajahan. Meskipun begitu, dalam perkembangannya ternyata kita tahu bahwa kemerdekaan fisik belum menyebabkan sebuah negara sepenuhnya merdeka. Karena saat ini kita juga mengenal adanya penjajahan politik dan penjajahan ekonomi.

Namun, yang harus kita pahami bersama, setiap perjuangan untuk membebaskan diri, pada umumnya membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan ini timbul akibat dari perlawanan fisik terhadap penjajah yang banyak mendapatkan manfaat dan enggan melepaskan negara jajahannya.

Mereka inilah yang kemudian disebut pahlawan, yaitu orang yang berani mendobrak kemapanan. Penjajahan sendiri merupakan bentuk sebuah penindasan yang tentu tidak disukai oleh yang dijajah. Meskipun demikian, dalam rentang waktu tertentu, penjajahan bisa memberikan kemapanan kepada orang yang dijajah.

Sejarah selalu mencatat, biasanya yang memiliki semangat dan idealisme tinggi untuk mendobrak kemapanan penjajahan selalu anak muda. Karena anak muda memiliki dinamika yang tinggi dan belum terikat banyak secara sosial. Sehingga mereka memiliki kemerdekaan yang lebih dibandingkan orang-orang yang telah memiliki tanggung jawab sosial, seperti tanggung jawab keluarga.

Di Indonesia, para pelopor berdirinya negara ini, ketika itu juga masih muda. Contohnya saja Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ketika beliau meninggal, usianya baru 35 tahun. Untuk ukuran sekarang, beliau masih sangat muda, tetapi sudah menjabat sebagai panglima besar Indonesia.

Meskipun begitu, semua ini bukan disebabkan faktor kesejarahan yang memihak. Kesempatan sejarah itu selalu tersedia kapanpun juga. Hanya saja, format dan bentuknya yang berbeda.

Sebenarnya, anak-anak muda selalu memiliki kesempatan besar pada zamannya masing-masing untuk menerobos segala kebuntuan dan kemapanan yang menyebabkan terhalangnya horizon baru. Contohnya saja ketika Indonesia pada tahun 1945.

Ketika itu, kemerdekaan merupakan horizon baru. Hal ini, jelas merupakan sesuatu yang tidak bisa terbayangkan ketika itu. Namun, karena ada beberapa orang yang berani menerobos kebuntuan dan kemapanan inilah, maka kemerdekaan bisa terwujud.

Meskipun begitu, untuk melakukan terobosan dan mendobrak kemapanan, diperlukan pengorbanan. Pada akhirnya, pengorbanan inilah yang kemudian melahirkan pahlawan atau orang-orang yang bersedia berkorban. Sehingga, dalam ajaran agama kita, mereka yang berjuang di jalan Allah untuk memperjuangkan hak-hak azasinya, seperti kemerdekaan, adalah orang-orang yang berada di jalan fisabilillah. Sehingga mereka berhak mendapatkan pahala di sisi Allah.

Lalu, di zaman seperti sekarang ini, siapakan dan dalam bentuk apakah seseorang memiliki peluang untuk bisa disebut sebagai pahlawan? Setiap sejarah memiliki tantangan tersendiri. Pada zaman kita dijajah, tantangannya adalah membebaskan diri dari penjajahan. Bentuk tantangan ini bersifat eksplisit dan jelas secara fisik.

Pada zaman ini, perjuangan memerlukan pemikiran yang lebih canggih. Karena, penjajahan bukan hanya sekedar penjajah fisik antar orang yang berbeda etnik. Namun, penjajahan saat ini timbul karena ego dari diri kita sendiri. Kita dijajah oleh diri kita sendiri. Bagaimanapun juga, dalam konteks tauhid, seseorang yang mengambil Ilah disamping Allah, pada dasarnya dia dalam kondisi terjajah.

Saat ini, kita ada dalam kebuntuan untuk menerobos kebiasaan-kebiasaan lama yang dibangun oleh ego sifat ingin berlebihan dalam penguasaan harta dan kekuasaan. Bahkan, bila perlu, pengusaan harta dan kekuasaan direbut dengan cara yang tidak benar dan merugikan orang lain.

Kita dijajah oleh kultur negatif yang dibangun selama bertahun-tahun, seperti korupsi. Memang sifatnya lebih abstrak, namun dalam hal esensi sama saja. Alam bawah sadar kita telah dijajah sehingga kita berpikir bahwa segala persoalan tidak akan selesai tanpa berlaku korup.

Parahnya, hal ini terjadi di setiap level di negara kita. Meskipun magnitude dan kompleksitasnya berbeda-beda di setiap level, namun tetap saja ini merupakan penjajahan.

Untuk lepas dari penjajahan yang bersifat kultur seperti budaya korupsi, perlu ada yang mempelopori. Dalam hal ini, anak-anak muda seharusnya bisa melakukannya.

Bentuknya? Hal inilah yang memerlukan pemikiran yang lebih mendalam. Semestinya, anak-anak muda pada zaman ini, bisa menemukan bagaimana terobosan baru tersebut harus dilakukan. Seperti yang terjadi pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia.

Pada waktu itu, anak-anak muda zaman 30-an dan 40-an, seperti: Soekarno, Mochammad Hatta, Sudirman, dan Natsir, mencoba melakukan terobosan budaya. Mencoba menerobos kebuntuan penjajahan yang dianggap sudah mapan.

Ketika itu, tidak terpikir oleh rakyat mengenai apa itu kemerdekaan. Rakyat telah hidup selama bertahun-tahun dalam kemapanan di bawah penjajahan Belanda. Rakyat telah banyak difasilitasi oleh Belanda sehingga terninabobokan dan enggan keluar dari kungkungan penjajahan serta tidak berpikir untuk merdeka. Hingga pada akhirnya, sejumlah anak-anak muda yang pintar pada zamannya, mampu keluar dari kungkungan kultural penjajahan.

Hal yang sama menjadi tugas para pemuda zaman ini. Mereka seharusnya mulai berpikir untuk bisa keluar dari kungkungan kultural, seperti kultur korupsi. Pemuda harus berani berpikir untuk keluar dan bertindak nyata untuk menerobos kukungan kultural dengan mulai mencoba membuka wawasan baru.

Memang hal ini cukup merepotkan lantaran setiap lompatan budaya memerlukan pengorbanan. Berbeda dengan pengorbanan pada revolusi fisik yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa, pengorbanan pada zaman ini lebih ke dalam kesederhanaan hidup. Anak-anak muda harus bisa mempelopori hidup sederhana. Salah satunya, bisa dengan mencintai produk-produk dalam negeri.

Bagaimanapun juga, gaya hidup yang hedonis dan di luar kewajaran dirinya, menyebabkan orang-orang berlaku korupsi. Budaya ini salah satunya ditenggarai oleh adanya sikap yang enggan untuk berkorban dalam kesederhanaan.

Untuk memulai perjuangan merubah kultur yang telah mapan ini, anak-anak muda harus mempelopori gerakan massal. Sebuah gerakan masif dalam kehidupan sehari-hari untuk mencintai kejujuran, mencintai kesantunan, dan mencintai negara ini sebagai amanah dari Tuhan yang harus dijaga dengan baik.

Saat ini, bangsa Indonesia memerlukan pahlawan-pahlawan baru. Pahlawan-pahlawan yang sensitif dengan isu-isu sosial dan mampu bertindak konkret. Pada akhirnya, sejarah akan memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk merespon tantangan zamannya. Untuk menjadi pahlawan bagi dirinya, agamanya, dan bangsanya.

Tulisan ini disusun dari hasil wawancara penulis dengan Dr. Ir. Hermawan K Dipojono selaku narasumber. Hak cipta tulisan ini berada di tangan narasumber dan diterbitkan dalam rubrik Pojok Mas Her di situs Masjid Salman ITB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s