Ajang Uji Nyawa: Donor Darah


Beberapa minggu yang lalu, saya ditantang oleh seorang kawan untuk donor darah. Sebuah kegiatan yang sejak lama tersugestikan menakutkan dalam hidup saya. Hal yang terjadi, saya selalu memaparkan pembenaran nilai-nilai yang seharusnya bisa saya lawan, seperti: berat badan saya kurang, tekanan darah saya rendah, atau hemoglobin saya sedikit.

Namun, pembenaran itu seakan-akan sirna malam itu. Ketika, secara spontan, seorang kawan mengajak saya ke kantor Palang Merah Indonesia di jalan Aceh, depan stadion Siliwangi, Bandung. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, saya ikut saja ketika kawan saya menyuruh saya mendaftarkan diri di meja pendaftaran dan melakukan beberapa tes yang harus dilalui seorang calon pendonor. Dia berbisik, “Semoga kamu selamat, Yudh. Berharap aja tesnya gagal.”

Sebelum diambil darahnya, seorang calon pendonor diharuskan melakukan beberapa tes kesehatan, seperti tes tekanan darah, jumlah hemoglobin, dan golongan darah. Hal ini dilakukan untuk melihat kelayakan tubuh calon pendonor melakukan kegiatan donor darah.

Akhirnya, setelah tes terakhir, yang tidak saya sadari bahwa itu adalah tes terakhir, saya dipersilahkan untuk mencuci tangan. Saya pikir, mencuci tangan adalah kegiatan yang harus saya lakukan sebelum ke tes berikutnya. Namun, yang saya herankan, sang kawan tidak melakukan kegiatan yang sedang saya lakukan. Ketika itu, saya sadar bahwa kawan saya tidak lolos tes kesehatan. Sebaliknya, saya lolos tes kesehatan dan saat itu langsung dinyatakan sebagai pendonor darah.

Spontan, saya merasa gugup dan takut. Pasalnya, saya harus melakukan hal yang selama ini saya takutkan, donor darah. Tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur. Tinggal diberi kecap, kerupuk, dan potongan ayam supaya menjadi lebih nikmat. Ditambah lagi, sudah jadi kebiasaan saya untuk mengakhiri apa yang saya awali. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk melakukan kegiatan donor darah.

Berjalan menuju tempat pembaringan, berbaring, dan menaruh lengan kiri untuk ditusuk, adalah hal yang sangat berat ketika itu. Sang eksekutor, julukan saya untuk operator pengambilan darah, langsung duduk di sebelah kiri saya. Saya benar-benar sangat amat pasrah saat itu.

Sebuah jarum, disiapkan di hadapan saya. Saya benar-benar ingin memalingkan muka dan ingin rasanya berteriak bahwa saya menyerah dan ingin berhenti. Tapi, sekali berjalan, pantang untuk berhenti. Rasa penasaran yang amat sangat, benar-benar membuat saya sulit memalingkan muka dari lengan kiri saya yang siap untuk dihujamkan jarum berukuran lebih-kurang 5 sentimeter.

Setelah siap, sang eksekutor memasang penghambat darah di lengan bagian atas saya. Dia juga menyuruh saya menggenggamkan telapak tangan saya agar saluran darah terlihat jelas. Sehingga dia bisa dengan mudah menentukan saluran darah mana yang bisa dijadikan jalur keluarnya darah saya. Menyeramkan memang. Tapi sekali lagi, membuat saya penasaran.

Sang eksekutor lalu menyemprotkan alkohol di daerah yang akan dihujam jarum. Meskipun ingin rasanya saya memalingkan muka, namun tetap saja rasa penasaran ini membuat mata saya tetap memandang daerah, yang dalam hitungan detik, akan tertancap jarum besar berukuran 5 sentimeter.

Tanpa pikir panjang, akhirnya jarum itu menusuk dengan mulusnya ke dalam saluran darah saya. “Ups,” bisik saya kaget. Akhirnya, dengan derasnya darah saya mengalir ke dalam labu yang ukurannya bisa memuat hingga lebih kurang setengah liter darah. Saya lupa berapa banyak darah saya yang diambil. Tapi, saya berani kira, darah saya tak akan habis hingga labu itu terisi penuh.

Sepanjang saya berbaring dan darah saya mengucur ke dalam labu, saya hampir tidak bisa berhenti menahan tawa dan berkelakar dengan diri saya sendiri. Bayangkan saja, sebuah hal yang dari dulu saya takuti, dengan mudahnya bisa saya lewati dan saya lakukan malam itu. Hampir saya tidak percaya bahwa saya melakukannya.

Pendek cerita, darah saya telah memenuhi kuota yang dibutuhkan. Jarum telah dicabut dan saya disuruh berbaring beberapa saat. Memulihkan kondisi ceritanya. Sang eksekutor pun pergi sebentar memberikan saya waktu untuk istirahat.

Beberapa menit kemudian, saya merasakan sesuatu yang saya benci. Nampak seperti mabuk darat. Perut saya merasa mual. Benar-benar mual. Selanjutnya kepala saya mulai berputar-putar. Pandangan saya pun mulai kabur. Berkunang-kunang. Awalnya hanya ada satu kunang-kunang. Kemudian bertambah dua kunang-kunang. Sepuluh kunang-kunang. Dalam waktu singkat, jadi seratus kunang-kunang. Dan kini banyak kunang-kunang menutupi pandangan saya.

Herannya, ketika itu saya sempat berpikir tentang kematian. “Lucu juga yah kalau ada orang yang mati gara-gara donor darah,” pikir saya spontan waktu itu. Saya juga masih sempat-sempatnya mentertawakan lelucon itu sembari menahan sakit yang benar-benar membuat saya tak berdaya.

Tak lama kemudian, eksekutor datang dengan sedikit panik. Dia menyuruh saya memejamkan mata dan membantu saya pindah tempat ke tempat tidur yang bisa dijungkir balikan. Kemudian saya disuruh membuka mata, dan dia memposisikan kaki saya lebih tinggi dibandingkan kepala saya. Fungsinya, tentu saja untuk membuat darah saya naik ke kepala. Bagaimanapun juga, donor darah membuat otak saya kekurangan darah dan oksigen.

Kawan saya, yang tiba-tiba sudah ada di sebelah saya, hanya tertawa geli melihat kondisi saya. Sembari memulihkan kondisi dan mencairkan suasana, saya, kawan saya, dan sang eksekutor terlibat obrolan santai dan tidak serius. Sang eksekutor mengomentari bahwa pendonor pertama kali, seharusnya tidak melakukan kegiatan donor darah pada malam hari. Selain itu, antara waktu makan dan waktu donor darah, ada jarak minimal 1 jam. Bila tidak, kondisinya akan seperti saya. Terbaring lunglai hingga hampir pingsan.

Sekitar 2 jam saya terbaring lemas sebelum akhirnya bisa berjalan kembali. Meskipun begitu, ada rasa penasaran untuk mencoba donor darah kembali lain waktu. Mungkin tahun depan, ketika jumlah darah saya sudah pulih dan saya siap untuk donor darah lagi.

Iklan

4 thoughts on “Ajang Uji Nyawa: Donor Darah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s