Sekolah Pra Nikah: Bekal Bagi Mereka Calon Ayah dan Ibu


Masih pagi, tapi sudah cukup siang memang, ketika saya menerima sms dari panitia Sekolah Pra Nikah. Isinya, permintaan untuk menjadi moderator Sekolah Pra Nikah (SPN) angkatan 7. Awalnya saya agak kebingungan disuruh jadi moderator SPN. Alasannya, saya belum menikah dan saya tidak terlalu baik secara artikulasi.

Awalnya, saya limpahkan permintaan ini ke Veejay. Dan awalnya juga, dia berminat menjadi moderator. Namun, lantaran tawarannya datang terlalu mendadak, yaitu 1 jam sebelum acara, dan dia pun harus merampungkan film yang di situ dia berperan sebagai editor, akhirnya Veejay memilih untuk menolak tawarannya tersebut. Dengan modal wejangan dan sedikit tips-tips membawakan acara dari Veejay, akhirnya saya memberanikan diri mengambil tawaran tersebut.

Tepat pukul 9, saya sudah siap di Gedung Serba Guna (GSG) Salman ITB. Peserta pun sudah mulai berdatangan. Ternyata, ketika briefing di GSG, saya bukan hanya diminta sebagai moderator, tetapi pembawa acara juga. Hasilnya, mati kutu. Untuk jadi pemateri dan moderator sih masih oke. Tapi kalau disuruh jadi pembawa acara, ini sih bukan ranah saya, tetapi ranah bapak dan adik saya. Secara keduanya penyiar radio dan selalu bisa diandalkan sebagai MC. Bahkan konon, adik saya mengaku pernah membawakan acara yang di dalamnya hadir Walikota kesayangannya, Walikota Cimahi.

Kali ini saya benar-benar modal nekad, di samping modal harapan bahwa saya juga mempunyai bakat itu, bakat sebagai pembawa acara. Dan yang pasti, tentu tak ada waktu lagi untuk mencari orang. Adikku? Yah, biarkan dia kuliah dengan tenang di kampus barunya itu. Sulit mengharapkan dia dalam keadaan genting seperti ini.

Tepat pukul 9 lebih sepuluh, acara saya buka. Cukup banyak konsep untuk membuka acara, sudah terkumpul di kepala. Tapi, prakteknya, saya kikuk setengah mati. Benar-benar kaku. Saya kira, saya bisa membawakan acara dengan dinamis. Namun, keadaan malah garing. Yah, saya benar-benar kacau saat itu. Untungnya pembicara sudah ada di tempat. Jadi, saya tidak perlu berlama-lama di tengah kekikukan dan segera menguasai diri untuk berubah menjadi moderator.

Pembicara pada pertemuan pertama ini adalah pak Asep Zaenal Ausop. Beliau merupakan dosen agama di ITB. Saya pernah bermasalah dengan dia, sekali. Sewaktu mewawancarai beliau untuk Salman News. Hal bodoh yang saya lakukan waktu itu adalah menghapus hasil rekaman wawancara di depan dia. Sumpah, itu nggak sengaja. Akhirnya, yang menuliskan profil dia, bukan saya. Tetapi dia sendiri. Mudah-mudahan dia sudah memaafkan dan melupakan kejadian itu. Setidaknya karena ini dalam suasana Idul Fitri, dan dia harus melakukannya.

Beliau membawakan materi tentang Pemahaman Awal Menikah. Meskipun artikulasi beliau agak kurang baik, namun dia begitu luwes dalam membawakan materi. Kami, di Salman Media, sangat menyukai gaya dia dalam membawakan materi. Kocak dan mampu memilih kata dengan cukup tepat. Selain itu, beliau pun sangat pandai dalam memilih perbandingan konsep-konsep yang semula rumit. Hal ini membuat kami yang awam, bisa mengerti apa yang dia sampaikan.

Beliau banyak menyampaikan mengenai konsep besar pernikahan. Menurut beliau, menikah adalah suatu bentuk pernjanjian yang sangat kuat dan mengikat antara seorang pria dan seorang wanita untuk berumah tangga. Beliau menegaskan, tujuan menikah tiada lain mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Ciri dari keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah ketika anggota keluarganya merasa baiti jannati, rumahku adalah surgaku.

Menikah, menurut beliau, tak perlu mahal. Hal terpenting adalah mengumumkan bahwa dua orang anak manusia telah menikah. Rasul bersabda, “Walimahkan walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” Nikah yang tidak diumumkan adalah nikah sirih, dan menurut beliau, hal tersebut haram.

Kembali ke keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Beliau kemudian memaparkan definisi sakinah, mawaddah, wa rahmah:

  • Sakinah atau tenteram. Keluarga yang sakinah bukan berarti tidak pernah ada masalah. Namun, keluarga yang sakinah mampu menghadapi berbagai masalah dengan bijak dan cepat mencari solusi.
    • Saling pengertian
    • Saling memahami
  • Mawaddah atau saling mencintai.
    • Siap saling mengalah
    • Siap saling berkorban (give and give)
    • Tidak akan pernah menyebut kelemahan isteri atau suami ke orang lain, kecuali konsultasi, itu pun harus proporsional
  • Rahmah atau penuh kasih sayang.
    • Perhatian
    • Khawatir
    • Ingat jasa

Meskipun begitu, dari sekian banyak pasangan yang menikah dan berumah tangga, hanya sedikit yang meraih gelar keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Hal ini disebabkan lantaran ketidakmengertian konsep pernikahan.

Pak Asep Zaenal Ausop juga membahas mengenai cara mencari jodoh yang baik. Pertama, adalah ta’aruf atau berkenalan. Setelah saling mengenal, bisa beranjak ke jenjang berikutnya, yaitu tafahum atau saling memahami, dan tarahum atau saling mencintai. Kemudian, konsultasikan kepada orang yang sudah berpengalaman atau memiliki banyak pengetahuan tentang perjodohan dan rumah tangga. Hal ini sangat membantu meyakinkan kita atas segala ketidakyakinan yang biasa menyelimuti orang-orang yang sedang mencari jodoh, seperti saya ini.

Hal terakhir yang harus dilakukan adalah istikharah, yaitu meminta petunjuk 4JJ 1 dengan shalat dua rakaat yang diakhiri dengan doa istikharah atau meminta petunjuk atau sesuatu hal.

Dalam mencari jodoh, ada etika ta’aruf, tafahum, dan tarahum yang harus dipegang, yaitu:

  • Tidak boleh menundukan kepala
  • Tidak boleh berbicara mendayu-dayu
  • Tidak boleh mojok
  • Tidak boleh berdua-duaan, minimal ada banyak orang di sekitar kita, lebih baik lagi, membawa ikut serta keluarga (misalnya: adik, sepupu, atau kakak)

Beliau juga memaparkan hal-hal yang menyangkut pernikahan, di antaranya adalah:

  • Tidak boleh sepihak.
  • Perempuan boleh menolak. Harus berani dan jangan takut untuk menolak.
  • Jangan terlalu banyak memberi harapan.
  • Mas kawin adalah kesepakatan bersama antara calon pengantin pria dan wanita.

Dalam hal ini, beliau juga menekankan bahwa yang berhak memilih adalah sang anak. Orang tua hanya mengarahkan. Beliau juga menegaskan bahwa haram hukumnya apabila menikah paksa atau salah satu calon mempelai tidak setuju. Apabila sang perempuan dinikah paksa, dia berhak mengajukan cerai.

Setelah 1,5 jam menemani pak Asep sebagai moderator, akhirnya acara harus tuntas juga. Masih ada 9 pertemuan dalam 9 minggu ke depan. Saya yakin, materi selanjutnya pasti akan lebih menarik. Berikut saya tulis juga materi untuk 9 minggu ke depan.

  1. Persiapan Diri Menikah oleh Ust. Budi Prayitno dan dr. Emma Kaysi
  2. Proses Pranikah dan Pernikahan oleh Ust. Hervi firdaus dan Erlin Marlina
  3. Hak dan Kewajiban dalam Rumah Tangga oleh Erlin Marlina, KH Miftah Faridl, dan Siti Muntamah
  4. Mempersiapkan Keluarga oleh KH Miftah Faridl
  5. Psikologi Adam dan Hawa oleh Adriano Rusfi dan Fitriani Y Lubis
  6. Kesehatan oleh dr. Yudi Feriandi dan dr. Emma Kaysi
  7. Administrasi dan Keuangan oleh Rahmat Puryosodo dan Sri Iskandar
  8. Problematika Rumah Tangga oleh Saiful Islam Mubarak
  9. Hukum Pernikahan menurut Islam dan Negara oleh Arif Ramdhani dan Agus Tri S

Karena kewajiban meliput kegiatan ini, akhirnya saya mewawancarai Gantina Rachmaputri. Gantina adalah manajer Lembaga Muslimah Salman (LMS) ITB yang baru. Banyak hal menarik yang dia sampaikan selama wawancara. Namun, banyak juga hal yang tidak dia tahu tentang SPN, karena dia mengaku bahwa dia baru di LMS. Hasil liputan tentang LMS, bisa dilihat di situs Salman ITB.

Ada dua hal yang menarik bagi saya. Hal pertama, adalah Biro Ta’aruf, semacam biro jodoh. Biro ini langsung ada di bawah LMS. Layaknya Biro Jodoh, biro ini mempertemukan seorang laki-laki lajang dan seorang perempuan lajang. Bedanya, biro ini memegang teguh aturan perkenalan dalam Islam. Perbedaan lainnya, peserta biro ini akan difasiiltasi oleh fasilitator untuk saling mengenal dan melangkah ke jenjang pernikahan.

Bagi yang berminat, program ini tidak repot. Cukup dengan mengirimkan biodata diri beserta foto dan kriteria pasangan yang diidam-idamkan. Nanti, Biro Ta’aruf akan mencocokan biodata yang masuk melalui kriteria-kriteria pasangan yang disebutkan dalam biodata. Kalau pasangan yang disarankan cocok, para peserta akan difasilitasi oleh fasilitator untuk saling mengenal dan melangkah ke jenjang pernikahan.

Awalnya, program ini hanya untuk peserta SPN saja. Tapi, karena tingginya minat orang dengan biro ini, akhirnya Biro Ta’aruf dibuka juga untuk umum. Bagi yang ingin tau lebih banyak tentang biro ini, bisa menghubungi LMS di 0856 202 6365 atau melalui email ke lembagamuslimahsalman_itb@yahoo.co.id. Nomor yang tertera, hanya bisa dihubungi selama jam kerja. Di luar itu, coba saja sendiri.

Hal menarik kedua, adalah pengembangan SPN di daerah-daerah. Ternyata, ada cukup banyak juga yang berminat dengan program ini di daerah lain. Gantina bilang, sudah banyak masjid dan lembaga yang mengajukan membuka kelas SPN. Karena pusatnya di Bandung, SPN di daerah akan melalui jalur online melalui video streaming.

Program ini masih memiliki banyak kendala, di antaranya adalah SDM dan fasilitas untuk video streaming. Sebenarnya, kalau aplikasi streaming Salman Media yang diinisiasi oleh mas Yan Harlan rampung, termasuk di dalamnya streaming suara dan video, nampaknya bisa dipergunakan secara luas untuk berbagai program di Salman, seperti program SPN LMS ini.

Perbincangan siang itu berakhir dengan sedikit teguran dari Gantina mengenai performaku saat jadi moderator. Dia memberiku satu kesempatan lagi untuk jadi moderator merangkap pembawa acara. Kalau tetap nggak ada perubahan alias masih kaku, terpaksa minggu depan adalah penampilan saya yang terakhir di SPN. Mudah-mudahan, kalau saja harus berakhir, tidak ada yang merindukan saya. lho?!

9 thoughts on “Sekolah Pra Nikah: Bekal Bagi Mereka Calon Ayah dan Ibu

  1. mursyid berkata:

    asslmlkm kang…
    saya tertarik mw ikut SPN ini..kira2 kelas barunya dibuka kapan ya…???
    dan siapa yang bisa saya hubungi..???
    mohon infonya..terima kasih..

    • Yudha P Sunandar berkata:

      kelas baru akan dibuka awal tahun mendatang. anda bisa menghubungi LMS di nomor dan email yang tertera dalam tulisan d atas.
      terima kasih…

  2. JT berkata:

    SPN ini sangat perlu bukan hanya yang belum n baru mo menikah, untuk yg sudah menikahpun sekali lagi sangt perlu. kalau ada waktu ingin jg tu ngikutin acaranya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s