Survei Korban Gempa di Cigalontang, Tasikmalaya


Kondisi kantor kades Jayapura, Cigalontang, Tasikmalaya. Desa ini merupakan wilayah yang paling parah terkena gempa.

Sehari setelah gempa melanda Jawa Barat, saya dan tim dari Salman ITB langsung survei ke masing-masing lokasi bencana gempa bumi. Bersama rekan-rekan dari Salman Media dan Rumah Amal Salman, tim beranggotakan 6 orang ini langsung menuju Tasikmalaya ba’da Isya pada Kamis, 3 September 2009. Satu tim lagi berasal dari Korps Relawan Salman (Korsa), yang berangkat lebih dahulu secara terpisah, langsung menuju Pamengpeuk, Garut.

Sebelum menggapai Tasikmalaya, kami mampir terlebih dahulu di Garut. Pak Asep “Garut”, begitu julukannya, merupakan salah seorang karyawan di Salman ITB. Rumah Pak Asep dan keluarga di Garut, terkena efek gempa. Syukurlah, ketika dikunjungi, rumahnya masih kokoh berdiri. Hanya tampak 2 retakan cukup besar di dinding belakang rumahnya.

Setelah beristirahat sebentar, kami langsung menuju kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Agar memudahkan akses menuju lokasi, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di Masjid Agung kota Tasikmalaya dan berangkat setelah sahur dan sholat subuh.

Sebuah tenda pengungsian di sebelah masjid yang penuh retakan akibat gempa. Ini adalah lokasi pertama kami singgah.

Kondisi Korban Memprihatinkan

Tepat pukul 6 pagi, kami telah tiba di kawasan kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Menurut informasi, kecamatan ini merupakan kawasan terparah gempa bumi di kabupaten Tasikmalaya selain daerah Cisayong di kabupaten yang sama. Untuk menggapai lokasi bencana, kami harus menempuh jalanan menanjak sejauh sekitar 10 Kilometer. Daerah berbukit dengan diselimuti sawah berundak seluas puluhan hektar, membuat kami kagum. Terlebih lagi seluruh sawah masih berair di tengah musim kemarau yang melanda Indonesia, membuat kami merasa bersyukur bisa berkunjung ke Cigalontang.

Setelah 5 Kilometer kami menanjak, tanda-tanda rumah terkena gempa sudah mulai terlihat di kanan-kiri jalan. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak ketika melihat sebuah tenda darurat tanpa penghuni yang di sebelahnya terdapat masjid yang sebagian besar dindingnya mengalami retak. Beberapa penghuni rumah, tengah sibuk membereskan barang-barangnya.

Dari luar, puluhan rumah masih kokoh berdiri. Bahkan, sebagian besar rumah terlihat baik-baik saja, tanpa retak sama sekali. Namun, ketika kami diajak mengunjungi salah satu rumah oleh seorang penduduk setempat, ternyata rumah-rumah tersebut sebenarnya kondisinya sudah cukup parah. Sebagian besar dinding di masing-masing rumah, mengalami retak yang cukup parah. Bahkan, beberapa rumah dindingnya roboh. Tapi, karena robohnya hanya di dalam dan bagian belakang rumah, sehingga bila dilihat dari jalan, nampak baik-baik saja dan tidak terjadi kerusakan yang berarti.

Kepala Puskesma Cigalontang, Aan Nursalam.

Tenda yang kosong pun, tidak berarti para penduduk baik-baik saja secara psikis. Mereka mengaku, sangat trauma dengan kejadian ini. Tenda yang mereka bangun, hanya digunakan ketika malam tiba. Mereka tidur di tenda untuk menghindari dampak gempa susulan di malam hari yang bisa merubuhkan rumah mereka setiap saat. Tak hanya itu saja. Warga pun mengeluhkan bantuan yang tidak merata. Sebagian besar bantuan, hanya terdistribusi di daerah ibu kota kecamatan. Sedangkan daerah lain, tidak begitu beruntung mendapatkan bantuan gempa.

Di lokasi ini, kami juga bertemu dengan kepala puskesmas kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya, Aan Nursalam. Beliau memaparkan bahwa kecamatan Cigalontang memiliki 14 desa. Desa Jayapura, merupakan desa terparah dilanda gempa dibandingkan desa lainnya. Beliau juga memaparkan, bahwa sebagian besar korban hanya mengalami luka ringan. Hanya beberapa saja yang mengalami luka berat dan satu orang yang meninggal dunia. Korban meninggal dunia pun bukan karena tertimpa reruntuhan, namun lantaran mengalami hepertensi ketika terjadi gempa bumi.

Posko gempa di kp. Pamengpeuk, Tasikmalaya. Ini ada lokasi kedua kami singgah.

Rumah Kayu tetap Kokoh

Hanya sekitar 30 menit kami di lokasi pertama sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya di desa Jayapura. Bangunan-bangunan sepanjang perjalanan 5 Kilometer berikutnya, terlihat begitu memprihatinkan. Beberapa di antaranya sudah separuhnya rubuh, termasuk beberapa gedung sekolah yang kami lewati. Beberapa tenda kecil pun berdiri di beberapa lokasi guna menampung korban gempa ketika malam tiba.

Sekitar 3 Kilometer dari lokasi pertama, kami bertemu dengan tenda pengungsian berikutnya di kampung Pamengpeuk. Di lokasi ini, Rumah-rumah yang rusak akibat gempa, sangat jelas terlihat dari jalan. Aktivitas warga untuk membenahi rumah-rumah yang rusak, sangat jelas terlihat di sini. Tenda pengungsian pun lebih besar dan dihuni oleh ibu-ibu serta anak-anak. Beberapa relawan dari Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), terlihat sedang melakukan survei rumah yang rusak.

Rumah beton yang hancur akibat gempa. Di sebelahnya terlihat rumah kayu tetap kokoh berdiri.

Semakin menjauhi jalan memasuki gang, kerusakan rumah semakin parah. Beberapa di antaranya rubuh dan tidak layak huni lagi. Bahkan dikabarkan, sebuah pesantren yang terletak tidak jauh dari lokasi pengungsian, mengalami kerusakan cukup parah. Masjidnya pun hancur dan tidak bisa dipergunakan lagi.

Namun, ada satu hal yang menarik di lokasi ini, yaitu rumah kayu. Rumah panggung yang bertiangkan kayu dan berdindingkan bilik, tetap kokoh berdiri. Seorang ibu, bahkan dengan santainya melakukan aktivitas hariannya membersihkan rumah. Sang ibu mengaku dirinya tidak khawatir akan kondisi rumahnya paska gempa. Ketika orang lain mengungsi ke tenda-tenda darurat, dirinya dan keluarga masih bisa tidur dengan nyaman dan aman di rumah.

Kondisi rumah kayu yang masih kokoh di terjang gempa, kami temui juga di perjalanan akhir kami menuju desa Jayapura. Baik rumah kayu besar, maupun kecil, masih tetap dihuni tanpa ada rasa khawatir akan roboh diterjang gempa.

Saya jadi berpikir untuk membuat rumah kayu saja. Lebih tahan gempa dan lebih ramah bagi lingkungan. Terlebih lagi, ketika kemarin saya harus merasakan gempa di gedung kayu, julukan rumah kayu di Salman ITB, benar-benar mengasyikan. Selain tak perlu khawatir akan roboh, goyangannya pun terasa bermain jungkit-jungkitan.

Distribusi Bantuan Tak merata

Sekitar pukul 7 pagi, kami tiba di desa Jayapura, kecamatan Cigalontang, kabupaten Tasikmalaya. Di ibu kota kecamatan Cigalontang ini, kami temui banyak rumah yang ambruk diterjang gempa. Sebuah masjid, kantor kecamatan, dan sebagian ruangan sekolah, pun ambruk tak lepas dari terjangan gempa. Tenda-tenda pengungsian yang didirikan di sebuah lapangan Sekolah Dasar, dipenuhi oleh ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua lanjut usia.

Rumah yang porak poranda akibat gempa. Lokasi pengambilan gambar tidak jauh dari kantor kepala desa Jayapura.

Meskipun begitu, kondisi korban jauh lebih baik dibandingkan kondisi korban gempa di 2 lokasi sebelumnya. Berbagai fasilitas bencana seperti layanan kesehatan, telekomunikasi, dan bahan pangan, dapat dengan mudah ditemui di lokasi ini. Kebanyakan, fasilitas yang tersedia di dukung oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM), partai politik, relawan, provider telepon seluler, media, dan unsur TNI serta POLRI.

Berbagai bantuan tenaga bencana pun bermarkas di lokasi ini. Dimulai dari relawan bencana, pencinta alam, hingga tenaga dari TNI dan POLRI. Meskipun begitu, selama hampir 1 jam kami berada di lokasi, belum terlihat aktivitas mereka membantu warga membersihkan puing-puing reruntuhan. Warga, secara terpisah, membenahi tempat tinggalnya sendiri.

Melihat kondisi korban di ibu kota dan di 2 lokasi sebelumnya yang kami kunjungi, memperlihatkan keadaan yang cukup timpang. Kondisi korban di 2 lokasi pertama, begitu memprihatinkan karena minimnya bantuan, baik layanan kesehatan, tenaga, maupun logistik. Padahal di lokasi pertama terdapat rumah kepala puskesmas Cigalontang. Namun, ironisnya warga sekitar mengaku belum mendapatkan bantuan logistik.

Distribusi Bantuan

Tetep narsis...

Menjelang pukul 8, kami beranjak kembali ke Bandung. Karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya kami mengurungkan niat untuk berkunjung ke Cisayong, daerah lainnya yang mengalami kerusakan gempa paling parah selain Cigalontang.

Untuk distribusi bantuan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, lebih baik survei terlebih dahulu tempat yang memang membutuhkan. Jangan sampai, bantuan terpusat di satu daerah dan tidak menjangkau daerah bencana lainnya.

Kedua, karena bencana ini menimpa bagian selatan Jawa Barat, hendaknya distribusi bantuan tidak terfokus ke Tasikmalaya saja. Daerah lainnya, seperti Bandung Selatan, Garut, Cianjur, dan Sukabumi, pun mengalami kerusakan gempa yang tidak kalah hebatnya dan banyak dari daerah tersebut belum terjamah bantuan sama sekali.

Ketiga, disarankan memberi bantuan ke lokasi yang lebih dekat dengan kota tempat tinggal. Hal ini mempertimbangkan faktor jarak dan waktu. Semakin dekat jaraknya, semakin cepat bantuan terdistribusi dan semakin baik bagi para korban.

Bagi rekan-rekan yang ingin menyalurkan bantuan melalui Masjid Salman ITB, dapat menghubungi Korps Relawan Salman (Korsa) dan Rumah Amal Salman ITB. Bantuan dana juga bisa disampaikan melalui rekening-rekening atas nama YPM Salman ITB berikut:

Anggota tim yang lain selain saya.

Anggota tim lainnya, kiri - kanan: Ricky UK (Reporter CyberMosque), Reza A (DoP Salman Films), dan Muhsin M (Divisi Media Rumah Amal Salman)

  • BNI 46 No. Rek. 002 8683 291
  • Bank Syariah Mandiri No. Rek. 007 0192 638
  • Bank Mandiri No. Rek. 131 000 471 0887
  • Bank Bukopin Syariah No. Rek 8800 141 045
  • Bank Muamalat No. Rek. 102 000 1115
  • BTPN Syariah No. Rek. 601 1 001260
  • BCA No. Rek. 777 0857605
  • BTN Syariah No. Rek. 702 1000 148

Bagi rekan-rekan yang berminat menjadi relawan bencana gempa, bisa menghubungi Korps Relawan Salman (Korsa) melalui Tri Wulandari (022 609 67440 / 0857 2001 8911).

Semoga apa yang kita usahakan bisa membantu mereka. Amin…

NB: Foto lainnya bisa diakses di Flickr saya dengan tag TasikEarthQuake. Semua foto bebas didistribusikan untuk kepentingan publik dan non-komersil dengan syarat mencantumkan nama fotografer dan atau situs blog fotografer. Bagi mereka yang membutuhkan foto dengan ukuran lebih besar, bisa menghubungi saya melalui email.

Iklan

7 thoughts on “Survei Korban Gempa di Cigalontang, Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s