Rappelling dan Pelajaran Kehidupan


Beberapa waktu yang lalu, saya diberi kesempatan untuk melakukan rappelling, sebuah kegiatan menuruni tempat yang tinggi dengan menggunakan tali. Menara Masjid Salman ITB merupakan tempat yang kami jadikan lokasi rappeling. Saya sendiri tidak tahu berapa tingginya menara Salman. Nampaknya lebih dari 30 meter. Sebuah tempat yang sangat tinggi memang, setidaknya bagi saya.

Kegiatan ini memang dadakan. Setelah selesai mengadakan lomba balap karung dadakan, beberapa anak muda yang masih nongkrong-nongkrong di bawah menara, langsung mengajukan untuk rappeling. Waktu itu, selain saya, ada Tri, Muchsin, Irfan, Anis, dan beberapa orang lainnya yang saya lupa. Hasilnya, disetujui oleh kang Awang, tokoh paruh baya di Masjid Salman ITB.

Setelah pintu menara di buka dan alat-alat telah disiapkan, beberapa orang langsung bersiap memasang webbing ke tubuhnya yang difungsikan sebagai harness atau tali tubuh. Saya bersama Sandro, sang fotografer, langsung merangsek ke atas menara. Tanpa tangan kosong, saya pun berinisiatif membawa serta tali yang cukup panjang dan cukup berat.

Langkah pertama saya pada tangga menara, cukup membawa kegetiran tersendiri. Tangga yang tebalnya lebih kurang hanya 1 Cm, harus saya lewati hingga ke puncak menara. Entah berapa anak tangga, yang pasti cukup membuat saya terkadang berpikir ulang untuk turun kembali ketika melihat ke bawah. Belum lagi dengan kondisi ruangan yang hanya berukuran 2 x 2 meter dan menyempit di atasnya hingga hanya 1,5 x 1,5 meter. Semakin menciutkan hati yang sudah ciut.

Selama berjalan ke atas menara, sesekali saya melihat ke bawah. Hal ini sudah menimbulkan kengerian tersendiri. Belum lagi bila menengok ke luar dari rongga-rongga yang menghiasi menara. Semakin membuat saya bertambah ngeri. Tapi lantaran rasa penasaran yang besar untuk melakukan rappeling, akhirnya saya tidak mau ambil pusing dengan ketakutan saya.

Tangga yang harus saya lewati strukturnya zig-zag. Setelah melewati serangkaian tangga, saya harus berputar 180 derajat untuk menaiki rangkaian tangga lainnya yang berlawanan arah. Pijakan untuk berputar terbuat dari beton dengan lebar hanya 0,5 meter, bahkan mungkin kurang.

Tiga rangkaian tangga lagi, dan saya akan tiba di atap menara. Namun, tali yang saya bawa, beratnya bertambah. Mungkin karena gaya gravitasi yang semakin besar, sehingga berat benda pun bertambah. Dengan gemetaran dan nafas terengah-engah, saya masih nekad meneruskan perjalanan hingga ke atap menara. Melihat ke atas, Sandro dengan lincahnya telah tiba di atap menara. Melihat ke bawah, bukan hal yang bisa dinikmati.

Ketika sampai di atap menara dan hanya bisa duduk terdiam tak berdaya.

Ketika sampai di atap menara dan hanya bisa duduk terdiam tak berdaya.

Tinggal satu rangkaian tangga lagi, dan saya akan tiba di atap menara. Namun, saya memilih untuk duduk sejenak di pijakan antar rangkaian tangga. Di sini, saya benar-benar merasa takut, sangat takut. Niat untuk membatalkan melakukan rappelling dan turun ke bawah, semakin tak terelakan. Hal ini diperparah lagi dengan hembusan angin yang begitu besar. Membuat saya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan, rasanya saya ingin berteriak minta tolong dan berharap ada petugas pemadam kebakaran yang menggendong saya untuk turun ke bawah.

Sepanjang keadaan menakutkan ini, saya mencoba melihat sekeliling. Melihat ke bawah, begitu mengerikan. Saya benar-benar tak sanggup melihatnya. Namun, tetap saja saya melihatnya. Di sebelah timur, saya melihat atap gedung Rumah Sakit Boromeus sejajar dengan saya. Melihat ke sebelah barat, Masjid Salman jauh lebih rendah dari tempat saya duduk. Bahkan saya melihatnya begitu kecil.

Namun, perlahan-lahan rasa takut itu mulai hilang seiring kawan-kawan lain menyusul saya naik ke atap menara. Kang Awang pun tiba di tempat saya duduk ketakutan. Tanpa mengidahkan saya, dia langsung menuju atap menara. Akhirnya, saya mencoba memberanikan diri lagi. Saya menaruh tali yang dibawa, dan meneruskan perjalanan hingga atap menara.

Dan ternyata, saya bisa menggapai menara. Angin yang begitu besar, sangat besar, langsung menerpa saya seperti mengucapkan selamat datang di ketinggian bumi. Atap menara Salman sebenarnya cukup menyeramkan. Luasnya hanya 1,5 x 1,5 meter dan hanya berlapis keramik berwarna putih. Di sebelah utara dan timurnya, terdapat tembok setinggi satu meter. Sedangkan di bagian barat dan timurnya, benar-benar tanpa pembatas.

Saya langsung duduk tanpa daya sambil memegang penangkal listrik yang tertancap di tengah-tengah atap menara. Cukup kuat dan tidak goyang, sehingga saya sedikit merasa yakin bahwa saya aman di atas sini. Dengan lenggangnya, seekor merpati terbang dengan enaknya 2 meter di atas saya. Saat itu, saya hanya mampu mencaci-maki sang merpati lantaran begitu mudahnya dia bermain-main di ketinggian, sedangkan saya harus mati-matian melawan ketakutan ini.

Saat itu, saya benar-benar kecil. Tak jarang kalimat Allahuakbar dan Subhanallah, keluar dari mulut saya mencerminkan ketakutan ini membuat saya benar-benar tak berdaya dan membutuhkan Tuhan.

Mulai bisa berdiri dan tersenyum di atap menara. Padahal anginnya cukup kencang dan besar.

Mulai bisa berdiri dan tersenyum di atap menara. Padahal anginnya cukup kencang dan besar.

Sembari menenangkan pikiran, saya mengobrol dengan Sandro. Ternyata, dia mengalami hal serupa dengan saya, merasa sangat takut ketika berada di atas gedung. Namun, dia berhasil melawan ketakutan itu. Apa yang dibilang Sandro, benar-benar menginspirasi saya untuk mulai belajar berdiri di atas menara. Angin yang semakin besar, saya coba lawan. Rasa takut ketinggian, saya coba redam dengan sesekali nekad melihat ke bawah. Akhirnya, saya bisa nyengir juga sambil berfoto di atas menara. Huf, perjuangan yang sangat berat bagi saya saat itu.

Tiga puluh menit kemudian, rekan-rekan lainnya tiba di atap. Lantaran hanya muat untuk 4 orang, saya mengalah dan berdiam diri satu lantai di bawah atap menara. Irfan juga baru tiba. Dia berdiam diri di seberang saya. Di antara kami, menganga lubang selebar 1 meter tempat tangga berhubungan satu sama lain. Sedangkan satu lantai di bawah kami, Anis dengan senyum malu-malunya, kalem berdiri sembari sesekali terlibat berbincang-bincang dengan saya dan Irfan.

Kami menunggu tali selesai dipasangkan. Saya dan Irfan berbagi ketakutan dan pengalaman menuruni menara dengan rappelling. Ini adalah kali kedua Irfan rappelling dan dia ingin mencoba “melompat-lompat” ketika turun nanti. Ah, saya tidak tahu apa nama teknik yang akan dia gunakan. Pastinya, teknik “melompat-lompat” cukup enak didengar dan diingat oleh saya.

Begitu tali siap untuk dituruni, Irfan langsung mengajukan diri menuruni menara pertama. Sembari dia bersiap di ujung lubang, saya menyeberang ke tempat Irfan duduk sebelumnya sambil memasangkan carabiner di harness yang melilit tubuh. Namun, ketika bersiap menuruni menara, kang Awang memperingatkan saya untuk mengencangkan harness saya. Akhirnya, Tri mendahului saya untuk turun dan saya berikutnya.

Tepat waktu maghrib, adzan berbunyi di speaker masjid yang jaraknya kurang dari 1 meter di hadapan saya. Sambil menunggu adzan selesai berkumandang, saya bersiap-siap memasukan carabiner ke harness saya sembari melepas ketegangan. Kali ini, saya sudah mampu menguasai diri saya dari ketakutan akan ketinggian yang awalnya menghantui saya.

Saya sudah tersenyum dengan senang. Bukan karena bisa turun, tapi karena saya percaya apa yang saya pegang.

Saya sudah tersenyum dengan senang. Bukan karena bisa turun, tapi karena saya percaya apa yang saya pegang.

Selesai adzan, dengan dibantu Muhsin, saya menuju tempat penurunan. Mengerikan sekali. Terutama ketika harus jongkok untuk posisi awal. Namun, tiba-tiba dalam diri saya menagih janji perkataan saya dulu yang tidak akan takut ketinggian bila saya terikat dengan tali. Saya akhirnya mencoba membuktikan perkataan itu sembari berusaha melihat ke bawah.

Benar saja, saya tidak merasakan takut. Ketika mulai menuruni menara, saya merasa amat sangat percaya diri. Ketakutan itu sudah lewat digantikan oleh rasa senang lantaran saya bisa mencoba rappelling. Sebuah pengalaman yang sangat impikan sejak lama guna mengakomodir kegemaran saya dalam hal manjat memanjat.

Meskipun begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian tersebut, terlebih lagi tentang perjuangan dalam menghadapi hidup.

Hidup, terkadang sulit. Bahkan, bisa teramat sulit. Ketika kita mulai menapaki kehidupan, tak jarang kita akan merasa tidak mampu dan ingin rasanya menyerah pada keadaan. Padahal, titik final kehidupan dan kebahagiaan, sudah ada di depan mata. Namun, kita hanya melihat bahwa kita ada dalam kesulitan, bukan melihat pada apa yang sudah ada di depan kita. Jangan terlalu banyak lihat ke belakang, karena itu salah satu hal yang membuat kita sulit melewati cobaan.

Pelajaran lainnya, kita akan lebih tenang ketika memiliki pegangan. Ketika kita percaya dengan pegangan tersebut, kita tidak akan takut terjatuh. Perasaan kita akan senang dan menikmati apa yang sedang kita jalani. Padahal, apa yang sedang kita lakukan, sebenarnya adalah hal yang berbahaya dan mengancam hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s