Dr. Thomas Djamaluddin: Menuju Penyatuan Penanggalan Islam di Indonesia


Berbicara mengenai penanggalan dalam Islam, tentunya tak lepas dari pengamatan satelit Bumi, Bulan. Fase-fase yang terjadi selama Bulan mengitari Bumi, menjadi rujukan bagi umat Islam dalam menentukan hari-hari penting keagamaan, seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan tahun baru penanggalan Islam.

Namun, tak serta merta seluruh umat Islam di Indonesia memiliki persepsi yang sama dalam penentuan penanggalan Islam. Bahkan, Idul Fitri beberapa tahun belakang ini, seringkali berbeda antar satu daerah dan daerah lainnya.

Banyak pihak menyayangkan perbedaan penanggalan Islam di Indonesia. Meskipun begitu, beberapa pihak berusaha mempertemukan pihak-pihak yang memiliki perbedaan penentuan penanggalan Islam, agar memiliki pemahaman yang sama dalam penentuan penanggalan Islam.

Adalah Thomas Djamaluddin, astronom sekaligus Anggota Badan Hisab Rukyat, yang berusaha menyatukan penanggalan Islam di Indonesia. Putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, wanita asal Cirebon ini, dilahirkan di Purwokerto pada 23 Januari 1962.

Thomas menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Cirebon sejak 1965. Memulai pendidikan dasarnya di SD Negeri Kejaksaan 1 Cirebon dan SMP Negeri 1 Cirebon. Sejak kecil, pria yang hobi menulis dan membaca ini, bercita-cita menjadi seorang peneliti. Saat itu, Thomas masih belum tahu bidang apa yang dia ingin tekuni. Bahkan sempat Thomas berpikiran menjadi peneliti tanaman lantaran ketertariakannya pada dunia tumbuh-tumbuhan.

Namun, perkenalannya dengan majalah Megatronika dan Scienty yang banyak membahas mengenai UFO, merubah ketertarikan Thomas ke bidang antariksa. Terlebih lagi setelah melanjutkan ke SMAN 2 Cirebon. Di perpustakaan sekolah, Thomas menemukan banyak buku ensiklopedia Amerika yang bercerita seputar UFO dan fenomena antariksa lainnya.

Semakin sering membaca, semakin menumbuhkan rasa keingintahuan Thomas akan astronomi. Bahkan, terbesit dalam benak Thomas untuk mengkajinya dari sudut pandang agama. Ditunjang oleh hobi menulisnya, akhirnya tulisan Thomas berjudul “UFO, Bagaimana Menurut Agama?” dimuat di majalah Scienty. Tak hanya itu saja. Momen ini pun membuat Thomas yakin untuk menjadi peneliti di bidang Astronomi.

Berkiprah di Astronomi

Ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, Thomas mendapat tawaran Proyek Perintis 2, yang saat ini dikenal dengan istilah Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Ketika itu, ITB baru pertama kali menawarkan program tersebut.

Dari sekian banyak jurusan yang ditawarkan, astronomi termasuk di dalamnya. Dengan mantap dan penuh keyakinan, Thomas pun melamar ke jurusan tersebut dan diterima. Dari fase inilah kehidupan Thomas sebagai mahasiswa Astronomi ITB, dimulai.

Hal pertama yang ingin di jawab Thomas ketika menjadi mahasiswa astronomi, adalah makna surat An-Nur dengan latar belakang aqidah. “Saya ingin membuktikan ada satu ayat di dalam Al-quran tentang surat An-Nur , terkait cahaya”, jelas Thomas ringkas.

“Konsep tentang cahaya yang digambarkan (surat An-Nur) itu adalah cahaya Allah. Bahwa Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Pemahaman dari segi metafisiknya mendalam sekali. Tapi saya melihat dari aspek sainsnya bahwa di sana (surat An-Nur), (ketika) bagaimana cahaya menjadi sumber informasi bagi alam semesta, itu (adalah) menarik sekali,” sambung Thomas kagum.

Ketertarikan Thomas dalam bidang astronomi, membuatnya ingin menjadi dosen. Namun, ternyata tawaran tersebut tak kunjung datang. Atas informasi dari temannya, Thomas pun melamar ke Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan harapan akan dikuliahkan S2.

Ternyata, benar saja. Tahun 1988 hingga 1994, Thomas pun memperoleh kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 di Department of Astronomy, Kyoto University, Jepang.

Selama di Negeri Sakura, Thomas aktif sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J). Tak hanya itu saja. Thomas pun dipercaya sebagai sekretaris di Kyoto Muslims Association dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang.

Atas pertanyaan-pertanyaan mahasiswa muslim di Jepang terkait penentuan awal bulan Islam di daerah selain Tokyo dan Kobe, maka dibuatkanlah program jadwal sholat untuk seluruh kota besar di Jepang pada 1993-1994. Maklum, ketika itu hanya 2 kota tersebut yang jadi sumber penentuan jadwal sholat di Jepang. Lebih dari itu. Thomas pun menulis buku terkait makanan halal-haram, panduan sebagai muslim, dan jadwal sholat di kota-kota besar di Jepang melalui buku “Guide for Muslim in Japan”.

Saat ini, suami dari Erni Riz Susilawati ini, tercatat sebagai peneliti Astronomi dan Astrofisika di LAPAN. Di lembaga yang sama pula, beliau juga dipercaya sebagai Kepala Pusat Sains Atmosfir setelah sebelumnya memangku jabatan sebagai Kepala Unit Komputer Induk dan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa.

Salman dan Angka 13

Aktivitas Thomas di Masjid Salman ITB diakuinya tak lepas dari angka 13. Di tahun pertama kuliahnya di ITB, beliau memilih Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (Karisma) ITB sebagai tempat mendidik mental berorganisasinya. Ketika itu, Thomas ingat betul bahwa dirinya mendaftarkan diri sebagai anggota pada tanggal 13 September 1981.

Namun, Thomas malah diangkat sebagai Mentor Karisma. Tak tanggung-tanggung, dirinya langsung diamanahi memegang grup campuran. Ketika ada pemecahan grup sesuai jenjang sekolah pun, Thomas masih diamanahi untuk memegang grup di tingkat SMP, SMA, dan mahasiswa.

Selain aktif sebagai mentor, Thomas pun ikut menjadi bagian tim pembuatan materi buku mentoring Karisma ITB. Dalam tim tersebut, dia aktif sebagai penulis buku mentoring dengan judul Membina Masjid, Doa dan Ibadah, dan Masyarakat Islam.

Thomas tercatat aktif di Karisma selama 13 semester sejak tahun pertama kuliah hingga bekerja di LAPAN. Namun, dirinya harus melepaskan jabatannya di Karisma lantaran harus berangkat tugas belajar program S2 di Jepang. Tanggal pengunduran dirinya pun masih Thomas ingat betul, yaitu 13 Maret 1988. Lagi-lagi berkaitan dengan angka 13. “Tapi anak cukup tiga saja. Tidak mau tiga belas,” canda Thomas.

Sepulangnya dari Jepang, Thomas kembali aktif di Masjid Salman ITB. Dia kerap terlihat mengisi ceramah-ceramah di Salman. Tak hanya itu saja. Thomas pun dipercaya menjadi pengurus Masjid Salman ITB sebagai wakil ketua Lembaga Pengkajian Islam (LPI) Salman ITB, mendampingi Moedji Raharto selaku ketua yang merupakan astronomer di ITB juga.

Ilmu Pengetahuan untuk Agama

Menyadari adanya keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama, sedari mahasiswa Thomas giat melakukan pengkajian ilmu pengetahuan dan agama. Tak hanya itu saja. Thomas pun memiliki keinginan yang cukup besar memasyarakatkan astronomi untuk ibadah.

“Salah satu cara populerisasi astronomi adalah mendekatkan astronomi dengan kehidupan sehari-hari. Dan ibadah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak dapat dipisahkan (dari masyarakat),” ungkap Thomas. Dirinya juga berpendapat bahwa sisi aqidah, ingin dilakukannya secara professional sehingga menjadi bagian yang integral dengan keimanannya.

Guna mewujudkan keinginannya itu, Thomas pun berusaha melengkapi ilmu agamanya. Berbekal pengetahuan dasar Islam yang diperolehnya dari sekolah agama setingkat Ibtidaiyah yang dilengkapi dengan aktivitasnya di masjid Salman selama kuliah, membuat Thomas lebih mudah mempelajari Islam secara autodidak dari membaca buku serta menyelarasakannya dengan astronomi.

Melalui hobi menulisnya, Thomas pun mulai mengutarakan pemikirannya terkait astronomi dan agama, melalui media tulis di media massa cetak. Hal ini membawa pria yang gemar bersepeda ke kantor ini, dikenal banyak orang, termasuk oleh Departemen Agama dan Badan Hisab Rukyat. Tak hanya itu saja. Thomas pun akhirnya diajak bergabung.

Sebelumnya Thomas memang sering memberikan masukan mengenai penanggalan Islam kepada badan terkait. Thomas pun berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai perbedaan-perbedaan yang terjadi. Maka, tak heran ketika terbentuk Badan Hisab Rukyat Jawa Barat, ia pun ikut bergabung sebagai anggota tim pengkajian Hisab Rukyat.

Ketertarikannya di bidang Hisab Rukyat, dilatarbelakangi pemahamannya dari sisi astronomi dan sisi syariah. Menurutnya, menyamakan persepsi secara keseluruhan memang sulit, lantaran terkait dengan dalil-dalil dan keyakinan masyarakat tentang penanggalan Islam yang berbeda-beda. Meskipun begitu, dirinya yakin bisa dicarikan titik temu perbedaan tersebut.

Saat ini, Thomas sedang mengupayakan masyarakat untuk paham dan menjadikan astronomi sebagai solusi guna mencapai titik temu dalam penyeragaman penanggalan Islam di Indonesia. Hal-hal yang menimbukan perbedaan di masyarakat terkait penentuan hari raya, sudah mulai ditemukan titik temunya melalui persamaan kriteria pada Hisab Rukyat. Mudah-mudahan, di masa yang akan datang, umat Islam di Indonesia, dapat menjalankan awal Ramadhan, menjalankan Idul Fitri dan Idul Adha, secara bersama-sama. Semoga.

yudh on SalmanNews

Iklan

One thought on “Dr. Thomas Djamaluddin: Menuju Penyatuan Penanggalan Islam di Indonesia

  1. rumah impian eros berkata:

    wah selamat ya. jadi salah satu pemenang kontes review alnect computer. meskipun belum mendapatkan hadiah sesuai harapan setidaknya dari kemenangan ini bisa menjadi penyemangat, menjadi pembakar, menjadi cambuk untuk meningkatkan kreatifitas dan kualitas tulisan/review. untuk menghadapi kontes alnect ke2 atau kontes review lainnya. tetap semangat ya.. jangan pernah putus asa..

    ditunggu komentar berkualitasnya dalam tulisan ‘Rumah Impian…’.cheers..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s