Maknai Cinta, GIM Luncurkan Malam Puisi Cinta


Boni, begitu panggilannya, seorang gadis kecil berkacamata yang saat ini masih duduk di kelas 3 SD. Sabtu malam, 18 Juli 2009 lalu, dia berdiri di hadapan skitar 70 orang penonton yang duduk lesehan memadati salah satu ruangan Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung.

Berbalut kemeja putih dan celana jeans biru, tatapannya begitu tajam menghujam hadirin yang usianya jauh lebih tua dari Boni. “Selamat datang di dunia cinta,” begitu sapanya ketika mulai mendeklamasikan puisi.

Boni adalah salah satu dari 20 orang pembaca puisi yang malam itu membacakan puisinya di helaran Malam Puisi Cinta. Kegiatan yang dihadiri oleh penyair-penyair dari Jakarta dan Jawa Barat ini, diisi dengan kegiatan berbagi dan bercerita tentang romantisme cinta melalui puisi. Tak hanya melulu tentang keindahannya, puisi yang dibawakan pun tak jarang mempertanyakan hakikat cinta dan melihat cinta dari sisi lain kehidupan.

Tak hanya sebatas dibacakan, penyampaian puisi lewat musikalisasi puisi dan aksi teaterikal pun ikut menghiasi kegiatan ini. Sebut saja salah satunya Mukti Mukti. Penyair yang dikenal dengan syair dan liriknya yang menggugah ini, menampilkan beberapa langgamnya yang sudah banyak dikenal orang, seperti Mencari Matahari. Bahkan, bersama Miranda Risang Ayu, Mukti juga membawakan puisi dan lagu yang baru dibuatnya beberapa jam sebelum kegiatan.

Berbeda dengan Mukti, Yusef Muldiyana bersama Laskar Panggung lebih memilih teaterikal puisi untuk menyampaikan pemikirannya tentang cinta. Dikemas dalam sajian yang menarik dan sederhana, Yusef dan kawan-kawan tidak hanya mampu menghibur penonton, tapi juga mengajak mereka untuk kritis dalam mempertanyakan hakikat cinta.

Egaliter

Moch. S Hanief, pengelola GIM, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap sastra di Bandung. Selama ini, mereka banyak berdiskusi melalui situs jejaring sosial. Dari pertemuan di dunia maya itulah, akhirnya mereka sepakat untuk membuat sebuah acara untuk mengapresiasikan karya mereka.

Hanief juga menuturkan bahwa kegiatan ini dikemas secara egaliterian. Menurutnya, hal ini berfungsi sebagai ajang instrospeksi diri karya-karya yang telah dibuat para penyair. Penulis puisi yang sudah mapan, bisa melihat hasil karya dari penulis baru. Selain itu, sistem ini juga memungkinkan siapa saja dapat membaca puisi. Tidak memandang apa profesi mereka dan seberapa senior.

Ke depannya, kegiatan yang diinisiasi oleh GIM dan didukung oleh Majelis Sastra Bandung (MSB), Facebook Women Community (FBWC), dan voiceofbandung.com (VOB) ini, akan diselenggarakan berkala dengan tema yang berbeda-beda setiap bulannya. “Bila bulan ini mungkin tentang cinta terhadap manusia, pada bulan Ramadhan nanti mungkin bisa bertema cinta kepada Illahi,” tandas Hanief. (YPS)

yudh on CyberMosque.com

One thought on “Maknai Cinta, GIM Luncurkan Malam Puisi Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s